BANYUWANGI (Lentera Sastra) Malam di Taman Blambangan menjelma seperti halaman besar kebudayaan. Di bawah langit yang teduh dan cahaya lampu yang menari di antara pepohonan, ribuan warga memadati ruang terbuka itu untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit yang digelar Polresta Banyuwangi dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80, Sabtu (13/6) malam.
Suara gamelan mengalun perlahan, menyatu dengan desir angin malam. Dari balik kelir, kisah “Pandawa Mbangun Praja” dituturkan oleh Ki MPP Bayu Aji. Lakon tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan cermin nilai-nilai kepemimpinan, pengabdian, dan perjuangan menegakkan keadilan demi kesejahteraan masyarakat.
Pagelaran budaya itu turut dihadiri Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Wakil Bupati Mujiono, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan, Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara, jajaran Forkopimda, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto menegaskan bahwa peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi untuk memperkuat pengabdian Polri kepada masyarakat.
Menurutnya, tokoh-tokoh Pandawa dalam kisah pewayangan menggambarkan karakter pelindung dan pengayom yang senantiasa berpihak kepada kebenaran. Nilai-nilai tersebut selaras dengan semangat Polri yang terus berupaya hadir memberikan perlindungan, pelayanan, dan rasa aman bagi masyarakat.
“Polri terus membangun dan memperbaiki diri melalui tema besar Polri untuk Masyarakat. Sosok Pandawa merupakan representasi pelindung dan pengayom masyarakat yang rela berkorban demi tegaknya kebenaran dan keadilan,” ujar Nanang.
Ia menambahkan, seluruh anggota Polri harus senantiasa hadir di tengah masyarakat, mencegah berbagai bentuk kejahatan dan ketidakadilan, sekaligus menjadi teladan dalam memberikan pelayanan yang profesional dan humanis.
Lebih jauh, Nanang menyebut pesan-pesan yang terkandung dalam lakon Pandawa Mbangun Praja sejalan dengan semangat Jogo Jawa Timur, yakni membangun sinergi antara aparat keamanan, ulama, umara, dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan serta ketenteraman daerah.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi langkah Polresta Banyuwangi yang menghadirkan pertunjukan budaya sebagai bagian dari peringatan Hari Bhayangkara. Menurutnya, wayang kulit merupakan warisan peradaban yang menyimpan banyak pelajaran tentang moralitas, persatuan, dan kebijaksanaan hidup.
“Pagelaran budaya seperti ini penting untuk terus dilestarikan. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, juga menjadi sarana memperkuat persatuan dan menjaga warisan budaya bangsa,” kata Ipuk.
Ia menegaskan bahwa Banyuwangi selama ini tumbuh sebagai daerah yang menjunjung tinggi keberagaman dan kerukunan. Karena itu, semangat gotong royong dan kebersamaan harus terus dirawat sebagai fondasi menjaga daerah tetap aman dan damai.
Malam pun terus bergulir. Kelir wayang tetap bercahaya, sementara ribuan pasang mata bertahan hingga larut untuk mengikuti kisah yang mengalir dari zaman ke zaman. Di tengah arus modernitas yang bergerak cepat, pagelaran tersebut seakan mengingatkan bahwa budaya masih memiliki ruang terhormat di hati masyarakat.
Melalui pagelaran wayang kulit ini, Polresta Banyuwangi tidak hanya memperingati Hari Bhayangkara ke-80, tetapi juga meneguhkan ikhtiar mendekatkan diri kepada masyarakat melalui bahasa budaya yang lembut, penuh makna, dan menyentuh kesadaran bersama tentang pentingnya keadilan, persatuan, serta pengabdian bagi negeri. (syaf)
