Lentera Sastra Banyuwangi
27 Maret 2026

Sabar sebagai Jalan Pulang: Menyusuri Diri Menuju Ilahi

Sabar sebagai Jalan Pulang: Menyusuri Diri Menuju Ilahi

oleh : Akhmad Sruji Bahtiar

Ada satu kalimat yang, jika direnungi hingga ke relung terdalam, akan menggugurkan seluruh kesombongan manusia dari sebuah ayat Al-Qur’an Al-An’am: 162 yang kita baca setiap Sholat:

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Kalimat ini bukan sekadar ayat yang dibaca, bukan pula sekadar deklarasi lisan yang dilantunkan dalam ibadah, tetapi sebuah perjanjian eksistensial, janji paling sunyi antara hamba dan Tuhannya. Janji yang menuntut seluruh hidup menjadi persembahan, seluruh gerak menjadi ibadah, dan bahkan luka pun menjadi jalan penghambaan.

Namun, janji itu tidak diuji ketika hidup berjalan lembut seperti angin yang sepoi. Ia justru diuji ketika hati dilukai, ketika harga diri disayat, ketika dunia memperlakukan kita tidak sebagaimana yang kita harapkan. Di situlah tauhid menemukan maknanya yang paling telanjang. Bukan pada lisan yang fasih menyebut nama-Nya, tetapi pada hati yang tetap tunduk ketika disakiti. Ketika seseorang dihina, difitnah, dikhianati, atau disalahpahami, di sanalah terbuka satu ruang batin yang sangat jujur: apakah ia masih mengingat Allah, atau justru tenggelam dalam gejolak ego yang menuntut pembalasan. Sebab sejatinya, setiap luka adalah undangan. Undangan untuk naik, atau jatuh. Undangan untuk kembali kepada Allah, atau terseret lebih dalam ke dalam diri yang penuh kepentingan.

Ada satu jalan yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang berani tinggal di dalam dirinya sendiri. Jalan itu bernama sabar. Tetapi sabar yang dimaksud bukanlah kesunyian kosong, bukan pula ketahanan yang kaku seperti batu. Ia adalah kesadaran yang hidup, kesadaran yang berdenyut, kesadaran yang menyaksikan. Sabar adalah kemampuan untuk melihat Allah di balik peristiwa. Ia bukan sekadar menahan amarah, tetapi memahami makna. Bukan sekadar diam, tetapi menyaksikan kehadiran-Nya dalam setiap luka. Orang yang sabar tidak mematikan rasa, tetapi memurnikan rasa. Ia tetap merasakan sakit, tetapi tidak membiarkan sakit itu menguasai arah hidupnya. Bersabar karena Allah adalah laku batin yang sangat halus. Ia nyaris tak terlihat oleh manusia, bahkan sering kali tersembunyi dari kesadaran diri. Ia bukan sikap kalah, melainkan kemenangan yang paling dalam. Kemenangan atas diri sendiri, atas ego yang selalu ingin menang, ingin diakui, ingin dibenarkan.

Ego adalah tiran paling halus dalam diri manusia. Ia tidak berteriak, tetapi membisik. Ia tidak memaksa, tetapi menggoda. Dan sering kali, tanpa disadari, kita lebih patuh pada ego daripada kepada Allah. Maka ketika seseorang mampu menahan dirinya untuk tidak membalas, ketika ia memilih diam bukan karena lemah tetapi karena sadar, ketika ia menyerahkan urusan kepada Allah tanpa kehilangan kemanusiaannya, di situlah ia mulai menapaki jalan para pencari. Di titik itu, “aku” tidak lagi menjadi pusat.

Mengendalikan diri, bukan berarti meniadakan “aku”, tetapi memurnikan “aku”. Aku yang semula penuh tuntutan perlahan berubah menjadi ruang. Ruang bagi kehendak Allah untuk bekerja. Aku yang semula ingin dipuji menjadi ikhlas untuk tidak terlihat. Aku yang semula ingin menang menjadi rela untuk kalah, karena ia tahu, tidak semua kekalahan adalah kerugian. Justru di sanalah kemenangan sejati sering bersembunyi.

Dan anehnya, justru karena kita masih memiliki rasa, bisa jadi rasa sakit, rasa kecewa, rasa gelisah, kita masih diberi peluang untuk kembali. Keresahan adalah tanda bahwa jiwa ini belum mati. Ia masih bergetar, masih mencari, masih merindukan sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar kepuasan dunia. Keresahan adalah bahasa jiwa yang ingin pulang. Dari keresahan itu lahir harapan. Harapan yang tidak selalu terang, tetapi cukup untuk menerangi langkah berikutnya. Dari harapan itu lahir perjalanan. Perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi selalu bermakna bagi mereka yang menjalaninya dengan kesadaran.

