BANYUWANGI — Wajah baru gerakan pertanian Nahdlatul Ulama mulai terasa di Banyuwangi. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) PCNU Banyuwangi Masa Khidmat 2026–2031 resmi dikukuhkan, Rabu (12/8/2026), dengan membawa semangat baru: pertanian harus bergerak cepat, produktif, modern dan memberi manfaat nyata bagi petani.
Pengukuhan yang berlangsung di Halaman Masjid Roudlotul Huda Sempu, ndalem Ketua PCNU Banyuwangi, tersebut tidak sekadar diisi prosesi pelantikan. Sebanyak 1.000 bibit pohon produktif diserahkan dan ditanam secara simbolis sebagai tanda dimulainya gerakan baru LPPNU dalam menggarap sektor pertanian.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi, jajaran pengurus PCNU, Ketua LPPNU Banyuwangi Mohammad Yusuf bersama jajaran pengurus, serta anggota Komisi IV DPR RI Sonny T. Danaparamita, S.H., M.H.
Bukan Sekadar Menanam, Tetapi Menggerakkan
Ketua LPPNU Banyuwangi Mohammad Yusuf dalam penyampaian programnya membawa gagasan agar LPPNU menjadi lembaga yang benar-benar turun ke lapangan.
Menurutnya, pertanian tidak boleh hanya menjadi urusan produksi di lahan. Ada persoalan bibit, pupuk, alat pertanian, teknologi, pendampingan, pengolahan hasil hingga pemasaran yang semuanya harus dipikirkan secara bersama.
Karena itu, LPPNU akan mendorong penguatan kelompok-kelompok tani dan mengembangkan potensi pertanian sesuai karakter wilayah masing-masing.
“Kita ingin LPPNU hadir bukan hanya untuk berbicara tentang pertanian, tetapi ikut menggerakkan pertanian,” demikian semangat yang disampaikan dalam pemaparan programnya.
Gerakan 1.000 bibit pohon produktif menjadi salah satu langkah awal. Namun, bagi LPPNU, pekerjaan sebenarnya justru dimulai setelah bibit ditanam.
Bibit harus dirawat, dikembangkan dan diarahkan agar menghasilkan. Dari tanaman produktif diharapkan muncul nilai ekonomi baru bagi keluarga petani dan masyarakat sekitar.
Semangat tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa generasi baru penggerak pertanian NU harus berani turun ke lahan, membaca perubahan zaman dan mencari model pertanian yang lebih efektif.
Achmad Turmudzi: Anak Muda Jangan Hanya Jadi Penonton
Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi dalam sambutannya memberikan dorongan agar LPPNU mampu menghadirkan warna baru dalam gerakan pertanian NU.
Menurutnya, sektor pertanian membutuhkan generasi yang tidak takut mencoba hal baru. Anak-anak muda NU harus mulai melihat pertanian bukan sebagai sektor yang tertinggal, melainkan sebagai ruang besar untuk inovasi, teknologi dan pengembangan ekonomi.
Pertanian masa kini membutuhkan kemampuan membaca pasar, teknologi, manajemen dan keberanian mengembangkan usaha.
Karena itu, LPPNU diharapkan mampu menjadi jembatan yang mempertemukan petani, anak muda, teknologi, pemerintah dan dunia usaha.
“Pertanian harus kita dorong menjadi sektor yang menarik bagi generasi muda. Jangan sampai anak muda hanya menjadi penonton, sementara potensi pertanian yang begitu besar justru dikelola orang lain,” menjadi semangat yang ditekankan dalam sambutannya.
Sonny: Zaman Sudah Cepat, Pertanian Harus Ikut Berlari
Semangat perubahan juga mengemuka dalam keynote speech anggota Komisi IV DPR RI Sonny T. Danaparamita, S.H., M.H.
Sonny menegaskan, pertanian hari ini tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama yang lambat. Perubahan zaman menuntut petani bekerja lebih cepat, tepat dan efisien.
“Sekarang zaman sudah serba cepat. Maka pengolahan tanah juga harus cepat dan efisien,” tegas Sonny.
Karena itu, ia menyampaikan akan terus mendorong terbukanya kemudahan dan peluang akses sarana produksi pertanian (saprodi), terutama pupuk, bagi petani.
Selain pupuk, dukungan terhadap alat dan mesin pertanian, termasuk bantuan traktor, juga dinilai penting untuk mempercepat proses pengolahan lahan.
Dengan mekanisasi, waktu pengolahan tanah dapat dipangkas dan tenaga petani bisa digunakan secara lebih efektif. Bagi Sonny, modernisasi pertanian bukan lagi pilihan tambahan, tetapi kebutuhan agar petani mampu menghadapi tuntutan zaman.
Dari LPPNU untuk Petani, Dari Anak Muda untuk Masa Depan
Gerakan 1.000 bibit produktif yang dicanangkan dalam pengukuhan tersebut akhirnya bukan sekadar soal berapa banyak pohon yang ditanam.
Ia menjadi simbol bahwa pertanian NU harus mulai bergerak dari cara lama menuju cara baru.
Ada semangat anak muda yang ingin turun ke lapangan. Ada teknologi yang harus dimanfaatkan. Ada alat pertanian yang harus diperkuat. Ada pupuk dan saprodi yang harus lebih mudah diakses. Dan ada pasar yang harus dibangun agar hasil petani memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
LPPNU Banyuwangi di bawah kepengurusan baru pun ditantang untuk menjawab semua itu dengan kerja nyata.
1.000 bibit ditanam hari ini. Tetapi yang ingin ditumbuhkan jauh lebih besar: gerakan pertanian NU yang produktif, modern, mandiri dan berorientasi pada masa depan.
Karena pertanian tidak boleh hanya mewarisi masa lalu. Pertanian harus menjadi ruang bagi generasi muda untuk menciptakan masa depan.(HK)
