BANYUWANGI, (Lentera Sastra) Pagi di Taman Blambangan, Sabtu (02/05/2026) tidak sekadar menyingsingkan panas matahari, tetapi juga membuka lembaran makna. Langit Banyuwangi seolah menunduk hormat ketika ribuan manusia berkumpul dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional. Di tengah Taman Blambangan yang dipenuhi wajah-wajah harapan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti berdiri sebagai inspektur upacara, memimpin penghormatan kepada ilmu, kepada guru, dan kepada masa depan bangsa.
Pendidikan tidak hadir sendirian. Ia datang bergandengan tangan dengan seni dan kebudayaan. Dari denyut rebana dan gema shalawat, lahirlah tarian kolosal Kuntulan Ewon, yang mengguncang udara dengan gerak serempak dan semangat menyala. Kaki-kaki penari menghentak bumi, seakan sedang membangunkan ingatan bahwa negeri ini dibangun bukan hanya oleh gedung sekolah, tetapi juga oleh akar tradisi .
Di antara para tamu undangan, hadir pula jajaran Dewan Kesenian Blambangan (DKB), para penjaga nyala budaya yang selama ini merawat denyut kesenian Banyuwangi. Wajar bila mereka hadir dengan mata berbinar, sebab Kuntulan Ewon adalah benih gagasan yang mereka tanam, lalu tumbuh menjadi pohon pertunjukan yang menaungi banyak jiwa.
Ketika tarian itu berputar seperti pusaran doa, para penonton larut dalam pesona. Rebana ditabuh bukan sekadar alat musik, melainkan jantung yang berdetak bersama. Shalawat dilantunkan bukan sekadar lagu, melainkan embun yang menyejukkan batin. Taman Blambangan pagi itu berubah menjadi panggung tempat seni, iman, dan pendidikan saling berpelukan.
Dalam amanatnya, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa bangsa yang ingin maju harus terlebih dahulu memuliakan pendidikan. Ia menegaskan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah kini menempuh jalan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), sebuah ikhtiar agar ruang kelas tidak hanya melahirkan murid yang pandai menjawab soal, tetapi juga manusia yang mampu memahami hidup.
“Jika hendak memajukan bangsa, perbaiki pendidikan. Jika hendak memperbaiki pendidikan, mulailah dari dalam kelas,” demikian pesan yang menggema, sederhana namun mengandung samudra makna.
Ia juga menjelaskan langkah-langkah besar yang sedang ditempuh negara: pembangunan dan revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, serta penyediaan sarana yang layak. Sebab anak-anak tidak cukup diberi cita-cita, mereka juga harus diberi ruang yang pantas untuk menumbuhkannya.
Disebutkan, pada tahun 2025 sebanyak 16.167 satuan pendidikan telah tersentuh program pembangunan dan revitalisasi. Sementara 288.000 lebih sekolah telah menerima papan interaktif digital, tanda bahwa masa depan mulai diketuk dari dinding-dinding kelas.
Maka Hardiknas di Banyuwangi tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pertemuan antara masa lalu dan masa depan. Kuntulan Ewon mengajarkan bahwa tradisi tak pernah tua, selama masih ditarikan dengan cinta. Pendidikan mengingatkan bahwa bangsa tak akan besar, bila ilmu hanya menjadi slogan.
Dan di Taman Blambangan, pagi itu, keduanya berdiri sejajar—budaya sebagai akar, pendidikan sebagai sayap.
