Lentera Sastra Banyuwangi
2 Mei 2026

Kuntulan Ewon: Ketika Banyuwangi Menyatukan Seni, Selawat, dan Jati Diri

Di senja yang menggantung tenang di langit Banyuwangi, kami duduk bertiga: Hasan Basri, Syamsudin Adlawi, dan saya sendiri, Syafaat. Kami berbincang sambil menyaksikan denyut kehidupan yang berputar di hadapan panggung-panggung kesenian. Dari percakapan sederhana itu lahir satu tanya yang sesungguhnya adalah kegelisahan: bila Gandrung Sewu mampu menjadikan Banyuwangi termasyhur hingga ke banyak penjuru, mengapa Kuntulan  tidak diberi ruang untuk bangkit sebagai mahkota yang lain? Bukankah tanah yang subur tidak hanya menumbuhkan satu bunga, melainkan beragam warna yang sama-sama indah dipandang mata?

Selama ini Banyuwangi memang dikenang dengan ikon gandrungnya. Namun sesungguhnya di dada bumi Blambangan tersimpan tarian-tarian lain yang tak kalah agung, salah satunya adalah kuntulan—tarian yang bergerak di antara irama rebana, lantunan selawat, dan puji-pujian yang mengalir seperti mata air iman. Ia bukan sekadar gerak tubuh, melainkan gerak jiwa; bukan hanya seni pertunjukan, tetapi dakwah yang menjelma bunyi dan langkah. Dalam tiap hentak rebana, terdengar ajakan menuju kebaikan. Dalam tiap syair Using yang mengalun, terasa bahwa budaya dapat menjadi jalan pulang menuju Tuhan.

Tahun lalu kami bertiga menaruh perhatian pada jejak-jejak kesenian semacam ini. Kami meneliti, menulis, dan menelusuri denyut Burdah serta musik-musik yang bertumpu pada tabuhan rebana. Sebab kami percaya, bangsa yang besar bukan hanya menjaga gedung-gedungnya, tetapi juga menjaga gema suaranya. Alhamdulillah, tahun ini harapan itu menjelma kenyataan. Apa yang dulu hanya menjadi rasa-rasa dalam percakapan kini berdiri nyata di panggung sejarah.

Hari ini di Taman Blambangan, di hadapan Abdul Mu’ti, tarian kolosal Kuntulan Ewon akhirnya terlaksana. Ia bukan sekadar pertunjukan massal, melainkan pernyataan bahwa Banyuwangi tidak hanya kaya akan panorama, tetapi juga kaya akan makna. Bahwa religiusitas di daerah ini tidak hanya berdiri di mihrab dan mushala, tetapi juga menari di panggung budaya. Nilai-nilai agama tidak dipisahkan dari seni, melainkan dirangkul dan dijadikan nyawa dari tradisi.

Di tengah zaman yang kerap memisahkan hiburan dari hikmah, Kuntulan Ewon datang membawa pesan sebaliknya: bahwa yang indah tak harus kosong, dan yang religius tak harus kaku. Seni bisa bersujud tanpa kehilangan pesonanya. Budaya bisa berzikir tanpa kehilangan gemerlapnya. Maka hari ini Banyuwangi bukan hanya menampilkan tarian, tetapi menampilkan jati diri: bahwa tanah ini tahu cara merawat warisan, memuliakan agama, dan menyatukan keduanya dalam irama yang membuat hati ikut berdetak.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *