Lentera Sastra Banyuwangi
23 Maret 2026

Menebar Maaf, Meneguhkan Ukhuwah: Peran BKPRMI di Idul Fitri 2026

Menebar Maaf, Meneguhkan Ukhuwah: Peran BKPRMI di Idul Fitri 2026

Penulis : Dr. Sayu Hernanik, M.Pd


Hari Raya Idul Fitri 1447 H tahun 2026 hadir dengan warna yang berbeda. Sebagian umat Islam merayakannya pada 20 Maret 2026, sementara sebagian lainnya pada 21 Maret 2026. Perbedaan ini bukanlah hal baru, namun selalu mengingatkan kita bahwa dalam keberagaman, terdapat ruang untuk belajar tentang arti kedewasaan dan kebersamaan.
Idul Fitri bukan sekadar penanda berakhirnya bulan Ramadan. Ia adalah momentum kembali kepada fitrah kembali menjadi pribadi yang bersih, tulus, dan penuh kasih. Perbedaan penetapan hari raya seharusnya tidak menjauhkan hati, justru menjadi jembatan untuk saling menghargai dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ
“… dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai …”
(QS. Ali Imran 103)
Ayat ini seakan menjadi pesan bahwa persatuan jauh lebih penting daripada perbedaan. Dalam kehidupan saat ini, ketika perbedaan mudah sekali memicu perdebatan, Idul Fitri mengajarkan kita untuk kembali merangkul, bukan menjauh.
Lebih dari itu, Idul Fitri adalah tentang memaafkan. Tentang keberanian untuk melepas ego dan membuka hati. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٢٢
“… dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur 22)
Ayat ini bukan sekadar perintah, tetapi panggilan lembut untuk hati kita. Saat kita diminta memaafkan, sesungguhnya Allah sedang membuka jalan agar kita pun dimaafkan. Saat kita diminta berlapang dada, sesungguhnya Allah sedang menyiapkan ketenangan jiwa yang tidak ternilai harganya.
Memaafkan bukan berarti melupakan sepenuhnya luka yang ada, tetapi memilih untuk tidak lagi membiarkan luka itu menguasai hati. Memaafkan adalah keberanian untuk melepaskan beban, agar hati menjadi ringan dan hidup terasa lebih damai.
Bukankah kita semua berharap Allah mengampuni kesalahan dan kekurangan kita? Bukankah kita ingin dosa-dosa kita dihapus, dan hidup kita dipenuhi rahmat-Nya?
Jika kita menginginkan itu semua, maka maafkanlah mereka yang pernah melukai kita. Lapangkanlah dada, buka kembali pintu silaturahmi, dan mulailah lembaran baru dengan penuh keikhlasan. Karena sejatinya, ketika kita memaafkan, kita tidak kehilangan apa-apa justru kita mendapatkan kemuliaan, ketenangan, dan ampunan dari Allah SWT.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa memaafkan adalah kemuliaan:
وَمَا زَادَ اللّٰهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“… Allah tidak menambah kepada seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan.”
(HR. Sahih Muslim)
Dalam kehidupan sehari-hari, memaafkan sering kali terasa sulit. Namun justru di situlah letak keindahannya ketika kita mampu memaafkan, kita sedang meninggikan derajat diri kita sendiri.
Idul Fitri juga menghadirkan momen yang paling dirindukan: berkumpul bersama keluarga. Suasana hangat terasa ketika tangan saling berjabat, pelukan penuh haru terjalin, dan ucapan “mohon maaf lahir dan batin” terucap dengan penuh keikhlasan. Tidak jarang, air mata menjadi saksi betapa berharganya sebuah kebersamaan..
Ketua BKPRMI Banyuwangi, H. Mujiono, S.H, menyampaikan pesan yang penuh makna:
“Perbedaan dalam penetapan Idul Fitri hendaknya kita sikapi dengan bijak. Ini bukan perbedaan yang memisahkan, tetapi justru menjadi kesempatan untuk mempererat persaudaraan. BKPRMI hadir sebagai wadah ukhuwah Islamiyah yang mengajak generasi muda untuk tetap menjaga persatuan dalam keberagaman.”
Beliau juga menambahkan:
“Idul Fitri adalah saat paling indah untuk kembali kepada keluarga. Saling memaafkan dengan tulus, menghapus kesalahan, dan mempererat silaturahmi .
Di ujung perjalanan Ramadan, kita belajar bahwa tidak semua luka harus diingat, dan tidak semua salah harus disimpan. Ada saatnya hati dilembutkan oleh keikhlasan, dan jiwa dikuatkan oleh maaf yang tulus.
Semoga Hari Raya Idul Fitri ini menjadi cahaya yang menerangi kembali hati-hati yang sempat redup, menyatukan kembali yang sempat renggang, dan menghadirkan damai di setiap langkah kehidupan.
Karena pada akhirnya, bukan gemerlap perayaan yang membuat hari ini bermakna, tetapi keikhlasan untuk memaafkan, keberanian untuk membuka lembaran baru, dan ketulusan untuk kembali mencintai sesama.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H / 2026 M
Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.
Di antara gema takbir yang berkumandang, mari kita kembali kepada hati yang bersih.
Lepaskan segala khilaf, hapuskan segala luka, dan eratkan kembali tali persaudaraan.
Semoga Idul Fitri ini menjadi awal dari hati yang lebih lapang, hubungan yang lebih hangat, dan kehidupan yang penuh kedamaian.

By Mujiono ,S.H.

Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Banyuwangi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *