Lentera Sastra Banyuwangi
3 Juni 2026

Bangkitnya Kaum Santri: Meneguhkan Pesantren Aman di Tengah Ujian Zaman

Pesantren merupakan institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki kontribusi besar dalam membentuk watak bangsa. Dari lingkungan pesantren lahir generasi yang menguasai ilmu agama, memiliki akhlakul karimah, menjunjung nilai kebangsaan, serta tumbuh dengan semangat pengabdian kepada masyarakat. Sejak dahulu, pesantren telah menjadi ruang pendidikan yang dekat dengan rakyat kecil, membuka akses pembelajaran bagi siapa saja tanpa melihat latar belakang ekonomi maupun sosial.

 

Di tengah perjalanan panjangnya, pesantren juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Munculnya sejumlah kasus kekerasan dan penyimpangan yang dilakukan oleh oknum telah menimbulkan persepsi negatif di sebagian masyarakat. Realitas ini tentu menjadi keprihatinan bersama karena dapat mencederai kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan yang selama ini dikenal sebagai pusat pembinaan moral dan keagamaan.

 

Kesadaran akan pentingnya perlindungan santri kini mulai diperkuat oleh berbagai elemen bangsa, terutama dari kalangan santri sendiri. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), misalnya, menggerakkan kampanye pesantren anti kekerasan seksual sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan dan perlindungan peserta didik di lingkungan pesantren. Gerakan tersebut menunjukkan adanya keberanian dari kelompok yang lahir dari tradisi pesantren untuk melakukan pembenahan secara terbuka dan bertanggung jawab.

 

Langkah serupa juga diperlihatkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) dengan menggelar Deklarasi Pesantren Aman dan Tolak Kekerasan. Deklarasi ini menjadi penegasan moral bahwa pesantren harus terus dijaga sebagai tempat yang aman, nyaman, ramah, dan humanis bagi seluruh santri. Lingkungan pendidikan yang sehat merupakan syarat penting agar proses transfer ilmu, pembentukan karakter, dan pembinaan spiritual dapat berjalan dengan baik.

 

Gerakan-gerakan tersebut memperlihatkan bangkitnya kesadaran kaum santri dalam menjawab berbagai isu miring yang selama ini membayangi dunia pesantren. Selama beberapa waktu, pesantren sering kali tersudutkan oleh stigma akibat tindakan sebagian kecil oknum. Dampaknya, masyarakat terkadang memandang pesantren secara general tanpa melihat realitas bahwa mayoritas pesantren tetap menjalankan fungsi pendidikan secara baik, penuh dedikasi, dan sarat pengabdian.

 

Padahal, apabila dilihat dari sisi keberlangsungan pendidikan, pesantren telah banyak memberi kontribusi besar dalam mengentaskan kebodohan. Di berbagai daerah, terutama pelosok desa, pesantren hadir sebagai harapan masyarakat untuk memperoleh pendidikan agama sekaligus pembentukan karakter. Banyak keluarga menitipkan anak-anaknya ke pesantren dengan keyakinan bahwa di tempat itulah nilai kesopanan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemandirian ditanamkan.

 

Di sisi lain, kaum santri acap kali menghadapi tekanan dari berbagai sudut kehidupan. Dalam bidang agama, tradisi pesantren kadang dianggap tertinggal oleh sebagian kelompok yang kurang memahami corak pendidikan khas pesantren. Dalam aspek budaya, kehidupan santri sering dinilai terlalu sederhana dan jauh dari perkembangan modernitas. Dari sisi sosial ekonomi, lulusan pesantren kadang dipandang sebelah mata dibanding pendidikan umum. Bahkan dalam ruang politik, kontribusi santri tidak selalu memperoleh pengakuan yang sebanding dengan jasa besarnya terhadap bangsa.

 

Padahal sejarah Indonesia mencatat bahwa kaum santri memiliki peran luar biasa dalam berdirinya dan bertahannya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menjadi salah satu tonggak penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ribuan bahkan jutaan santri turun ke medan juang dengan semangat mempertahankan tanah air dari penjajahan. Semangat cinta tanah air yang tumbuh di pesantren telah melahirkan patriotisme yang mengakar kuat.

 

Kontribusi pesantren juga terus berlanjut setelah Indonesia merdeka. Alumni pesantren hadir di berbagai sektor kehidupan, mulai pendidikan, dakwah, ekonomi, sosial kemasyarakatan, hingga pemerintahan dan politik kebangsaan. Pesantren turut membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya persatuan, toleransi, dan kehidupan beragama yang damai. Dalam kondisi ekonomi masyarakat yang terbatas, pesantren bahkan menjadi alternatif pendidikan yang tetap mampu menjangkau kalangan bawah.

 

Karena itu, sangat disayangkan apabila perjalanan panjang dan jasa besar pesantren harus tertutupi oleh perilaku segelintir oknum yang mencoreng nama baik lembaga pendidikan Islam tersebut. Kesalahan individu tentu harus diproses secara tegas, adil, dan terbuka. Namun, kesalahan tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menghapus jejak panjang kontribusi pesantren dalam membangun bangsa.

 

Gerakan pesantren anti kekerasan seksual yang digerakkan PKB serta Deklarasi Pesantren Aman dan Tolak Kekerasan oleh RMI PBNU memperlihatkan bahwa kaum santri memiliki kesungguhan dalam melakukan perbaikan. Dunia pesantren sedang menunjukkan sikap terbuka terhadap kritik, berani mengevaluasi diri, dan membangun sistem pendidikan yang semakin berpihak pada keselamatan serta kenyamanan santri.

 

Ke depan, publikasi terhadap sisi-sisi positif pesantren perlu terus diperkuat. Masyarakat perlu mengetahui bahwa pesantren tetap menjadi salah satu pilar penting pendidikan bangsa yang melahirkan generasi berakhlak, berilmu, mandiri, dan cinta tanah air. Selama pesantren terus menjaga tradisi keilmuan, memperkuat perlindungan terhadap santri, serta membuka ruang pembaruan, maka harapan besar terhadap lahirnya generasi bangsa yang bermartabat akan tetap terjaga. (Haikal Kafili, S.H, M.Pd/Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *