Lentera Sastra Banyuwangi

NGOBIS Zona 2: LPNU Banyuwangi Bidik Ekonomi NU dari Ranting, Bangun Usaha Berbasis Potensi Lokal

BANYUWANGI – Gerakan kemandirian ekonomi Nahdlatul Ulama (NU) Banyuwangi mulai diarahkan pada langkah yang lebih konkret. Melalui NGOBIS (Ngobrol Bisnis) Zona 2, Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPNU) Banyuwangi mendorong agar potensi ekonomi yang tersebar di MWCNU tidak berhenti pada pemetaan, tetapi ditarik menjadi kekuatan usaha jam’iyah dan jamaah.

NGOBIS Zona 2 digelar di Gedung PC LP Ma’arif NU, Kecamatan Srono, Banyuwangi, Kamis (6/8/2026). Forum ini menjadi bagian dari upaya LPNU membaca potensi ekonomi di berbagai wilayah sekaligus menyusun langkah pemberdayaan yang lebih terarah.

Gagasan utama yang mengemuka dalam NGOBIS Zona 1 dan Zona 2 adalah membangun usaha baru secara berjenjang, mulai tingkat PCNU, MWCNU hingga ranting. Model pengembangannya tidak diseragamkan, tetapi mengikuti karakter wilayah, sumber daya alam, kemampuan masyarakat, serta kearifan lokal masing-masing MWCNU.

Setidaknya tujuh sektor ekonomi menjadi sasaran pengembangan, yakni perdagangan dan ritel; keuangan dan koperasi; industri dan manufaktur; UMKM dan ekonomi kreatif; jasa dan travel; pariwisata dan properti; serta pendidikan dan pelatihan entrepreneurship.

Bukan Sekadar Ngobrol, Harus Ada Eksekusi

Forum tersebut juga memunculkan pesan kuat dari MWCNU agar NGOBIS tidak berhenti sebagai ruang diskusi dan pemetaan potensi.

MWCNU se-Banyuwangi berharap PCNU melalui LPNU mampu mengambil peran lebih besar dalam pemberdayaan, pendampingan dan pengembangan usaha yang telah dimiliki MWCNU maupun jamaah NU.

Sebab, di tingkat bawah sebenarnya telah banyak tumbuh UMKM dan berbagai bentuk usaha. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dikonsolidasikan, diperkuat manajemennya, dibuka akses pasarnya, serta dikembangkan agar mampu naik kelas.

Karena itu, PCNU bersama LPNU diharapkan menjadi pengawal gerakan ekonomi NU, bukan hanya sebagai fasilitator pertemuan.

Pengawalan itu dapat dilakukan melalui sistem manajemen yang profesional, pembinaan berkala, pemetaan potensi usaha, penyusunan roadmap UMKM di setiap MWCNU, hingga membuka jejaring pasar dan kemitraan.

“MWCNU membutuhkan campur tangan PCNU melalui program kerja LPNU yang ada. Potensi di bawah ini sebenarnya banyak, tetapi membutuhkan pendampingan dan pengawalan agar bisa berkembang,” menjadi salah satu gagasan yang menguat dalam forum.

Bisnis NU Harus Tumbuh dari Bawah

Sekretaris PCNU Banyuwangi, H. Bisri Musthofa, turut memberikan penekanan terhadap pentingnya komitmen bersama dalam membangun kekuatan ekonomi NU.

Penguatan ekonomi jam’iyah, menurut gagasan yang berkembang dalam forum, tidak dapat dibangun secara instan. Dibutuhkan konsolidasi dari bawah, dengan menjadikan MWCNU dan ranting sebagai basis penggalian potensi ekonomi.

Sementara Ketua PC LPNU Banyuwangi, Syafroni, menaruh harapan besar agar NGOBIS menjadi pintu masuk bagi lahirnya program ekonomi yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga.

Ia mendorong agar hasil pemetaan tidak berhenti menjadi data, melainkan diterjemahkan menjadi program usaha, pendampingan dan investasi nyata.

Semangatnya sederhana: potensi harus dipetakan, usaha harus didampingi, pasar harus dibuka, dan hasilnya harus dirasakan jamaah.

Dengan pola tersebut, LPNU ingin mendorong perubahan paradigma ekonomi NU Banyuwangi. MWCNU dan ranting tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan organisasi, tetapi juga dapat berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.

Dari Potensi Lokal Menuju Kekuatan Ekonomi NU

NGOBIS Zona 2 menjadi bagian dari rangkaian upaya membangun konektivitas ekonomi antarstruktur NU. Potensi yang ada di masing-masing wilayah diharapkan dapat saling terhubung sehingga membentuk ekosistem ekonomi yang lebih besar.

Jika dikelola secara serius, UMKM jamaah dapat terkoneksi dengan koperasi, sektor perdagangan dapat terhubung dengan industri, potensi wisata dapat dikembangkan bersama jasa perjalanan, sementara pendidikan dan pelatihan entrepreneurship dapat menjadi mesin peningkatan kapasitas pelaku usaha.

Target akhirnya bukan sekadar bertambahnya jumlah usaha, tetapi lahirnya ekosistem ekonomi NU yang kuat, profesional, mandiri dan berkelanjutan.

Dari NGOBIS, LPNU Banyuwangi ingin memastikan satu hal: ekonomi NU tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus mulai dikerjakan—dari PCNU, MWCNU, ranting, hingga rumah-rumah jamaah.(HK)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *