BANYUWANGI, (Lentera Sastra) Aula Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB), Ahad (10/5/2026), menjelma ruang perjumpaan yang hangat antara dakwah, ilmu, dan persaudaraan. Dalam rangka menyambut Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU, lomba dai’yah, cerdas cermat, dan paduan suara digelar dengan penuh semarak, menghadirkan kader-kader Muslimat NU dari 25 anak cabang se-Kabupaten Banyuwangi.
Tak hanya para peserta yang memenuhi ruang perlombaan dengan semangat, para suporter dari Muslimat NU anak cabang turut hadir membawa gema dukungan dan kekeluargaan. Tepuk tangan, lantunan yel-yel, serta wajah-wajah penuh harap menjadikan kegiatan itu bukan sekadar perlombaan, melainkan perayaan ukhuwah yang hidup dan mengakar.
Di antara rangkaian acara, lomba dai’yah menjadi salah satu panggung yang paling menyita perhatian. Kata-kata dakwah mengalir dari bibir para peserta, menghadirkan pesan keislaman dengan kelembutan dan keteduhan khas perempuan NU. Untuk menilai penampilan para peserta, panitia menghadirkan dewan juri yang memiliki pengalaman di bidang dakwah dan literasi, yakni Syafaat dari Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang juga Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, kemudian Muh. Fauzan Anshori dari KUA Srono yang dikenal sebagai dai nasional, serta Anis Muyasaroh, guru MAN 4 Banyuwangi sekaligus pembina LPTQ Kabupaten Banyuwangi.
Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, Achmad Turmudzi, dalam sambutan pembukaan mengingatkan bahwa berkhidmat di Nahdlatul Ulama bukan semata tentang jabatan dan peran organisasi, melainkan tentang menanam keberkahan dalam setiap langkah pengabdian.
“Dalam organisasi tentu ada dinamika. Namun selama masih ada semangat kebersamaan, organisasi itu tetap hidup dan memiliki kekuatan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua PC Muslimat NU Banyuwangi, Hj. Istianah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa setiap anak cabang Muslimat NU menyimpan potensi besar yang perlu dirawat dan diberi ruang untuk tumbuh, terlebih mereka merupakan pendakwah di wilayahnya yang perlu ditambah wawasannya dalam bentuk lomba.
Menurutnya, kegiatan harlah bukan hanya seremoni tahunan, tetapi juga ikhtiar melahirkan perempuan-perempuan NU yang tangguh dalam dakwah, lembut dalam pengabdian, dan kuat dalam menjaga nilai-nilai keislaman serta kebangsaan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi, Desi Prakasiwi, Camat Genteng Satriyo, serta Ketua MWN-NU Kecamatan Genteng yang memberikan dukungan terhadap kiprah Muslimat NU dalam membangun kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Di usia ke-80, Muslimat NU seakan kembali menegaskan bahwa perempuan bukan hanya penjaga rumah tangga, tetapi juga penjaga nilai, peneduh masyarakat, dan penyambung cahaya dakwah dari generasi ke generasi. Di tengah lantunan paduan suara dan riuh tepuk tangan para kader, harlah itu menjadi penanda bahwa semangat pengabdian perempuan NU tetap menyala, setia merawat tradisi sekaligus menjemput masa depan. (syaf)
