Saamsudin
Angkringan Larasing Manah
23-04-2026 (Daur Ulang)
PERMATA TERMULIA
Sang cakrawala….!
Angin tertiup dari selatan
Sayup sumilir tidaklah kencang
Pucuk pucuk pohon sedikit melambai lesu
Pagi ini Sang Surya tidak seperti biasa,
Tidak dengan senyum
Hanya duduk tanpa sapa,
Ia kesel sepagi ini sang Awan sudah berdiri menggumpal
Tidak begitu lama angin tàhu muramnya sang Surya,
Ia datang sedikit kencang,….
Akhirnya ! Datanglah gemuruh, angin benar marah dasyat !
Pohon kecil terhuyung sampai rebah,
Pohon besar kakinya mencengkram, tubuhnya bergoyang,
Daun daun terbang lepas dari rumpunya
Awan masih keras kepala, meronta bergandeng satu dengan lainnya
Menggulung panjang mememenui cakrawala,
Apadaya angin benar benar marah, temanya datang dari semua penjuru
Terbanglah awan awan bercerai berei
Akhirnya datanglah cerah…
Cerah! Dan begitu cerah
Angin kembali nampak arif, tersenyum….
Ia sapa pucuk pucuk daun yang masih tersisa
Hembusannya sepoi senyap tidak ada suara gaduh, pucuk daun itu tanpa suara tiada gesek
Hanya lambaian kecil seakan lambaian untuk angin
Namun…. apakah kecerahan ini sudah cukup ?
Kecerahan kadang kita dibuat lupa,
Apapun siang penuh kecerahan
Sangatlah butuh sinar atau cahaya
Sinar dan cahaya dari permata yang paling mulia
Sinar ditengah tengahnya siang
Apalagi cahaya dikegelapan malam
KI DONGKOL
