Lentera Sastra Banyuwangi
18 Maret 2026

Masjid Menjadi Penjaga Perjalanan: Takmir Banyuwangi Dilatih Menolong di Tengah Arus Mudik

BANYUWANGI (Lentera Sastra)  Menjelang datangnya musim pulang kampung menuju Idulfitri 2026, masjid-masjid di Banyuwangi tidak hanya bersiap menyambut langkah para pemudik untuk beristirahat dan menunaikan salat. Di balik dinding-dindingnya yang teduh, kini juga disiapkan kemampuan baru: menjadi ruang pertolongan pertama bagi siapa pun yang membutuhkan.

Dalam upaya itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penanganan Penderita Gawat Darurat (PPGD) Awam secara virtual, Selasa (17/3/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 48 takmir dari program Masjid Ramah Pemudik yang sebelumnya ditetapkan oleh Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, serta aparatur sipil negara dari Seksi Bimbingan Masyarakat Islam.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan langkah strategis untuk membangun jejaring pertolongan di tengah masyarakat.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin membangun kolaborasi yang kuat antara takmir masjid dan petugas kesehatan. Harapannya, para takmir dapat menjadi penolong pertama di lingkungan masjid sebelum tenaga medis tiba,” ujarnya.

Bagi Banyuwangi yang menjadi jalur penting perlintasan pemudik di ujung timur Pulau Jawa, masjid-masjid yang tersebar di sepanjang jalur perjalanan menjadi titik singgah alami bagi para pelancong yang menempuh perjalanan jauh. Karena itu, kesiapsiagaan takmir dipandang sebagai bagian penting dari sistem perlindungan masyarakat.

Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali sejumlah pengetahuan praktis yang dapat digunakan ketika menghadapi kondisi darurat di lingkungan masjid.

Materi pertama menekankan prinsip dasar PPGD, mulai dari memastikan keamanan lokasi, memeriksa kesadaran dan pernapasan korban, hingga langkah cepat memanggil bantuan medis. Takmir juga dikenalkan pada mekanisme menghubungi layanan darurat Public Safety Center 119, sebuah sistem kegawatdaruratan nasional yang terhubung langsung dengan ambulans dan fasilitas kesehatan.

Selain itu, peserta dilatih teknik penyelamatan dasar seperti bantuan hidup dasar melalui kompresi dada (CPR) pada kasus henti jantung, penanganan korban tersedak, hingga cara menghentikan perdarahan serta menolong korban yang mengalami pingsan.

Tidak hanya kemampuan pertolongan, masjid yang tergabung dalam program Masjid Ramah Pemudik juga diwajibkan memiliki perlengkapan kesehatan dasar. Setiap masjid diminta menyediakan kotak pertolongan pertama yang memadai, berisi berbagai perlengkapan medis sederhana.

Di dalamnya antara lain tersedia obat luar seperti minyak kayu putih, minyak tawon, dan balsam. Untuk penanganan luka disiapkan kasa steril, cairan antiseptik seperti betadine, cairan pembersih luka, serta plester dan perban dengan berbagai ukuran. Sementara untuk obat-obatan dasar, masjid juga diminta menyediakan obat lambung dan parasetamol.

Dengan langkah ini, masjid tidak hanya menjadi tempat beristirahat bagi para pemudik, tetapi juga menjelma sebagai simpul kemanusiaan di sepanjang perjalanan. Di tengah arus kendaraan yang tak henti bergerak menuju kampung halaman, masjid-masjid Banyuwangi kini berdiri sebagai penjaga sunyi—siap memberi pertolongan ketika perjalanan membutuhkan tangan pertama yang sigap. 🕌🚑

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *