BANYUWANGI (Lentera Sastra) Di ruang rapat Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Senin (8/6/2026), percakapan tentang administrasi kependudukan berubah menjadi ikhtiar menjaga martabat keluarga. Jajaran pengurus Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi melakukan audiensi dengan Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., untuk membahas program Isbat Nikah tahun 2026.
Dalilatu Sa’adah menilai legalitas pernikahan bukan semata urusan dokumen, melainkan pintu bagi keluarga untuk memperoleh kepastian hukum dan kemudahan mengakses layanan publik. “Kami ingin membantu masyarakat agar status perkawinannya memperoleh pengakuan negara sehingga hak-hak keluarga dapat terlindungi dengan lebih baik,” ujarnya.
Dr. Chaironi Hidayat, Kepala Kemenag Banyuwangi
Chaironi menegaskan bahwa tertib pencatatan pernikahan merupakan bagian dari upaya menghadirkan perlindungan hukum bagi keluarga. Menurutnya, ketika akad telah tercatat dengan baik, urusan administrasi seperti Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran Anak dapat diproses lebih mudah, sehingga keluarga tidak terus dibayangi kerumitan birokrasi.
Koordinator Bidang Pemberdayaan dan Ketahanan Keluarga LKKNU Banyuwangi, H. Imam Muklis, S.Ag., M.H.I., yang juga menjabat Kepala KUA Kecamatan Wongsorejo, menyampaikan bahwa di lapangan masih dijumpai pasangan yang kesulitan mengurus dokumen kependudukan karena pernikahannya belum tercatat resmi. Program Isbat Nikah, kata dia, diharapkan menjadi jalan keluar yang konkret bagi persoalan tersebut.
Dalam nuansa religius yang sederhana, para peserta audiensi memaknai pencatatan nikah bukan sekadar cap administratif, melainkan ikhtiar menjaga amanah keluarga. Akad yang telah diikrarkan di hadapan Allah diupayakan memperoleh pengakuan negara, agar rumah tangga berdiri kokoh: sah secara agama, kuat secara hukum, dan tenang dalam menjalani kehidupan.
Audiensi turut dihadiri Wakil Ketua LKKNU Banyuwangi H. Saiful Karim, S.Ag., M.Pd.I., Sekretaris LKKNU Banyuwangi Dr. Nur Anim Jauhariyah, serta sejumlah pengurus lainnya. Pertemuan ditutup dengan komitmen untuk terus mempererat komunikasi dan kolaborasi demi kemaslahatan umat di Banyuwangi.
“Sakinah bukan hanya tentang ketenteraman hati, tetapi juga tentang hadirnya kepastian dan perlindungan bagi keluarga dalam kehidupan sehari-hari.”
