Lentera Sastra Banyuwangi
13 April 2026

Suluk Pelangi Hati; Mengetuk Pintu Langit melalui Khidmah di Bumi

Suluk Pelangi Hati; Mengetuk Pintu Langit melalui Khidmah di Bumi

Oleh: Syafaat

(ASN Kementerian Agama/ Ketua Lentera Sastra Banyuwangi)

 

Membaca lembar demi lembar catatan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. Akhmad Sruji Bahtiar, dalam buku Suluk Pelangi Hati ini bukanlah sekadar menelusuri untaian kata-kata yang tersusun rapi. Ia adalah sebuah perjalanan pulang. Sebuah undangan terbuka bagi kita semua untuk sejenak berhenti dari riuh rendah dunia yang sering kali menipu, lalu masuk ke dalam ruang sunyi di kedalaman batin kita sendiri. Di sanalah, melalui tulisan-tulisan ini, kita diajak untuk bertanya kembali dengan suara yang paling lirih: “Masihkah semua pengabdian ini untuk Allah? Ataukah ia telah retak oleh keinginan untuk dipuji, diakui, dan ditinggikan oleh sesama makhluk?”

Buku yang dirangkum dari berbagai khutbah dan pidato penulis sejak tahun 2025 ini menegaskan satu hakikat yang kerap luput di tengah hiruk-pikuk jabatan dan rutinitas: bahwa hidup sejatinya adalah perjanjian eksistensial antara hamba dan Tuhannya, di mana tauhid tidak lahir dari kefasihan lisan semata, melainkan dari hati yang tetap tunduk, tenang, dan rida meski disayat luka atau ketidakadilan; dan di sela riuh waktu yang berderap dalam dunia birokrasi, ketika rapat dan tanggung jawab datang tanpa jeda, lahirnya buku ini menjadi penegasan sunyi bahwa menulis tidak pernah benar-benar menuntut kelonggaran waktu, melainkan kejernihan niat, sebab dari tangan yang sibuk mengelola amanah itu terhimpun serpihan-serpihan kata, dari mimbar khutbah hingga ruang pidato resmi, yang kemudian menjelma menjadi karya utuh, seakan merangkai kembali jejak-jejak batin yang tercecer menjadi satu genggaman makna, sekaligus menyampaikan pesan lembut namun kuat bahwa siapa pun, bahkan di tengah kesibukan paling padat, tetap memiliki kemungkinan untuk menulis dan meninggalkan jejak, selama ia bersedia menengok ke dalam dan memungut kembali yang selama ini terserak dalam perjalanan hidupnya.

Salah satu pesan terkuat yang mengalir dalam buku ini adalah tentang sabar sebagai “Jalan Pulang”. Penulis mengingatkan bahwa sabar bukanlah kepasifan yang kaku atau keputusasaan yang dibungkus topeng ketabahan. Sabar adalah kesadaran yang hidup. sebuah aktivitas batiniah untuk melihat “tangan” Tuhan di balik setiap peristiwa. Dalam konteks birokrasi dan pelayanan publik yang digeluti penulis, sabar bertransformasi menjadi kemampuan untuk menundukkan ego. Ketika ekspektasi tidak bertemu dengan realitas, atau ketika dedikasi dibalas dengan pengabaian, di situlah sabar menjadi jembatan yang menghubungkan keluh kesah hamba dengan rahmat Sang Pencipta. Penulis mengajarkan kita untuk tidak menjadi “reaktif” terhadap perlakuan manusia, tetapi menjadi “responsif” terhadap kehendak Tuhan.

Penulis sering kali menekankan bahwa jabatan hanyalah “Selembar Kertas”. Ia bisa datang melalui SK (Surat Keputusan) dan bisa hilang pula melalui selembar kertas yang sama. Namun, yang tidak akan pernah hilang adalah jejak keikhlasan dan kemanfaatan yang ditinggalkan. Bagi Sruji Bahtiar, birokrasi bukan sekadar urusan administratif, melainkan ladang tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Setiap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat adalah bentuk sujud dalam rupa yang lain. Inovasi-inovasi yang ia gagas, seperti transformasi pelayanan di Kemenag, bukanlah sekadar untuk mengejar penghargaan atau efisiensi teknis, melainkan manifestasi dari sifat Ihsan: beribadah dan bekerja seolah-olah melihat Allah, atau setidaknya sadar bahwa Allah sedang mengawasi setiap detak niat di dalam dada.

