Lentera Sastra Banyuwangi

Dari Warna hingga Aroma Jeruk, KKM UIN Maliki Cakrarta 06 Menyalakan Kreativitas di Sukodadi

MALANG — Belajar tidak selalu harus berhadapan dengan papan tulis dan deretan bangku. Di tangan mahasiswa KKM Cakrarta06 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, belajar menjelma menjadi warna, karya, percakapan, dan pengalaman yang tumbuh dari hal-hal sederhana di sekitar masyarakat.

Sembilan mahasiswa—Azka, Syerli, Zahra, May, Iir, Andrew, Yunifa, Nayla, dan Sela—hadir membawa semangat pengabdian melalui sejumlah kegiatan di Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Mereka mencoba menghadirkan pengetahuan dengan cara yang dekat dengan kehidupan warga. Anak-anak diajak berkarya, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan limbah biomassa, sementara ibu-ibu PKK diajak melihat hasil panen jeruk dari sudut pandang yang berbeda.

Ketika Anak-Anak Menemukan Dunia dari Warna

Pada 5–6 Agustus 2026, suasana SDN 1 Sukodadi berubah lebih riuh dari biasanya. Tawa dan rasa ingin tahu anak-anak mengisi ruang belajar ketika mereka mengikuti kegiatan kreatif yang digelar KKM Cakrarta06.

Siswa kelas 1–3 mengikuti kegiatan DIY Tabungan. Mereka menerima gambar, kemudian mewarnainya sesuai imajinasi masing-masing. Ada warna-warna cerah, ada pula pilihan warna yang lahir dari kegemaran pribadi. Setelah selesai, gambar tersebut ditempelkan pada tabungan yang telah disiapkan.

Di balik aktivitas sederhana itu, terselip pelajaran tentang kebiasaan menabung. Anak-anak tidak sekadar belajar menyimpan uang, tetapi juga belajar bahwa sesuatu yang dibuat dengan tangan sendiri memiliki cerita dan nilai.

Hari berikutnya, siswa kelas 4–6 diajak mendekat kepada alam melalui kegiatan eco printing. Daun-daun yang tumbuh di sekitar mereka disusun di atas kain dan diolah menjadi motif alami. Dari daun yang tampak sederhana, lahirlah pola yang kemudian dimanfaatkan menjadi taplak meja.

Seolah alam sedang mengajarkan satu hal: sesuatu yang sering kita lewati dengan pandangan sekilas, kadang menyimpan keindahan ketika disentuh dengan kreativitas.

Ketika Limbah Mendapat Kesempatan Kedua

Cerita pengabdian itu berlanjut ke Dusun Genderan.

Pada Jumat, 14 Agustus 2026, KKM Cakrarta06 mengajak warga mengenal arang briket sebagai salah satu bahan bakar alternatif berbasis pemanfaatan limbah biomassa. Kegiatan berlangsung bersamaan dengan tahlilan bersama warga, sehingga pengetahuan dan kebersamaan berjalan dalam suasana yang hangat.

Penjelasan mengenai briket disampaikan secara sederhana dan aplikatif. Warga diajak memahami bahan yang dapat digunakan, proses pembuatan, prinsip pembakaran, hingga perbedaannya dengan arang biasa. Rasa penasaran pun muncul.

“Kalau memang dari limbah, berarti bahan yang biasanya dibuang bisa dibuat jadi bahan bakar?”

Pertanyaan itu menjadi pintu bagi percakapan yang lebih panjang. Warga mulai menghubungkan pengetahuan baru tersebut dengan kehidupan sehari-hari, termasuk mengenai daya bakar dan kemungkinan pemanfaatan limbah di sekitar mereka.

Bagi KKM Cakrarta06, limbah bukan semata sesuatu yang harus berakhir di tempat pembuangan. Dengan pengetahuan dan inovasi, sesuatu yang dianggap sisa masih dapat menemukan jalan baru menjadi barang yang berguna.

Dari Panen Jeruk Menjadi Gummy

Sehari setelah berbicara tentang briket, Dusun Genderan kembali menjadi ruang belajar. Kali ini, jeruk menjadi sumber gagasan.

Sabtu, 15 Agustus 2026, selepas Magrib, ibu-ibu PKK Dusun Genderan RT 16 mengikuti sosialisasi dan edukasi program JERUKKU. Mereka diperkenalkan pada proses pembuatan gummy berbahan dasar buah jeruk sekaligus pentingnya pendampingan sertifikasi halal bagi pelaku UMKM.

Jeruk yang selama ini dikenal sebagai buah segar dicoba diberi kehidupan baru. Melalui proses pengolahan, perasan jeruk dipadukan dengan bahan lainnya hingga menjadi gummy yang kemudian dituangkan ke dalam cetakan.

Kegiatan itu bukan sekadar mengajarkan resep. Ada pesan yang lebih jauh: hasil panen dapat diberi nilai tambah. Produk sederhana dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi apabila diiringi pengetahuan tentang pengolahan yang higienis, legalitas, dan penguatan usaha.

Respons ibu-ibu PKK pun positif. Gummy jeruk yang diperkenalkan mendapat sambutan baik, termasuk dari sisi cita rasa.

Pengabdian yang Tumbuh dari Hal Sederhana

Azka, Syerli, Zahra, May, Iir, Andrew, Yunifa, Nayla, dan Sela mungkin datang sebagai mahasiswa yang membawa program kerja.

Namun di tengah warga Sukodadi, program itu menemukan bentuk yang lebih manusiawi. Ia hadir dalam warna yang dipilih anak-anak. Dalam daun yang berubah menjadi motif kain. Dalam rasa ingin tahu warga tentang briket. Dan dalam jeruk yang diolah menjadi pangan bernilai tambah.

Pengabdian, pada akhirnya, tidak selalu berbicara tentang sesuatu yang besar. Kadang ia hanya membutuhkan keberanian untuk melihat kembali apa yang ada di sekitar. Sebab dari sesuatu yang sederhana, kreativitas dapat tumbuh. Dari pengetahuan, peluang dapat terbuka. Dan dari pertemuan antara mahasiswa dan masyarakat, lahir cerita kecil tentang bagaimana sebuah desa belajar melihat potensi yang selama ini mungkin berada begitu dekat dengan mereka.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *