KEPEKaan Dan Jati DiRi: SEbuaH KuRaSi PuiSi
Wawan Setiawan*
Kepekaan melihat persoalan yang penting dalam kehi- dupan relatif tidak gampang. Dalam proses penemuan tidak mudah, bila sudah ketemu, memperjuangkan temuan- nya juga itu butuh semacam etos. Termasuk para penyairnya
juga kemungkinan mengalami itu.
Penyair sekaliber Chairil Anwar pernah mempertimbangkan sebuah kata yang masuk dalam puisinya butuh waktu sebu- lan. Interaksi dengan kata yang lain itulah persoalannya. Se- hingga dalam hidupnya yang relatif pendek ia hanya meng- hasilkan 70-an puisi. Coba bandingkan dengan Milarepa, penyair Tibet, sudah menulis 2000-an puisi.
Kepekaan estetik macam apa yang dipakainya. Ada lagi ro- mantika yang lain, Jacquest Derida, filsuf dekontrukdi asal Prancis, menulis karya-karyanya mulai usia 60-an dan men-
dunia. Dan meskipun penyair Chairil Anwar berusia relatif pendek, 27 tahun, puisi-puisinya tal habis dibahas sampai sekarang.
Samuel Becket, sastrawan Nobel asal Irlandia yang warga Perancis, dikenal sebagai penulis besar Abad XX, memisahkan rumahnya dan rumah istrinya tentu ini tindakan ekstem; bahkan dalam surat wasiatnya, Becket berpesan kalau kelak dia meninggal, jangan seorangpun ada yang mengantar. Pe- makamannya hanya diantar petugas makam.
Masih ingat kalimat pendek dalam puisi Chairil Anwar, Pe- nyair Binatang Jalang itu, “… dengan cermin pun aku enggan berbagi”. Kalau penyair Li Po suka minum arak dan Sutardji Calzoum Bachri suka menenggak bir saat di panggung, sia- pakah yang salah. Terlalu dangkal pertanyaan itu untuk para pencari kedalaman hidup. Alasannya demi kelancaran pro- ses kreatif. Kritikus Suripan Sadi Hutomo yang perpustakaan pribadinya memajang buku-bukunya dengan tertib, pernah bercerita kepada saya bahwa buku-buku di kamar kerja Budi Darma ditumpuk begitu saja dan berserakan di lantainya. Itulah sejumlah contoh “yang cukup mengejutkan”, menan- tang sistem mapan yang melegitmasi dengan cara masing- masing, dari sejumlah tokoh yang telah membuktikan kepe- kaannya. Entah kepekaan macam apa.
* * *
Dulu dekade 1970-an penyair Joko S. Pasandaran telah men- sponsori penerbitan buku puisi penyair Blambangan seperti yang telah dikerjakan oleh Mas Ahmad Basri dkk. Buku kumpulan puisi yang diperjuangkan Mas Joko itu sekarang entah di mana. Mas Joko cabut ke IKIP Negeri Palangkaraya menjadi Dosen Sastra di sana. Nama-nama yang masuk di buku itu selain dia juga Frans Passandaran, Antony Passan- daran. Diikuti okeh nama-nama Slamet Utomo, Pomo Martadi, Mahawan, Buyung Pramunsyi, Afandi Suryadi, Uun Hariyati, Cipto Abadi, Nirwan Dewanto, Agus Dermawan T dan saya sendiri. Dan, tentu masih ada lagi sejumlah nama yang saya lupa. Sekarang terbit kumpulan puisi serupa yang disponsori Dewan Kesenian Blambangan. Ada sejumlah penyair tampil dengan sejumlah karakteristik puisinya. Ada yang sangat menghemat kata, menuju inti kehidupan atau bergaya prosa yang beragama sosiologis.
Puisi Samsudin Adlawi ini mewakili pencarian jati diri yang relatif sulit dalam rimba jati diri yang mengepungnya.
MALAM
walau hanya setitik, cahaya ini cukup menuntunku menyelami malam paling hitam
/2025/
Salah satu bait puisi Hasan Basri ini menyiratkan menyirat- kan jiwa yang lelah mencari mirip pencarian Rabindranath Tagore dalam “Gitanyali”: pintu-pintu rumahku seluruhnya terbuka janganlah kau lewat laksana impian.
TAK PERLU DITUNGGU
pagar kubongkar pintu jendela kutanggal tamu datanglah!rumahku sudah telanjang masuk, masuklah lewat mana saja kutunggu, tamu tak datang jua
Puisi “Kamboja” Iqbal Baras ini menyajikan mitos pasca kematian (fisik) yang dihadapinya dengan tegas. Ada kontra mitos bahwa serba tak jelas cerita-cerita pasca kematian itu sehingga kebingungan menguasainya.
KAMBOJA
Kamboja kutanam di halaman rumah Biar sesak maut itu terus mendesak di dada
Menderas
Dan menegas tebas
Puisi Fatah Yasin Noor ini menampilkan interaksi antardua
tokoh yang sama-sama saling mencari. Renungan-renungan
di tempat minum kopi menjadi sarana pencarian masing- masing jati diri. Masih ingat kursi novelis James Joies untuk ngopi dan menulis di sebuah kafe di Paris diwariskan kepada Samuel Becket, muridnya. Dan keduanya dapat Nobel.
UAP KOPI
Sebentar, aku periksa dulu rindumu Kangen yang katanya meletup di uap kopi Menari di awang kelabu
Aku tak pernah bertanya untuk apa Rindumu yang kau lungsurkan Terpatri di bahasa tubuh
Dan dari tajam matamu Kutemukan kedalaman sepi Terlalu rumit diterjemahkan
Penyair Syafaat berbicara cinta yang terikat oleh ruang dan waktu. Pada petikan baris-barus ini terasa begitu terjebaknya dua jenis waktu; waktu fisik yang berhubungan dengan ber- edarnya matahari dan waktu psikologis yaitu jarak antara ide dan tindakan. Keduanya menghasilkan begitu banyak persepsi dan obsesi.
Aku duduk di antara bayang-bayang waktu yang tak pernah menoleh ke belakang. Segala hal berjalan seperti matahari, meninggalkan fajar dan menggenggam senja, tanpa bertanya apakah aku siap untuk kehilangan.
Puisi S A W. Notodiharjo ini mengupas frasa yang kurang disukai karena maknanya berat yaitu “semoga sukses”. Rela- tivitas “makna sukses” tetap membebani individu yang tak pernah diam. Teringat ucapan Hasnan Singodimayan bah- wa elang di kota besar dan elang di kota kecil sama sajalah esensinya, objek garapannya yang mungkin beda. Penjaja- han mental dalam frasa ini jarang dijelaskan
MENJADI PER-PISAH-AN
Selamat tinggal kepada bangku-meja sebelum kalian duduk di tubuh kalian sendiri padahal kelas itu paling benci dengan kata “semoga sukses”
Puisi Viefa ini mewakili geografi Banyuwangi yang diapit gu- nung dan lautan. Warga lautan tentu memiliki sensitivitas tersendiri pada karakter air. Dan, religiusitas laut menjadi percakapan dialogis antara manusia dan alam.
ANAK-ANAK LAUTAN
Para lelaki membujuk buih lautan Dikunyah setiap deras alur kehidupan Layar terkembang Ikuti arus
Ke mana Tuhan membawamu pada tanah perlindung
Puisi Nanik Asiani yang bahasanya cenderung cair ini menu- lis puisi berjudul “Jodoh Kecilku” mengisahkan perjodohan dengan teman masa kecilnya. Puisi ini dipersembahkan ke- pada saudaranya, Wiwik dan Mulyono yang berada di Aus- tralia. Ada ilustrasi perjuangan warga dari kota kecil untuk pendidikan sampai ke Istana Merdeka.
JODOH KECILKU
Banyuwangi
Kota kecil seberang selat Bali Tempat aku dilahirkan Tempat aku dibesarkan Kutinggalkan demi pendidikan
Ke ibukota tempat Istana Merdeka
Salah satu puisi Nurul Ludfia Rochma yang berjudul “Kota yang Mengingat Kita Diam-Diam” berucap dalam salah satu baitnya yang memoris. Indahnya kenangan muncul dalam pertemuan makan bersama. Sedang makhluk manis yang
KOTA YANG MENGINGAT KITA DIAM-DIAM
Aroma bumbu mengepul, uap mesin waktu,meminta kita duduk lebih lama, berbincang dengan kenangan yang disembunyikan di bawah bantal, melupakan waktu yang terus menggelinding. Kita kembali ke masa ketika langit tak pernah mengancam dengan hujan.
Demikian juga salah satu puisi Mutafaqur Rohmah yang ber- judul “Seorang Bernama” tentang psikologi keraguan antar- hubungan. Kenyanyakan orang mengalami konflik antar- hubungan disebabkan strata sosial, struktural, atau ekono- mi. Banyak yang menemukan jalan keluar, meski tak sedikit yang menemukan jalan buntu.
SEORANG BERNAMA
dalam biru yang dicatat
pada suatu waktu di hari yang datang lambat sebuah alamat
dikirimkan sebuah surat tanpa amplop pembungkus, semuanya berwarna abuabu pucat
tanpa pengikat tapi teringat
surat itu untukmu seorang yang bernama
Penyair Ayung Notonegoro menyajikan puisi-puisi religi an- tara lain yang berjudul “Pesan dari Sebrang” yang mengisah- kan kepatuhan seorang murid kepada gurunya. Murid studi agama ke Mekah atas perintah gurunya. Di sana tujuh tahun. Setelah itu Sang Guru memintanya untuk kembali meng- abdi Ibu Pertiwi. Tampaknya puisi ini mengisahkan Ki Saleh Lateng. Spesialisasinya Ilmu Fiqih.
PESAN DARI SEBRANG
Pesan dari sebrang datang kembali Memintanya pulang mengabdi Lateng Banyuwangi menjadi saksi Iman dan ilmu tercurah pada pertiwi.
NB.
Kisah Kiai Saleh Lateng yang mendapat pesan dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan, untuk melanjutkan studinya di- Mekkah selama tujuh tahun lamanya untuk menyempurna- kan ilmunya, khususnya di bidang Fiqih.
Demikian petikan sejumlah puisi dari sebelas penyair Banyu- wangi yang terkumpul dalam bentuk buku yang segera terbit ini. Sejumlah kritikus sepakat bahwa penulis-penulis Indone- sia kebanyakan bernapas pendek. Ada beberapa penyebab
a.l. tradisi baca, kurikulum yang kurang mendukung, harga
anggapan bahwa para sastrawan Infonesia kebanyakan ber- napas pendek. •
* Akademisi, Dosen, dan Sastrawan, Penerima Apresiasi 50 Tahun Berkarya dalam Bidang Kesastraan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
