Lentera Sastra Banyuwangi
6 Maret 2026

Kapolresta Banyuwangi Bersua Budayawan di Rumah Kebangsaan: Menjaga Tanah Blambangan dengan Bahasa Kebudayaan

Banyuwangi –(Lentera Sastra) Malam di Banyuwangi, Kamis (05/03/2026), terasa lebih hangat dari biasanya. Angin yang datang dari arah selat Bali membawa aroma laut yang tipis, sementara lampu-lampu kota memantul lembut di sela-sel.a pohon yang berdiri tenang. Di sebuah Basecamp yang dikenal sebagai Rumah Kebangsaan, pertemuan yang sederhana namun sarat makna berlangsung: perjumpaan antara aparat negara dan para tokoh masyarakat dan para penjaga kebudayaan.

Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Dr. Rofiq Ripto Himawan, S.I.K., S.H., M.H., hadir di tengah para tokoh masyarakat, Jurnalis, aktivis dan budayawan Banyuwangi. Sosok yang baru mengemban amanah kepemimpinan sejak Januari 2026 itu dikenal bukan hanya sebagai perwira kepolisian, tetapi juga sebagai pribadi yang menaruh perhatian pada kebudayaan dan kearifan lokal.

Pertemuan tersebut mempertemukan sejumlah tokoh seni dan budaya Banyuwangi. Di antaranya Aekanu Hariyono dari komunitas Killing Osing yang juga Guide Internasional, KRT Ilham Triadi dari Panji Blambangan yang pernah menjadi pawang hujan ketika peringatan detik-detik proklamasi tahun 2024 di IKN, Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi yang tulisannya dimuat di media nasional, serta Pramoe Soekarno, pengurus Dewan Kesenian Belambangan . Mereka ikut berkumpul bukan sekadar untuk mendengarkan orang berbincang, melainkan untuk ikut merajut gagasan tentang bagaimana kebudayaan dapat berjalan seiring dengan ketertiban dan kehidupan sosial masyarakat.

Suasana pertemuan berlangsung hangat. Percakapan yang dilakukan para tokoh seperti Asisten sekretariat Kabupaten Banyuwangi M Yanuar Bramuda, Pengurus P-C NU Banyuwangii Gus Reza Azizi, Pengasuh Pondok Pesantren Ad Dzikro Achmad Wahyudi dan lain-lain tidak berjalan dalam bahasa formal yang kaku, melainkan mengalir seperti obrolan panjang para sahabat lama. Sesekali tawa pecah, sesekali pula diskusi menjadi hening ketika pembicaraan menyentuh soal identitas Banyuwangi sebagai tanah Blambangan,  tanah yang sejak lama dikenal sebagai ruang pertemuan berbagai tradisi.

Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Dr. Rofiq Ripto Himawan, dalam perbincangan tersebut menegaskan bahwa keamanan sebuah daerah tidak hanya dibangun melalui kekuatan aparat, tetapi juga melalui kekuatan masyarakat terutama melalui kebudayaan.

Sebagai alumnus Akademi Kepolisian tahun 2001 dari Batalyon Sarja Arya Racana, Kombes Rofiq memiliki latar belakang akademik yang kuat. Sebelum menjabat sebagai Kapolresta Banyuwangi, ia juga pernah bertugas sebagai Dosen Utama di Akademi Kepolisian (Akpol) Lemdiklat Polri, sebuah posisi yang menempatkannya dalam dunia pendidikan kepolisian.

Namun dalam pertemuan malam itu, pangkat dan jabatan seolah mencair. Ia hadir lebih sebagai sahabat dialog dengan tokoh masyarakat dan para pelaku budaya. Diskusi menyentuh banyak hal: mulai dari keamanan regional pelestarian tradisi Osing, ruang kreatif bagi generasi muda, hingga pentingnya menjaga Banyuwangi sebagai wilayah yang damai dan terbuka bagi keberagaman.

Kepada media ini, Aekanu Hariyono dari Killing Osing mengingatkan bahwa kebudayaan Banyuwangi bukan hanya tentang festival atau pertunjukan seni. Ia adalah napas kehidupan masyarakat, dari bahasa Osing yang masih digunakan sehari-hari hingga ritual-ritual adat yang diwariskan turun-temurun.

Sementara KRT Ilham Triadi yang juga ahli perkerusan dari Panji Blambangan menyinggung sejarah panjang tanah Blambangan sebagai ruang pertemuan peradaban. Dari kerajaan masa lampau hingga Banyuwangi modern, kebudayaan selalu menjadi jembatan yang menyatukan masyarakat.

Ditanya tentang berkembang literasi di Banyuwangi, kepada awak media Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi menambahkan bahwa sastra memiliki peran yang tidak kalah penting. Melalui puisi, cerita, dan narasi budaya, generasi muda dapat memahami jati diri daerahnya tanpa harus merasa terpisah dari dunia modern.

Pertemuan malam itu juga sejalan dengan pendekatan kepemimpinan Kapolresta Banyuwangi yang dikenal melalui gagasan Commander Wish, yaitu penguatan nilai iman, soliditas internal, serta pelayanan yang humanis kepada masyarakat.

Dalam beberapa bulan awal kepemimpinannya di Banyuwangi, Kombes Rofiq memang aktif membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat. Ia menjalin silaturahmi dengan organisasi keagamaan seperti PCNU, PD Muhammadiyah, dan LDII, sekaligus membuka ruang dialog dengan para pelaku seni dan budaya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa menjaga keamanan wilayah tidak cukup hanya dengan patroli dan penegakan hukum. Ia juga memerlukan kedekatan emosional dengan masyarakat.

Banyuwangi sendiri dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya luar biasa. Tradisi Osing, kesenian Gandrung, hingga berbagai ritual adat menjadi identitas yang terus dijaga oleh masyarakatnya.

Karena itu, pertemuan antara Kapolresta dan para tokoh masyarakat dan budayawan pada malam itu terasa simbolis. Ia seperti pertemuan dua dunia yang sebenarnya tidak pernah benar-benar terpisah: dunia keamanan dan dunia kebudayaan.

Sebab dalam banyak hal, kebudayaan adalah benteng pertama bagi sebuah masyarakat. Ia menjaga nilai-nilai kebersamaan, mengajarkan penghormatan pada perbedaan, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap tanah tempat seseorang berpijak.

Di Banyuwangi, keamanan tidak hanya dijaga oleh aparat yang berseragam. Ia juga dijaga oleh para penyair yang menulis puisi, para seniman yang mencipta karya, dan para budayawan yang merawat ingatan sejarah, dan para aktivis yang menjaga kebenaran tetap pada koridor yang di tentukan.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *