Lentera Sastra Banyuwangi
31 Maret 2026

Memahami Qadha dan Qadar dengan Hati yang Tunduk

Memahami Qadha dan Qadar dengan Hati yang Tunduk

oleh : Akhmad Sruji Bahtiar

Keyakinan terhadap qadha dan qadar bukanlah sekadar pengetahuan yang singgah di akal, lalu berlalu tanpa bekas. Ia adalah nur (cahaya) yang turun perlahan ke dalam relung hati, menyusup ke dalam kesadaran terdalam, hingga dapat mengubah seluruh cara seorang hamba memandang dirinya, dunia, dan Tuhannya. Ketika keyakinan ini telah bersemayam, ia tidak lagi menjadi konsep yang dihafal atau dalil yang diucapkan, melainkan menjadi rasa yang hidup, rasa yang hadir dalam setiap detik, setiap helaan napas, dan setiap getar kehidupan.

Seorang hamba yang telah disentuh oleh cahaya iman terhadap takdir tidak lagi memandang kehidupan sebagai rangkaian peristiwa acak yang berjalan tanpa arah. Ia melihat segalanya sebagai tenunan Ilahi yang halus, tersusun dengan hikmah yang dalam, meskipun mata lahir sering kali tidak mampu menangkap keindahannya secara utuh. Apa yang tampak baginya sebagai keterlambatan, kegagalan, bahkan kehilangan, sesungguhnya adalah bagian dari skenario agung yang sedang menuntunnya menuju kedewasaan ruhani. Dalam kesadaran ini, firman Allah bukan sekadar bacaan, tetapi menjadi denyut batin yang menghidupkan jiwa bahwa tidak ada satu pun yang menimpa dirinya kecuali telah ditetapkan dengan kasih dan ilmu-Nya.

Maka, ketika ujian datang dalam bentuk penderitaan, pengkhianatan, atau ketidakadilan, cara pandangnya pun berubah secara mendasar. Ia tidak lagi melihat manusia sebagai sumber utama dari rasa sakitnya. Ia menyadari bahwa manusia hanyalah perantara, sementara hakikat yang menggerakkan segala sesuatu adalah kehendak Allah yang Maha Bijaksana. Dalam pandangan ini, luka tidak lagi sekadar luka, tetapi menjadi risalah rahasia, sebuah pesan yang mengandung pelajaran, pemurnian, dan pengangkatan derajat.

Ia tidak tergesa-gesa membalas, karena ia memahami bahwa setiap peristiwa membawa maksud Ilahi yang lebih luas daripada sekadar sebab-akibat lahiriah. Bahkan kezaliman yang menimpanya ia baca sebagai alat pendidikan ruhani, seperti palu yang menempa logam, menjadikannya lebih kuat, lebih jernih, dan lebih layak untuk memantulkan cahaya. Hatinya tidak dipenuhi oleh dendam yang mengeruhkan, tetapi oleh kesadaran yang menenangkan: bahwa di balik setiap kejadian, ada sentuhan kasih Tuhan yang sedang membentuk dirinya menjadi lebih dekat kepada-Nya.

Dari sinilah lahir sebuah ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan. Ketenangan yang tidak mudah retak oleh perubahan dunia. Ia menjadi seperti samudra yang dalam, di permukaan mungkin ombak berdebur, namun di kedalaman, ia tetap sunyi dan damai. Hamba yang telah mencapai kesadaran ini tidak lagi terombang-ambing oleh kehilangan, karena ia tahu bahwa apa yang hilang darinya tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Semua hanyalah titipan yang datang dan pergi sesuai kehendak Pemiliknya.

Begitu pula ketika kenikmatan datang, ia tidak terperangkap dalam kesombongan. Ia tidak melihat dirinya sebagai pemilik keberhasilan, tetapi sebagai wadah yang diisi oleh karunia. Ia sadar bahwa segala yang ia miliki hanyalah amanah yang suatu saat akan kembali. Maka, ia bersyukur tanpa henti, bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan hati yang tunduk dan jiwa yang merendah, ia mulai memasuki maqam ridha, sebuah tingkatan ruhani yang tinggi dan halus.

Ridha bukanlah ketiadaan rasa sakit, melainkan kemampuan untuk menembus rasa itu dan menemukan makna Ilahi di baliknya. Ridha bukan berarti tidak menangis, tetapi menangis dalam kesadaran bahwa air mata pun adalah bagian dari kasih sayang-Nya. Di sinilah, seorang hamba tidak lagi sibuk mempertanyakan takdir dengan keluhan, melainkan menanggapinya dengan tafakur. Jika dahulu ia bertanya, “Mengapa ini terjadi padaku?” kini pertanyaannya berubah menjadi, “Apa yang Allah kehendaki dariku melalui ini?” Perubahan pertanyaan ini adalah tanda perubahan jiwa, dari jiwa yang menuntut, menjadi jiwa yang tunduk; dari jiwa yang gelisah, menjadi jiwa yang pasrah.

Keyakinan terhadap takdir juga menumbuhkan kedermawanan yang tulus. Ia memahami bahwa rezeki bukanlah hasil semata dari usahanya, tetapi juga bagian dari ketetapan Allah. Maka ia tidak takut memberi, karena ia tahu bahwa yang memberi sesungguhnya adalah Allah melalui tangannya. Sedekah baginya bukan sekadar amal, tetapi ekspresi kepercayaan bahwa apa yang keluar tidak akan mengurangi, melainkan justru menambah keberkahan.

Begitu pula dengan syukur, ia tidak lagi menjadi ritual sesaat, tetapi menjadi keadaan jiwa yang menetap. Ia bersyukur dalam lapang maupun sempit, dalam senang maupun susah. Ia melihat setiap keadaan sebagai kesempatan untuk lebih dekat kepada Allah. Bahkan dalam kekurangan, ia menemukan kelimpahan; dalam kesedihan, ia menemukan kehadiran.Semua ini bermuara pada satu keadaan batin yang dalam dan luas: ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh perubahan dunia. Di titik ini, seorang hamba tidak lagi merasa perlu mengatur segala sesuatu sesuai keinginannya. Ia berhenti memaksakan alur hidupnya, dan mulai belajar mengalir dalam arus kehendak Ilahi.

Penerimaan terhadap qadha dan qadar adalah bagaimana seorang hamba menerima apa yang datang dengan lapang dada, karena ia tahu itu adalah pilihan terbaik dari Allah. Ia melepaskan apa yang pergi dengan ikhlas, karena ia sadar bahwa setiap yang pergi sedang digantikan dengan sesuatu yang lebih sesuai bagi perjalanan jiwanya. Ia mensyukuri apa yang tersisa dengan penuh cinta, karena ia melihatnya sebagai tanda perhatian Tuhan yang tidak pernah putus, dalam kedalaman hati yang telah bersih dari prasangka, luas dari keluhan, dan jernih dari keterikatan dunia, ia menemukan Allah. Bukan sebagai sesuatu yang jauh dan terpisah, tetapi sebagai kehadiran yang begitu dekat, lebih dekat dari urat nadinya sendiri. Ia merasakan bahwa setiap detak jantungnya adalah panggilan, setiap napasnya adalah zikir, dan setiap peristiwa dalam hidupnya adalah dialog yang tak pernah terputus antara dirinya dengan Tuhannya.

Maka ia pun menyadari dengan sepenuh kesadaran: apa yang ia dapatkan hari ini bukan semata hasil dari perjuangannya. Ikhtiar memang jalan, tetapi kehendak Allah adalah penentu. Usaha adalah bentuk penghambaan, tetapi hasil adalah rahasia ketetapan. Dan di antara keduanya, seorang hamba belajar untuk berjalan, berusaha dengan sungguh-sungguh, namun tetap bersandar sepenuhnya kepada-Nya, hidup bukan lagi beban yang harus ditaklukkan, tetapi perjalanan yang harus dihayati. Dan setiap langkahnya, sekecil apa pun, menjadi bagian dari perjalanan pulang menuju Allah. sebagai tenunan kehendak Ilahi yang rapi dan penuh hikmah. Firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah ayat 51, menjadi bisikan batin yang terus bergema:

“Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.

Ayat ini tidak lagi sekadar dilafalkan oleh lisan, tetapi menjadi napas ruhani yang menghidupkan jiwa dalam setiap keadaan.

Dalam kesadaran seperti ini, cara pandang seorang hamba terhadap musibah maupun cobaan pun berubah secara mendasar. Ia tidak lagi melihat luka sebagai kezaliman semata, tetapi sebagai pesan yang dikirimkan oleh Allah melalui jalan yang terkadang tidak ia duga. Ia tidak tergesa menuduh manusia, sebab ia tahu bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mampu menyentuh dirinya tanpa izin dari Yang Maha Mengatur. Bahkan kezaliman yang datang kepadanya pun ia baca sebagai bagian dari proses penyempurnaan dirinya, sebagai palu yang membentuk logam jiwa agar menjadi lebih kuat, lebih bening, dan lebih siap menerima cahaya Ilahi. Maka hatinya tidak lagi dipenuhi dendam yang menghitamkan, tetapi dipenuhi kesadaran yang mencerahkan: bahwa di balik setiap peristiwa, ada tangan Tuhan yang sedang menulis kisahnya dengan penuh kasih, meski terkadang terasa perih.

Keyakinan ini melahirkan ketenangan yang tidak mudah diguncang oleh perubahan. Ia seperti laut yang dalam, di permukaan mungkin bergelombang, tetapi di kedalaman tetap tenang. Seorang hamba tidak lagi gelisah oleh apa yang hilang darinya, karena ia tahu bahwa yang hilang itu tidak pernah benar-benar miliknya. Ia juga tidak menjadi sombong atas apa yang datang kepadanya, karena ia sadar bahwa semua itu hanyalah titipan sementara. Dalam keadaan seperti ini, ia mulai belajar ridha, sebuah maqam yang tinggi, di mana hati menerima tanpa syarat, menjalani tanpa keluh, dan berserah tanpa sisa. Ridha bukan berarti kebal dari rasa sakit, tetapi mampu menembus rasa itu hingga menemukan makna yang tersembunyi di baliknya.

Keyakinan terhadap takdir, akan bermuara pada satu keadaan batin yang dalam: ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh perubahan dunia. Di sana, seorang hamba tidak lagi sibuk mengatur alur hidupnya sendiri, tetapi membiarkan dirinya mengalir dalam kehendak Allah. Ia menerima apa yang datang dengan lapang, melepaskan apa yang pergi dengan ikhlas, dan mensyukuri apa yang tersisa dengan penuh cinta. Dan di situlah ia menemukan Allah, bukan sebagai sesuatu yang jauh di luar dirinya, tetapi sebagai cahaya yang hadir di kedalaman hatinya yang telah bersih, luas, dan dipenuhi oleh kehadiran-Nya. Di sana, ia tidak lagi merasa sendiri, karena setiap detak hidupnya telah menjadi perjumpaan yang terus-menerus dengan-Nya.

 

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *