BANYUWANGI – Semangat merawat tradisi dan meneguhkan dakwah berbasis kebudayaan mengemuka dalam pelantikan dan pengukuhan Pengurus Cabang Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (PC Lesbumi) Banyuwangi yang digelar pada Senin (8/6/2026) di Cafe Hedon Banyuwangi. Kegiatan berlangsung khidmat dengan dihadiri jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, tokoh seni budaya, serta para pegiat kebudayaan Nahdliyyin.
Pelantikan tersebut menjadi tonggak awal gerakan kebudayaan Lesbumi Banyuwangi untuk menghidupkan kembali seni dan tradisi Nusantara dalam bingkai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), sekaligus memperkuat dakwah Islam yang teduh, inklusif, dan membumi.
Prosesi pengukuhan dilakukan langsung oleh PCNU Banyuwangi dengan baiat kepengurusan dipimpin Wakil Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, KH. Masfuk Ali. Suasana penuh kekhidmatan menyelimuti prosesi saat para pengurus menyatakan kesiapan mengemban amanah organisasi.
Sejumlah tokoh turut mengisi struktur kepengurusan, di antaranya Syamsudin Adlawi, Direktur Radar Banyuwangi, serta Hasan Basri, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB). Kehadiran unsur media dan pegiat seni dinilai menjadi energi penting dalam memperkuat ekosistem budaya yang lebih progresif namun tetap berpijak pada akar tradisi.
Ketua PC Lesbumi Banyuwangi, Imam Maskun, menegaskan bahwa Lesbumi hadir bukan semata sebagai lembaga kesenian, tetapi juga sebagai ruang dakwah kebudayaan yang merawat hubungan harmonis antara Islam dan tradisi lokal.
Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa perkembangan Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pendekatan budaya yang dilakukan para wali dan ulama Nusantara.
“Islam Rahmatan Lil ‘Alamin selalu berhimpitan dengan budaya lokal. Islam berkembang pesat di Indonesia karena dakwah dilakukan dengan pendekatan budaya, sehingga nilai-nilai Islam diterima tanpa menimbulkan keterasingan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sebagai langkah awal kepengurusan, Lesbumi Banyuwangi berencana menghadirkan Festival Budaya Nuansa Islam, sebuah agenda kebudayaan yang akan menjadi ruang temu seni, tradisi, dan syiar Islam dalam satu harmoni.
Festival tersebut diproyeksikan menjadi medium penguatan identitas budaya Islam Nusantara sekaligus ruang kreatif bagi para seniman dan budayawan lokal untuk terus tumbuh di tengah tantangan modernitas.
Ketua PCNU Banyuwangi, H. Achmad Turmudzi, dalam arahannya menegaskan bahwa Lesbumi memikul tanggung jawab besar untuk menjaga wajah Islam yang ramah melalui pendekatan budaya. Menurutnya, dakwah tidak cukup dilakukan dari mimbar keagamaan, tetapi juga perlu hadir di ruang-ruang kebudayaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Lesbumi harus istiqamah berdakwah melalui budaya agar Islam Rahmatan Lil ‘Alamin benar-benar dapat dirasakan oleh umat, khususnya masyarakat bawah. Nahdliyyin harus menjadi pelopor kebudayaan yang santun, kritis namun tetap teduh, religius namun terbuka, dan selalu berpihak pada kepentingan rakyat kecil,” pesannya.
Turmudzi juga mengingatkan bahwa di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan derasnya arus informasi, warga Nahdliyyin harus mengambil posisi sebagai perekat bangsa.
“Bangsa ini membutuhkan lebih banyak suara penyejuk daripada suara pemecah. Di tengah gaduh zaman, Nahdliyyin harus tetap menjadi jangkar akal sehat, penjaga tradisi, sekaligus perawat peradaban,” tegasnya.
Pelantikan PC Lesbumi Banyuwangi bukan sekadar agenda organisatoris, melainkan peneguhan arah gerakan kebudayaan Nahdlatul Ulama di Banyuwangi. Dari ruang sederhana di Cafe Hedon, semangat merawat seni, tradisi, dan dakwah Islam yang ramah diteguhkan untuk menjawab tantangan zaman tanpa tercerabut dari akar budaya bangsa.