Maka menengok ke masa lalu bukanlah sekadar mengingat, tetapi membaca ayat-ayat kehidupan yang telah Allah tuliskan dalam takdir kita. Setiap kegagalan adalah huruf. Setiap luka adalah tanda baca. Dan setiap keberhasilan adalah jeda yang mengingatkan bahwa perjalanan belum selesai. Tidak ada yang sia-sia bagi mereka yang mau memahami. Dalam setiap kesalahan, tersembunyi pelajaran. Dalam setiap luka, tersimpan rahasia kedekatan. Sebab terkadang Allah tidak mendekatkan kita melalui kebahagiaan, tetapi melalui kehilangan. Tidak melalui kemudahan, tetapi melalui kesempitan yang memaksa kita menengadah. Di titik ini, iman sering kali hadir dalam diam.

Ia tidak selalu terdengar dalam suara lantang, tetapi terasa dalam keheningan yang jujur. Dalam keberanian untuk duduk bersama diri sendiri, menanggalkan topeng, dan melihat apa adanya. Tidak semua orang berani melakukan ini. Sebab melihat diri sendiri adalah perjalanan yang lebih sulit daripada menilai orang lain. Namun di situlah jalan dimulai.

Seperti seseorang yang berdiri di depan cermin, kita pun berdiri di hadapan amal kita sendiri. Kita bertanya dengan lirih, hampir berbisik: masihkah semua ini karena Allah, untuk Allah? Ataukah telah tercampur oleh keinginan untuk dipuji, dihargai, diakui? Sebab amal tanpa keikhlasan hanyalah gerakan tanpa ruh. Dan bakti, pada akhirnya, adalah kesetiaan yang berlapis. Di permukaan, ia tampak sbagai pengabdian kepada tugas, kepada negara, kepada sesama manusia. Ia terlihat dalam kerja, dalam pelayanan, dalam dedikasi yang kasat mata. Namun di kedalaman, ia adalah kesetiaan kepada Allah. Kesetiaan yang tidak bergantung pada penilaian manusia. Kesetiaan yang tidak goyah oleh pujian atau celaan. Kesetiaan yang hanya bertanya: apakah ini diridhai oleh-Nya?

Di ruang kehidupan yang penuh keberagaman, kesetiaan ini diuji dengan cara yang lebih halus. Moderasi dan toleransi bukan sekadar konsep sosial, tetapi maqam batin. Ia adalah kemampuan untuk tetap teguh dalam keyakinan tanpa menjadi sempit dalam pandangan. Ia adalah kemampuan melihat Allah dalam perbedaan. Perbedaan bukan ancaman. Ia adalah tajalli, penampakan keindahan Allah dalam banyak bentuk. Setiap perbedaan adalah cermin yang memantulkan sebagian dari keagungan-Nya. Dan seperti pelangi yang terbentang di langit setelah hujan, keindahan itu justru lahir dari keberagaman.

Pelangi tidak akan indah jika hanya satu warna. Ia membutuhkan perbedaan yang berdampingan. Tidak saling meniadakan, tetapi saling melengkapi. Begitulah kehidupan seharusnya. Kita tidak diminta untuk menyeragamkan, tetapi untuk merawat. Tidak untuk menghapus, tetapi untuk memahami. Karena dalam setiap perbedaan, ada jejak Tuhan yang ingin dikenali oleh hati yang jernih. Dan pada akhirnya, sabar kembali menjadi pintu yang harus dilalui.

Sabar dalam menerima takdir. Sabar dalam memahami manusia. Sabar dalam berjalan meski tidak selalu dimengerti. Sebab jalan menuju Allah bukan jalan yang ramai oleh sorak-sorai, tetapi jalan sunyi yang hanya diterangi oleh keyakinan. Orang yang berjalan di jalan ini mungkin tidak selalu dipahami. Bahkan kadang ia dianggap lemah, dianggap kalah, dianggap tidak mampu melawan. Padahal di dalam dirinya, sedang berlangsung sebuah perjuangan yang jauh lebih besar. Perjuangan melawan diri sendiri.

Dan orang yang menang dalam perjuangan ini tidak membutuhkan pengakuan. Ia cukup dengan ketenangan. Cukup dengan keyakinan bahwa Allah melihat, Allah mengetahui, dan Allah tidak pernah salah dalam menilai. Di sanalah seorang hamba perlahan menemukan dirinya. Bukan sebagai pusat kehidupan, tetapi sebagai jalan. Jalan yang mengalir, yang bergerak, yang terus menuju. Dari diri menuju Ilahi. Dari keterikatan menuju kebebasan. Dari ego menuju keikhlasan.

Hingga akhirnya ia menyadari, dengan kesadaran yang paling jernih, bahwa hidup ini bukan tentang siapa yang paling benar di hadapan manusia, tetapi siapa yang paling tulus di hadapan Allah. Dan di titik itu, segala luka menjadi ringan. Segala beban menjadi makna. Segala perjalanan menjadi pulang.

 

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *