Lentera Sastra Banyuwangi
26 Mei 2026

Doa dan Harapan Mengiringi Lahirnya Pondok Pesantren Baitul Qur’an Al-Huda di Cantuk

BANYUWANGI (Lentera Sastra) Siang di Desa Cantuk, Kecamatan Singojuruh, Ahad (24/5/2026), terasa berbeda. Langit seakan menaungi sebuah harapan yang perlahan mulai ditegakkan dari tanah yang dipijak bersama. Warga berkumpul, para kiai hadir, doa-doa dipanjatkan, mengiringi dimulainya pembangunan cikal bakal Pondok Pesantren Baitul Qur’an Al-Huda yang digagas keluarga H. Fauzi, putra daerah sekaligus pengusaha rumah makan Seblang Singojuruh.

Langkah awal perjalanan panjang itu ditandai dengan peletakan batu pertama musholla pondok pesantren. Sebuah batu yang kelak bukan sekadar menjadi pondasi bangunan, tetapi juga penyangga lahirnya generasi yang tumbuh bersama ilmu, adab, dan cahaya Al-Qur’an.

Khidmat menyelimuti seluruh rangkaian acara. Jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi hadir bersama para masyayikh, ulama, dan kiai sepuh dari berbagai wilayah. Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi turut membersamai momentum yang bagi masyarakat Cantuk menjadi lembar awal sebuah cita-cita besar.

Wajah-wajah warga memantulkan kebahagiaan. Bukan semata karena sebuah bangunan akan berdiri, melainkan karena harapan tentang hadirnya tempat tumbuh ilmu agama mulai menemukan jalannya.

KH. Abdul Gofar yang mewakili keluarga pendiri menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang hadir, mendoakan, serta ikut mengiringi lahirnya pondok pesantren tersebut.

“Semoga tempat ini kelak menjadi rumah bagi ilmu, tempat tumbuhnya akhlak, serta ruang yang menghadirkan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Di hadapan para hadirin, Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi mengingatkan bahwa pesantren selama ini telah menjadi salah satu penjaga denyut pendidikan Islam di negeri ini. Pesantren, menurutnya, tidak hanya melahirkan insan berpengetahuan, tetapi juga membentuk manusia yang mampu merawat persaudaraan dan menjaga harmoni kehidupan.

Di tengah arus zaman yang terus berubah, ia menilai masyarakat membutuhkan ruang pendidikan yang kokoh memegang nilai keislaman sekaligus teduh dalam keberagaman.

“Pesantren harus menjadi tempat lahirnya ilmu, akhlak, dan sikap hidup yang menyejukkan,” ujarnya.

Sementara itu, KH. Abdillah As’ad, penasihat pendiri Pondok Pesantren Baitul Qur’an Al-Huda, mengungkapkan bahwa gagasan membangun pesantren tersebut bukan lahir dalam semalam. Impian itu tumbuh perlahan, dirawat bertahun-tahun oleh keluarga H. Fauzi bersama masyarakat sekitar.

Kurang lebih lima belas tahun, cita-cita itu disimpan dalam doa-doa panjang, hingga akhirnya menemukan hari untuk ditanamkan di bumi Cantuk.

“Pesantren bukan hanya tentang mendirikan bangunan. Ia adalah ikhtiar menanam masa depan, menyiapkan generasi yang kuat ilmu agamanya, baik akhlaknya, dan luas pengabdiannya,” ungkapnya.

Prosesi peletakan batu pertama dilakukan KH. Hisyam Syafaat bersama Katib Syuriah PCNU Banyuwangi KH. Qosim. Dengan penuh keteduhan, para kiai bergantian menapakkan tangan, meletakkan pondasi awal yang diiringi harapan agar pesantren tersebut tumbuh sebagaimana pohon yang akarnya kuat dan manfaatnya menaungi banyak kehidupan.

“Jangan pernah lelah membangun pesantren. Dari pesantren lahir ilmu, lahir adab, dan lahir masa depan,” pesan KH. Hisyam.

Doa bersama kemudian mengalir di penghujung acara. Tangan-tangan terangkat ke langit. Di antara lirih amin yang bersahutan, masyarakat Cantuk menyimpan satu keyakinan: bahwa dari tanah sederhana itu, kelak akan tumbuh cahaya yang menerangi generasi.

Pondok Pesantren Baitul Qur’an Al-Huda baru saja memulai langkahnya. Namun bagi warga, hari itu bukan sekadar peletakan batu pertama. Hari itu adalah permulaan sebuah ikhtiar, ketika harapan dipadukan dengan doa, lalu dititipkan kepada waktu dan pertolongan Allah SWT.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *