Lentera Sastra Banyuwangi
31 Maret 2026

Puter Kayun Boyolangu, Jejak Janji Menyusuri Waktu di Banyuwangi

BANYUWANGI (Lensa Banyuwangi) Fajar 10 Syawal kembali menyibak lembar tradisi di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Banyuwangi. Di antara desir angin dan riuh langkah warga, Ritual Puter Kayun digelar dengan khidmat—sebuah warisan leluhur yang tak lekang oleh zaman, menautkan masa silam dengan denyut kehidupan hari ini.

Puter Kayun bukan sekadar perayaan, melainkan ikhtiar menepati janji. Warga Boyolangu menapaki kembali jejak para pendahulu yang telah berjasa membuka jalan di kawasan utara Banyuwangi. Dengan menaiki dokar berhias, mereka melakukan napak tilas menuju Pantai Watu Dodol—ruang ingatan yang menyimpan kisah pengabdian dan kesaktian leluhur.

Pagi itu, dua dokar berdiri anggun, berbalut hiasan yang sarat makna. Di sampingnya, para kusir setia menanti, salah satunya Abdul Mufid (65), sosok yang telah mengabdikan hidupnya di atas roda kayu sejak 1971.
“Saya sudah menjadi kusir sejak tahun 1971. Setiap tahun selalu mengikuti tradisi Puter Kayun bersama warga di sini. Karena pada tradisi ini yang terpenting adalah napak tilasnya,” tuturnya lirih, penuh kesetiaan.

Di balik ritual ini, tersimpan kisah tentang Ki Buyut Jakso—leluhur yang dipercaya membuka jalan di utara Banyuwangi. Ketua panitia sekaligus tokoh pemuda Boyolangu, Risyal Alfani, menuturkan legenda yang hidup dalam ingatan kolektif warga.

Konon, ketika penjajah Belanda menghadapi hambatan berupa gundukan gunung yang tak mampu dibongkar, Ki Buyut Jakso diminta turun tangan. Ia bersemedi di Gunung Silangu—yang kini dikenal sebagai Boyolangu. Dengan kesaktiannya, jalan pun terbuka, dan wilayah itu dinamai Watu Dodol, bermakna batu yang berhasil dipecah.

Sejak saat itu, Ki Buyut Jakso berpesan agar anak cucunya senantiasa kembali ke Pantai Watu Dodol, menapaktilasi perjuangannya. Maka, tradisi ini pun lahir—dahulu dijalani dengan dokar, selaras dengan profesi mayoritas warga sebagai kusir.

Namun tahun ini, perjalanan napak tilas tak sepenuhnya menembus Watu Dodol. Kepadatan arus kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang memaksa rombongan hanya berputar di wilayah kota. Sebagian warga yang biasanya mengiringi dengan kendaraan roda empat pun beralih menggunakan sepeda motor, menembus kemacetan demi tetap menjaga ruh tradisi.

Di tengah segala keterbatasan, semangat pelestarian tak surut. Pelaksana Tugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menegaskan komitmen daerah dalam menjaga tradisi lokal.
“Banyuwangi berkomitmen untuk mengangkat dan melestarikan tradisi lokal masyarakat, termasuk Puter Kayun Boyolangu ini. Selain menjaga ritual, tradisi ini juga menjadi bagian dari atraksi wisata Banyuwangi,” ujarnya.

Ritual Puter Kayun merupakan puncak dari rangkaian Boyolangu Traditional Culture. Sejak 7 Syawal, warga telah menggelar Lebaran Kopat dengan selamatan dan makan bersama. Kemudian pada 9 Syawal, Tradisi Kebo-keboan turut mewarnai perayaan, sebelum akhirnya mencapai klimaks pada 10 Syawal.

Di setiap derap roda dokar dan langkah yang menyusuri jalan, Puter Kayun mengajarkan satu hal: bahwa tradisi bukan sekadar kenangan, melainkan janji yang terus dihidupkan—oleh mereka yang setia menjaga akar, di tengah arus zaman yang tak pernah berhenti bergerak. (*)

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *