Selarik Pengantar
aPi PuiSi DaRi banyuwangi
Wayan Jengki Sunarta
Buku antologi puisi ini hadir sebagai penanda penting perjalanan kesusastraan di Banyuwangi. Tidak sekadar menghimpun karya sejumlah penyair Banyuwangi, buku ini juga merekam gerak zaman, mengguratkan suara batin, dan memperlihatkan arah perkembangan puisi modern di wilayah yang kaya tradisi ini. Banyuwangi adalah sebuah kawasan yang dulu bernama Blambangan. Kawasan itu sejak lama menjadi persilangan budaya, spiritualitas, dan sejarah panjang manusia di pesisir ujung timur Pulau Jawa. Selain alamnya yang memesona, Banyuwangi yang terkenal dengan suku Osing-nya merangkum kedalaman nilai-nilai spiritual dan sosial yang hidup di tengah masyarakatnya. Di antara pantai, sawah, gunung, dan muara, tersimpan jejak mitos, ritus, dan doa yang terus menghidupi imajinasi. Dari tanah yang subur ini, kata-kata tumbuh menjadi puisi, menyerap
suara laut, bunyi gamelan, gerak tari, serta napas kehidupan
sehari-hari.
Antologi ini menjadi bukti bahwa puisi tidak hanya tum- buh di pusat-pusat kota besar, tetapi juga di pinggiran yang memiliki akar kebudayaan yang kokoh. Banyuwangi dengan identitas khasnya sebagai ruang pertemuan antara beragam etnis menghadirkan sisi puitik yang unik. Para penyairnya menulis dari tepian, tetapi pandangan mereka menjangkau ke hal lebih luas. Mereka berpijak di lokalitas, namun bertu- tur dengan rasa kemanusiaan yang universal.
Puisi-puisi dalam antologi ini memperlihatkan keberagaman pengalaman batin dan sosial para penyair Banyuwangi ter- kini. Ada puisi yang lahir dari kesunyian spiritual, dari re- nungan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, dengan alam, dan dengan dirinya sendiri. Ada yang memancarkan keresahan sosial, tentang kemiskinan, ketimpangan, dan pergulatan kemanusiaan di tengah modernitas yang kian cepat. Ada pula yang muncul dari permainan bahasa dan bentuk, mencoba menemukan cara baru untuk menulis, merayakan kebebasan berimajinasi tanpa batas-batas kon- vensional.
Beragam kecenderungan itu menandai dinamika khas puisi- puisi dalam buku ini. Puisi-puisi tersebut tidak sekadar me- muja keindahan alam atau nostalgia terhadap masa lalu. Di
dalamnya juga terkandung renungan atas perubahan zaman dan kesadaran diri. Di tangan para penyair Banyuwangi, kata menjadi jalan untuk menyelami makna hidup, meneguhkan iman, mengkritik ketimpangan, dan menata kembali hubu- ngan manusia dengan semesta.
Dalam peta kesusastraan Indonesia di Jawa Timur, Banyu- wangi berupaya mencari posisi yang tepat. Jika Surabaya dan Malang dikenal sebagai ruang urban dengan intensitas sosial-politik yang kuat, maka Banyuwangi menghadirkan wajah lain, yakni spiritualitas yang bersenyawa dengan alam dan tradisi.
Kecenderungan puisi-puisi dalam buku ini adalah upaya meramu budaya lokal, kesadaran ekologis, dan sensibilitas sosial dalam satu tarikan napas puitik. Puisi-puisi tersebut tidak hanya berbicara tentang kesunyian, tetapi juga tentang perjuangan. Tidak hanya bicara tentang laut dan gunung, tetapi juga tentang waktu dan manusia. Tidak hanya tentang Tuhan, tetapi juga tentang dunia yang kacau.
Di tengah arus globalisasi dan teknologi, para penyair Banyu- wangi meneguhkan diri untuk menulis dari akar, dari tanah kelahiran dan alam yang mereka kenali. Hal ini menjadikan puisi-puisi tersebut bukan nostalgia masa lalu, melainkan strategi kebudayaan yang menjaga keseimbangan antara tra- disionalitas dan modernitas. Buku ini hadir sebagai bentuk
pernyataan sekaligus afirmasi bahwa kawasan pinggiran pun
memiliki cahaya api sastranya sendiri.
Antologi ini selain merangkum keberagaman estetika, juga merepresentasikan kesadaran kolektif akan identitas dan tanggung jawab kultural. Puisi-puisi yang terhimpun di sini memperlihatkan bahwa Banyuwangi bukan sekadar wilayah geografis, tetapi juga laku spiritual, sikap estetik, dan cara memahami dunia.
Lahirnya antologi ini tidak terlepas dari peran Komite Ba- hasa dan Sastra Dewan Kesenian Blambangan sebagai ru- ang pertemuan ide, pembelajaran, dan kolaborasi. Komite ini menjadi rumah bagi para penyair dan penulis yang ingin tumbuh bersama, saling belajar, dan menjaga keberlanju- tan tradisi menulis di Banyuwangi. Kegiatan-kegiatan li- terasi, diskusi, penerbitan, serta pertemuan sastra yang di- gagas komite telah membuka jalan bagi regenerasi penyair muda. Dari ruang ini, banyak suara baru muncul dengan semangat berbeda, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai ke- manusiaan dan kebudayaan lokal. Antologi ini adalah hasil dari pertemuan semangat itu, pertemuan antara tradisi dan modernitas, antara individualitas dan kebersamaan, antara pencarian dan peneguhan jati diri.
Antologi ini juga merupakan catatan sejarah, jejak waktu dari komunitas sastra yang tumbuh dengan kesadaran lokal yang
kuat, tetapi tetap terbuka pada wacana global. Di sinilah kita melihat bahwa Banyuwangi bukan sekadar nama tempat, melainkan roh kebudayaan yang terus hidup di dalam diri para penulisnya.
Puisi bagi para penyair yang tergabung dalam buku ini bukan hanya bentuk estetika, tetapi juga cara hidup. Puisi tumbuh dari kesadaran yang intim terhadap alam dan Tuhan, ter- hadap masyarakat dan bahasa. Di antara kabut Ijen, semilir angin pesisir Watu Dodol, atau kesunyian Muara Mbaduk, penyair menemukan metafora kehidupan. Puisi menjadi jalan untuk memahami semesta, untuk mengingat bahwa kata dapat menjadi doa, cinta dapat menjadi zikir, dan ba- hasa dapat menjadi jembatan antara sesama manusia.
Dalam konteks itu, antologi ini dapat dibaca sebagai mo- saik spiritual dan sosial masyarakat Banyuwangi hari ini. Ia mencerminkan pergulatan manusia yang terus mencari ke- seimbangan antara dunia yang fana dan harapan akan ke- abadian. Di dalamnya terekam ketegangan antara tradisi dan modernitas, antara religiusitas dan skeptisisme, antara ke- terikatan dengan tanah kelahiran dan keinginan untuk men- jelajahi dunia luas.
Buku ini adalah bukti bahwa sastra masih menjadi ruang yang hidup di Banyuwangi. Di tengah derasnya arus digital dan budaya instan, para penyair ini memilih jalan kata, jalan
yang sunyi, tetapi penuh daya tahan. Mereka menulis bukan sekadar untuk estetika, tetapi untuk menyelamatkan makna. Bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk mengingatkan sesama.
Buku ini adalah pintu bagi pembaca untuk menelusuri per- kembangan puisi dari tanah ujung timur Jawa, tanah yang dalam setiap napasnya menyimpan doa, cinta, dan sejarah. Melalui puisi, Banyuwangi berbicara. Melalui antologi ini, suara itu diabadikan. Semoga kehadiran buku ini bisa menjadi inspirasi dan pengingat bahwa dari Banyuwangi cahaya api puisi selalu menyala penuh warna. •
*penulis adalah penyair, menetap di Bali.