Catatan tentang “Panglima Wakaf Uang” dalam buku ini menjadi bukti nyata bagaimana spiritualitas mampu untuk menggerakkan perubahan sosial yang masif. Penulis menunjukkan bahwa harta bukanlah sesuatu untuk digenggam erat dalam keserakahan, melainkan dialirkan agar menjadi keberkahan yang terus mengalir melintasi ruang dan waktu. Ketika dunia memperlakukan kita tidak sebagaimana yang diharapkan, saat dihina, dikhianati, atau disalahpahami, di situlah tauhid menemukan maknanya yang paling telanjang. Wakaf, dalam pandangan penulis, adalah latihan tertinggi untuk melepaskan keterikatan duniawi (zuhud). Ia adalah cara seorang hamba menyatakan dengan jujur bahwa “Aku bukanlah pemilik, melainkan hanya penjaga amanah sementara”. Dengan wakaf, harta yang fana diubah menjadi amal yang baka (kekal). Hati yang memberi dengan ikhlas adalah hati yang menemukan kebebasan sejati, bebas dari ketakutan akan kehilangan dan bebas dari diperbudak oleh materi.

Penulis mengajarkan bahwa luka adalah undangan untuk naik kelas spiritual. Orang yang sabar tidak mematikan rasa sakitnya, tetapi ia memurnikan rasa tersebut. Ia tetap merasakan perih, namun ia tidak membiarkan perih itu mendikte arah hidupnya atau merusak akhlaknya. Inilah “Sabar yang Cantik” (Sabrun Jamil), di mana keluhan hanya diadukan kepada Sang Khalik, bukan kepada makhluk. Hati yang telah mengalami pencerahan spiritual (Ma’rifat) akan mampu melihat perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai ladang pahala. Sikap moderat yang diusung penulis bukanlah sikap kompromi yang lemah, melainkan sikap yang lahir dari keluasan ilmu dan kedalaman rasa kasih sayang (Rahmah). Hati yang “pelangi” adalah hati yang mampu merangkul semua orang dengan cahaya cinta, tanpa kehilangan jati diri warnanya sendiri.

Melalui refleksi mendalam atas peristiwa Thaif yang dialami Rasulullah SAW, Dr. Akhmad Sruji Bahtiar mengajak kita melampaui pintu keadilan menuju pintu Ihsan. Keadilan memang membolehkan kita membalas setimpal, namun Ihsan mengajak kita untuk memaafkan bahkan mendoakan kebaikan bagi mereka yang telah melempar batu ke arah kita, membalas kejahatan dengan kejahatan bukanlah sebuah kemenangan, melainkan bentuk keterikatan jiwa pada rendahnya reaksi ego. Sebaliknya, memaafkan adalah proklamasi kebebasan jiwa. Seorang hamba yang mampu mengubah perihnya luka menjadi munajat yang naik ke langit telah berhasil melakukan “Jihad Besar”. Ia tidak lagi diperbudak oleh penilaian manusia, karena baginya, hanya penilaian Allah yang mutlak. Inilah inti dari keikhlasan: melakukan segalanya tanpa mengharap kembalinya budi, pujian, atau bahkan sekadar ucapan terima kasih. Inilah puncak dari seluruh perjalanan spiritual yang ingin disampaikan: bahwa di hadapan keburukan, kita memiliki pilihan untuk tetap menjadi “mata air”. Mata air yang memberikan kesejukan bagi mereka yang haus, dan tetap murni meskipun ada yang mencoba mengotorinya. Penulis mengingatkan kita bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan jiwa yang sudah selesai dengan urusan egonya.

Buku ini adalah suluk, sebuah perjalanan. Ia tidak ditujukan untuk membuat kita merasa lebih pintar, melainkan untuk membuat kita merasa lebih butuh kepada Allah. Melalui tulisan-tulisannya, Sruji Bahtiar telah meletakkan cermin di hadapan kita agar kita bisa melihat noda-noda di hati kita, lalu bergegas membersihkannya dengan air keikhlasan dan sabun kesabaran.

Semoga setiap butir hikmah dalam buku ini tidak hanya berhenti di mata pembaca, tetapi turun ke hati, lalu menggerakkan tangan untuk terus bekerja dengan cinta, melayani dengan ketulusan, dan kembali kepada Allah dengan jiwa yang tenang (mutmainnah). Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling berkuasa di bumi, tetapi siapa yang paling dicintai oleh Penghuni Langit.

Selamat menempuh perjalanan pulang ke dalam diri. Selamat menemukan cahaya di balik pelangi hati.

 

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *