BANYUWANGI — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Roudlotus Sholihin, Singonegaran, Banyuwangi, berlangsung semarak dan terasa berbeda. Kehadiran Tim Kiai Majelis Kopilanang pada Rabu, 2 September 2026, berhasil menarik perhatian dan antusiasme warga yang hadir.
Kegiatan tersebut menjadi penampilan perdana Majelis Kiai Kopilanang dalam format dakwah yang memadukan kajian keislaman, budaya, dialog, serta iringan musik dan shalawat. Tim pengkaji terdiri dari Gus Haikal, Gus Ahmad, Cak Mufid, Kang Imam, Pak Dosen Fatur, Kang Sentot, serta Kiai Ikrom.
Penampilan perdana tersebut semakin semarak dengan hadirnya iringan musik dan empat vokalis yang mengiringi rangkaian shalawat. Konsep dakwah yang dikemas secara komunikatif membuat suasana pengajian terasa hidup dan tidak monoton.
Sejumlah topik dibahas dalam kajian, terutama berkaitan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, keteladanan Rasulullah, budaya masyarakat, serta berbagai pandangan umum yang berkembang di tengah warga. Materi disampaikan secara ringan namun tetap diarahkan pada substansi keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat.
Acara diawali dengan dzikir Maulid yang dilantunkan kelompok Ishari dari Panderejo, kemudian dilanjutkan dengan Mahalul Qiyam. Suasana semakin khidmat ketika para jamaah berdiri bersama-sama sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Maulid Sekaligus Haul KH. Syamsuri
Selain memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan Haul Mbah KH. Syamsuri, salah seorang sesepuh Masjid Roudlotus Sholihin Singonegaran.
Dalam kajian disampaikan bahwa peringatan haul bukan sekadar mengenang sosok yang telah wafat, tetapi juga menjadi sarana untuk menggali kembali nilai-nilai perjuangan yang pernah diwariskan kepada generasi berikutnya.
KH. Syamsuri dikenang sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan Islam serta perjuangan dan khidmah di Nahdlatul Ulama. Karena itu, jamaah diajak untuk tidak berhenti pada kegiatan mengenang, tetapi meneruskan semangat perjuangan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang kita teladani bukan hanya sosoknya, tetapi juga perjuangannya. Bagaimana beliau membangun pendidikan Islam dan berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.
Tanya Jawab Berlangsung Seru
Salah satu bagian yang mendapat perhatian jamaah adalah sesi tanya jawab antara para pengkaji dan mustamiin. Sejumlah warga menyampaikan pertanyaan dan pandangan terkait materi Maulid, tradisi masyarakat, budaya, hingga persoalan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat.
Dialog berlangsung cukup hangat dan seru. Para pengkaji memberikan respons secara bergantian sehingga tercipta suasana diskusi yang lebih dekat antara penceramah dan jamaah.

Kehadiran Majelis Kiai Kopilanang dengan konsep dakwah yang memadukan kajian, shalawat, musik, budaya, dan dialog menjadi warna tersendiri dalam peringatan Maulid Nabi di Masjid Roudlotus Sholihin.
Antusiasme warga yang mengikuti kegiatan hingga selesai menunjukkan bahwa dakwah yang komunikatif dan dekat dengan kehidupan masyarakat masih mendapat tempat di tengah warga Nahdliyin.
Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul KH. Syamsuri tersebut, jamaah diharapkan tidak hanya semakin mencintai Rasulullah SAW, tetapi juga terdorong untuk melanjutkan perjuangan para ulama melalui pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, serta khidmah kepada Nahdlatul Ulama.(Tim)
