BANYUWANGI (Lentera Sastra) Senja belum lama beranjak ketika suasana di Kelurahan Bakungan, Banyuwangi, berubah menjadi ruang budaya yang sarat makna, Minggu (31/5/2026). Bertepatan dengan libur panjang, masyarakat kembali menggelar ritual adat Seblang Bakungan, sebuah tradisi warisan leluhur Suku Osing yang hingga kini tetap hidup dan dijaga dengan penuh khidmat.
Rangkaian ritual diawali dengan Ider Bumi, prosesi sakral yang menjadi penanda dimulainya perhelatan adat. Menjelang malam, lampu listrik di seluruh wilayah kelurahan dimatikan. Kegelapan yang menyelimuti kampung bukanlah pertanda sepi, melainkan undangan untuk kembali mendekat pada jejak-jejak tradisi.
Di sepanjang tepi jalan, warga menggelar tikar bersama keluarga. Cahaya obor yang berpendar temaram menggantikan terang listrik, menciptakan suasana hangat yang mengingatkan pada kehidupan masyarakat tempo dulu. Di hadapan mereka tersaji pecel pitik, kuliner khas masyarakat Osing yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual adat. Namun hidangan itu belum boleh disantap sebelum prosesi Ider Bumi selesai dilaksanakan.
Ketika malam semakin turun, rombongan Ider Bumi bergerak dari titik awal desa mengelilingi seluruh penjuru kampung. Obor-obor menyala dibawa peserta prosesi, menyusuri jalan-jalan dan gang-gang sebagai simbol penerangan serta penjagaan wilayah. Di setiap persimpangan jalan, lantunan adzan dikumandangkan, memadukan nilai spiritual Islam dengan kearifan budaya lokal yang telah mengakar selama berabad-abad.
Prosesi tersebut bukan sekadar berjalan mengelilingi desa, melainkan ikhtiar kolektif masyarakat untuk memohon keselamatan, menolak bala, serta menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Setelah rombongan kembali ke titik awal dan lampu listrik kembali dinyalakan, warga serentak menikmati sajian pecel pitik yang telah tersaji sejak sore. Menyala kembalinya lampu menjadi penanda berakhirnya ritual Ider Bumi sekaligus dimulainya perayaan budaya berikutnya.
Sekitar pukul 20.00 WIB, panggung adat kembali menjadi pusat perhatian. Seorang penari Seblang memasuki arena dengan balutan busana tradisional yang sarat simbol. Berbeda dengan Seblang Olehsari yang diperankan oleh gadis yang belum menikah, Seblang Bakungan dibawakan oleh perempuan yang telah memasuki masa menopause. Dalam kepercayaan masyarakat Osing, perempuan tersebut dipilih melalui petunjuk spiritual dan dipercaya memiliki kemampuan menjadi penghubung antara dunia manusia dengan pesan-pesan leluhur.
Dengan gerak yang perlahan namun penuh wibawa, sang penari menari sambil membawa dua bilah keris. Iringan musik tradisional mengalun mengantar setiap langkah yang seolah menghidupkan kembali kisah-kisah lama yang tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat.
Pada pertengahan pertunjukan, panitia mengedarkan Kembang Dermo kepada para penonton. Dengan uang penebus sebesar Rp5.000, masyarakat dapat membawa pulang rangkaian bunga yang diyakini memiliki nilai simbolik dan spiritual.
Kembang Dermo tersusun dari tiga jenis bunga yang dirangkai menjadi satu dan ditancapkan pada bilah bambu menyerupai tusuk sate. Umumnya terdiri atas bunga kenanga, kembang kanthil atau cempaka putih, dan melati. Rangkaian bunga tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan titipan doa dan harapan yang dirajut dalam setiap helainya.
Bagi masyarakat Osing, Kembang Dermo dimaknai sebagai “bunga berkah”. Bunga ini dipercaya membawa keselamatan, menolak bala, melancarkan rezeki, serta menjadi simbol permohonan kesembuhan dari berbagai penyakit. Karena itulah banyak warga yang membawa pulang Kembang Dermo untuk disimpan di rumah sebagai pengingat doa dan harapan baik.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, Seblang Bakungan membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan kebijaksanaan para leluhur. Ketika lampu-lampu dipadamkan dan obor-obor dinyalakan, masyarakat Bakungan seakan sedang menegaskan bahwa cahaya kebudayaan tidak pernah benar-benar redup. Ia terus menyala dalam ingatan, keyakinan, dan kebersamaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.(syf)
