Lentera Sastra Banyuwangi

NGERANDU NU ke-17: Menguatkan Akar Rumput, Menggali Potensi untuk Menjawab Persoalan Bangsa

BANYUWANGI – Gerakan Turba Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi melalui NGERANDU NU memasuki kunjungan ke-17 MWCNU. Lebih dari sekadar konsolidasi organisasi, gerakan ini menjadi ruang untuk melihat langsung kondisi masyarakat, memetakan potensi, sekaligus mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi warga di tingkat bawah.

Rangkaian NGERANDU NU pada Sabtu–Minggu, 1–2 Agustus 2026, menyambangi sejumlah MWCNU, di antaranya Glenmore, Genteng, Kabat, dan Banyuwangi Kota. Antusiasme warga dari berbagai wilayah, mulai Terbasalak, Kendang Lembu, kawasan hutan, daerah pelosok hingga kawasan perkotaan Banyuwangi, menunjukkan kuatnya basis sosial dan loyalitas warga Nahdliyin.

Kekuatan tersebut terlihat dari sinergi pengurus struktural, lembaga, badan otonom (Banom), pesantren, tokoh masyarakat, hingga warga NU secara kultural.

Potensi Berbeda di Setiap Wilayah

Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi, Fadz Reza Abdullah, yang sejak awal turut memandu perjalanan NGERANDU NU, mengatakan setiap daerah memiliki karakter dan potensi yang berbeda.

“Setiap daerah memiliki karakter dan potensi yang berbeda. Ada yang kuat di bidang pendidikan, pesantren, ekonomi, pemberdayaan masyarakat maupun kekuatan jamaah. Ini menjadi kekayaan NU Banyuwangi yang harus kita rawat dan kembangkan,” ujarnya.

Menurut Fadz, semakin sering PCNU turun ke lapangan, semakin banyak potensi yang ditemukan. Bahkan terdapat kekuatan di tingkat bawah yang belum sepenuhnya terlihat di tingkat cabang.

“Setiap MWCNU punya cerita, punya kekuatan, dan punya persoalan masing-masing. Tugas kita adalah menyatukan potensi itu menjadi kekuatan bersama,” katanya.

Bang Jo: Banyak Potensi, Tetapi Perlu Manajemen

Sementara itu, Bendahara Umum PCNU Banyuwangi H. Moh. Junaidi, atau Bang Jo, melakukan verifikasi langsung ke sejumlah ranting. Dari proses tersebut, ia menemukan sejumlah kelemahan dalam tata kelola, administrasi, pendataan, dan pengelolaan potensi.

Namun, di balik kelemahan tersebut, ia melihat peluang yang sangat besar.

“Di bawah ini sebenarnya banyak sekali potensi. Persoalannya bukan tidak ada, tetapi bagaimana potensi tersebut dikelola, ditata dan dikembangkan dengan manajemen yang baik.”

Menurut Bang Jo, ranting adalah ujung tombak NU. Di tingkat inilah terdapat jamaah, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, kegiatan sosial-keagamaan, jaringan usaha dan berbagai potensi ekonomi lokal.

Apabila kekuatan tersebut dapat dipetakan dan dikelola secara profesional, transparan, dan berkelanjutan, NU bukan hanya akan semakin kuat secara organisasi, tetapi juga mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Pemerintah Diharapkan Mendukung Gerakan Organisasi Kemasyarakatan

Dari perjalanan NGERANDU NU, muncul pula harapan agar pemerintah melihat organisasi kemasyarakatan seperti NU sebagai mitra strategis dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat, khususnya di daerah.

Kekuatan organisasi yang memiliki jaringan hingga tingkat ranting dinilai dapat menjadi bagian penting dalam membantu pemerintah menangani berbagai persoalan, mulai dari pendidikan, kemiskinan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, sosial, lingkungan, hingga penguatan ketahanan keluarga dan masyarakat.

“Setidaknya pemerintah bisa memberikan support terhadap gerakan-gerakan organisasi seperti NU. Karena banyak persoalan bangsa, terutama persoalan di daerah, yang tidak mungkin diselesaikan pemerintah sendirian. Organisasi masyarakat memiliki jaringan dan basis yang langsung bersentuhan dengan warga,” demikian harapan yang mengemuka dalam semangat NGERANDU NU.

Dukungan tersebut tidak harus dimaknai semata-mata dalam bentuk bantuan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kolaborasi program, penguatan kapasitas, akses pemberdayaan, sinergi data, serta ruang partisipasi masyarakat.

Dengan jaringan yang kuat dari desa hingga perkotaan, NU memiliki modal sosial untuk menjadi mitra pemerintah dalam mempercepat penyelesaian persoalan masyarakat.

Pada akhirnya, NGERANDU NU ke-17 menjadi gambaran bahwa potensi terbesar NU berada di tengah masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut ditata dengan manajemen yang baik, dikonsolidasikan, dan diarahkan menjadi gerakan pemberdayaan.

Dari Terbasalak dan Kendang Lembu, kawasan hutan dan pelosok, hingga pusat perkotaan Banyuwangi, NGERANDU NU menemukan satu kesamaan: semangat warga untuk berkhidmat masih sangat kuat.

Jika kekuatan tersebut dipadukan dengan tata kelola organisasi yang baik dan dukungan pemerintah melalui kolaborasi yang sehat, maka NU dapat semakin nyata mengambil peran dalam menuntaskan problem masyarakat di daerah sekaligus memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa.(HK)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *