Lentera Sastra Banyuwangi

Puisi Demonstrasi Taufiq Ismail: Kesaksian Real-Time Tanpa Terjebak Slogan

Dalam diskusi _Tukar Tutur Sastra_ yang digelar HISKI Sabtu (01/08/2026), Prof. Dr. Faruk dari UGM memaparkan “Catatan Kecil Tentang Puisi-Puisi Demonstrasi” karya Taufiq Ismail dalam acara _Tukar Tutur Sastra_ bersama HISKI.

Menurut Faruk, puisi memiliki hubungan erat dengan politik. Ada puisi kesaksian yang lahir langsung dari peristiwa, ada juga yang sifatnya kritis pascastruktural. Semua wacana termasuk puisi bersifat ideologis sehingga tak lepas dari politik.

Penyair seperti Rendra, Seno, Pramoedya, dan Taufiq Ismail adalah contoh sastrawan yang karyanya dekat dengan peristiwa politik, namun sebagai saksi bukan pelaku. Puisi demonstrasi berfungsi sebagai pamflet dan slogan tandingan saat aksi, bahkan dipakai melawan slogan lawan dengan metafor satir.

Yang khas dari puisi demonstrasi Taufiq Ismail, kata Faruk, adalah lahir dari dalam proses aksi itu sendiri tanpa terjebak slogan kosong. Isinya berupa kesaksian real-time di lapangan, menempatkan mahasiswa sebagai “anak-anak” yang butuh dukungan rakyat. Meski rawan terperangkap klaim sepihak, puisi Taufiq justru mendorong aksi lewat bahasa personal yang dekat dengan pengalaman sosial (Lutfia).

By Ludfi

Ketua Himpunan Sarjana Kesusahan Indonesia (HISKI) Komisariat Banyuwangi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *