Nahdlatul Ulama tidak pernah dibangun di atas jalan yang sepenuhnya tenang. Sejak kelahirannya, organisasi para ulama ini tumbuh melalui ikhtiar panjang, dinamika pemikiran, serta perjuangan menjaga keseimbangan antara agama, tradisi, dan kebangsaan. Karena itu, setiap fase dalam perjalanan NU selalu menyimpan pelajaran: bahwa organisasi besar tidak diukur dari seberapa sedikit ujiannya, tetapi dari kemampuan melewati ujian tanpa kehilangan arah perjuangan.
Apa yang dialami PCNU Banyuwangi menuju masa khidmat 2026–2031 menjadi refleksi penting tentang bagaimana organisasi menghadapi transisi kepemimpinan. Rentetan masa caretaker, perpanjangan kepengurusan, kekosongan nahkoda organisasi, hingga penetapan definitif selama satu tahun menjadi fase yang tidak ringan bagi warga Nahdliyin.
Situasi seperti itu sering kali menciptakan ruang ketidakpastian. Program berjalan, pengabdian tetap hidup, tetapi ritme organisasi belum menemukan bentuk yang utuh. Banyak pengurus bergerak dengan niat baik, namun arah besar organisasi membutuhkan konsolidasi yang lebih terstruktur.
Dalam kondisi demikian, Islam mengajarkan bahwa kesulitan bukan alasan untuk berhenti melangkah. Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Ayat ini memberi pengharapan bahwa setiap fase sulit selalu menyimpan jalan keluar, selama ada kesungguhan untuk tetap berjalan. Dan tampaknya, semangat itu hadir dalam perjalanan NU Banyuwangi. Konferensi Cabang berlangsung sebagai ruang demokrasi organisasi, tempat aspirasi warga dipertemukan dalam musyawarah. Dinamika terjadi, perbedaan pandangan hadir, namun semuanya tetap berada dalam bingkai ukhuwah Nahdliyah.
Meski demikian, perjalanan pascakonferensi belum sepenuhnya selesai. Proses pengesahan struktural membutuhkan waktu dan kesabaran. Pada titik inilah NU Banyuwangi seakan diingatkan bahwa kekuatan organisasi tidak pernah lahir dari satu figur, melainkan dari kesediaan untuk saling menopang.
Karena NU memiliki satu prinsip penting: kepemimpinan adalah kebersamaan.
Rois Syuriyah dan Tanfidziyah tidak berjalan dalam ruang kompetisi, melainkan ruang saling melengkapi. Keduanya menjadi poros yang menjaga keseimbangan antara kebijaksanaan keulamaan dan tata kelola organisasi. Di saat koordinasi diperkuat dan kolaborasi dikedepankan, perlahan jalan itu terbuka.
Allah SWT mengingatkan:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini seperti menjadi fondasi etik perjalanan organisasi. Bahwa koordinasi bukan sekadar teknis kerja, melainkan ikhtiar membangun kebersamaan dalam kebajikan.
Turunnya Surat Keputusan pengesahan dari PBNU pada akhirnya menjadi peneguh perjalanan tersebut. Namun, SK tidak seharusnya dipahami hanya sebagai akhir dari proses administratif. Lebih dari itu, ia adalah awal dari amanah yang jauh lebih berat: membangun NU Banyuwangi agar lebih tertata, lebih visioner, dan lebih responsif terhadap kebutuhan umat.
Azam PCNU Banyuwangi Kini dan Akan Datang
Dari sinilah Azam PCNU Banyuwangi menemukan relevansinya, Azam bukan kalimat indah yang berhenti di spanduk atau mimbar sambutan. Dalam khazanah Islam, ‘azam berarti tekad kuat yang menuntut pembuktian dalam tindakan. Ia adalah keputusan hati yang menolak berhenti pada niat.
Allah SWT berfirman:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
(QS. Ali Imran: 159)
Maka, azam NU kini ialah menata rumah organisasi. Menyusun ulang ritme kelembagaan, memperkuat sistem administrasi, membangun budaya kerja yang sehat, serta menghidupkan kembali semangat khidmah di setiap tingkatan kepengurusan, semua stakeholder terlibat dalam kerja-kerja NU, NU Banyuwangi membutuhkan tata kelola yang lebih rapi agar energi besar warga Nahdliyin tidak tercerai-berai.
Lembaga-lembaga perlu bergerak lebih konkret. Banom harus menjadi ruang kaderisasi yang produktif. Ranting perlu kembali diposisikan sebagai jantung gerakan. Karena sejatinya kekuatan NU tidak berada di kantor cabang, melainkan di denyut jamaah akar rumput.
NU juga dituntut hadir menjawab persoalan riil masyarakat: pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, penguatan keluarga, hingga problem sosial yang terus berubah mengikuti zaman.
Sementara azam NU akan datang ialah menyiapkan masa depan. Organisasi tidak cukup berpikir lima tahun, tetapi harus melampaui satu generasi. Pesantren diperkuat, sekolah dimajukan, kader-kader muda dipersiapkan, dan ekosistem intelektual Nahdliyin dibangun lebih serius.
Karena organisasi yang besar ialah organisasi yang sanggup melahirkan penerus, bukan sekadar mempertahankan pengurus.
Allah SWT berfirman:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya.”
(QS. An-Nisa’: 9)
Dalam perspektif organisasi, ayat ini dapat dimaknai sebagai dorongan untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah secara kepemimpinan, ilmu, maupun ketahanan sosial.
Akhirnya, NU Banyuwangi sedang berada pada titik penting: antara melanjutkan rutinitas lama atau melompat menuju tata kelola yang lebih matang. Perjalanan panjang menuju kepengurusan definitif semestinya menjadi pelajaran bahwa organisasi membutuhkan kesabaran, kebijaksanaan, dan kerendahan hati.
Khidmah di NU tidak membutuhkan kegaduhan. Ia memerlukan ketekunan. Tidak memerlukan siapa paling menonjol, melainkan siapa paling siap bekerja bersama.
Maka, Azam NU Kini dan Akan Datang semestinya diterjemahkan menjadi gerakan kolektif: merawat tradisi, menguatkan kelembagaan, menjaga bangsa, dan menghadirkan manfaat nyata bagi umat.
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan.”
(QS. Hud: 112)
Karena NU yang besar bukan sekadar NU yang ramai dibicarakan, melainkan NU yang istiqamah menjaga kemaslahatan umat dari generasi ke generasi.
Penulis :
H. ACHMAD TURMUDZI (Ketua PCNU Banyuwangi)
