Kuntulan Ewon
Oleh : Syafaat
Banyuwangi selama ini kerap dikenang lewat lenggak Gandrung yang memesona, atau hamparan ribuan penari dalam Gandrung Sewu di tepian Pantai Boom yang menjadikan laut seakan bertepuk tangan pada kebudayaan. Namun sesungguhnya ujung timur Pulau Jawa ini tidak hanya menyimpan tari yang beraroma pesisir dan romantika agraris. Di tanah yang diselimuti angin Selat Bali itu, tumbuh pula kesenian bernapas zikir, berdenyut rebana, dan bergerak dengan semangat keberanian. Itulah Kuntulan, tarian yang tidak sekadar dipentaskan, melainkan dihidupkan sebagai doa yang menjelma gerak.
Kuntulan adalah bukti bahwa budaya tidak selalu lahir dari pesta pora, tetapi juga dari zikir panjang sejarah. Ia hadir dari ujung timur pulau jawa, seiring berkembangnya seni hadrah di Banyuwangi. Pada masa itu masyarakat tidak memisahkan agama dari kegembiraan, dan tidak menganggap ibadah harus selalu sunyi. Maka lahirlah satu bentuk ekspresi yang mempertemukan puji-pujian kepada Tuhan dengan hentakan kaki, antara Burdah dengan formasi tari, antara rebana dengan langkah silat. Dari sanalah Kuntulan menjadi bahasa rakyat: religius tetapi riang, khusyuk tetapi tetap merakyat.
Gerakannya tegas, patah-patah, kadang menyerupai jurus pencak silat. Seakan tubuh para penari sedang berkata bahwa keindahan tidak harus lemah gemulai. Dalam Kuntulan, kelembutan justru berdiri berdampingan dengan ketegasan. Ada langkah satu-satu, putaran cepat, lompatan kecil, dan gerakan hormat yang mengandung adab. Semua dirangkai dalam formasi kompak, menandakan bahwa keserasian lahir bukan dari kesamaan wajah, tetapi dari kesatuan irama.
Di sinilah Kuntulan menjelma lebih dari sekadar hiburan yang datang lalu pulang bersama tepuk tangan. Ia adalah madrasah sunyi yang mengajarkan disiplin tanpa perlu suara tinggi, menanamkan kerja sama tanpa harus menggelar pidato panjang, serta menumbuhkan cinta tradisi tanpa ancaman dan paksaan. Dalam setiap hentak kaki, ada pelajaran tentang ketepatan waktu; dalam setiap ayunan tangan, ada makna tentang keselarasan. Bahkan dalam Kuntulan Carok (dalam bahasa Osing berarti bertemu) dua kelompok dipersatukan di satu arena, saling berhadapan namun bukan untuk bermusuhan, melainkan untuk menunjukkan keindahan harmoni. Mereka dapat bergerak serempak meski sebelumnya tak sempat gladi, seakan telah dipersatukan oleh napas yang sama dan irama yang satu.
Anak-anak yang menari di dalamnya sejatinya sedang ditempa oleh tangan-tangan tak terlihat menjadi insan yang mengenal tempo hidup sebagaimana alam tunduk pada putaran waktu yang ditetapkan Tuhan. Mereka belajar menghargai ruang sesama, sebagaimana manusia diajarkan untuk tidak saling mendesak dalam kehidupan, sebab setiap jiwa memiliki tempat yang telah digariskan. Mereka menjaga barisan kebersamaan laksana saf dalam salat, rapat bukan sekadar karena berdampingan, melainkan karena hati diarahkan pada tujuan yang sama. Mereka taat pada aba-aba, sebagaimana seorang hamba belajar patuh pada panggilan kebaikan dan menjauhi kesia-siaan. Nilai-nilai luhur semacam ini acap tercecer di ruang kelas yang terlalu sibuk menghitung angka dan mengejar peringkat, padahal di panggung kebudayaan ia tumbuh subur, mekar melalui gerak yang jujur dan rasa yang bening. Sebab tidak semua ilmu lahir dari buku; sebagian turun melalui irama, melalui kebersamaan, melalui tubuh yang bergerak dalam adab, dan melalui jiwa yang perlahan mengenali bahwa hidup bukan sekadar menjadi pandai, melainkan menjadi berarti di hadapan sesama dan mulia di hadapan Sang Pencipta.
ketika pergelaran Kuntulan Ewon dilahirkan, sesungguhnya kita sedang menorehkan lembar baru tentang ikhtiar menyatukan ilmu dengan warisan, sekolah dengan kebudayaan, akal dengan ruh. Kata ewon dalam bahasa Osing berarti ribuan, namun di hadapan langit maknanya lebih dari sekadar jumlah; ia adalah tanda berjamaahnya harapan, bersatunya langkah-langkah muda dalam satu niat mulia. Ketika ribuan siswa dari SD/MI hingga SMA/MA bergerak serentak dalam satu arena, yang tampak bukan hanya gelombang manusia menari, melainkan lautan generasi yang sedang dituntun pulang menuju akar asalnya.
Di setiap hentakan kaki terdengar pesan agar mereka tidak hanyut oleh arus zaman, di setiap ayunan tangan tersimpan doa supaya ilmu yang dipelajari tidak memutus hubungan dengan tanah kelahiran. Sebab pohon yang tinggi hanya akan kokoh bila akarnya mencengkeram bumi, dan manusia yang berilmu hanya akan mulia bila mengenal asal-usul serta menghormati jejak leluhurnya. Dalam Kuntulan Ewon, pendidikan bukan semata mengisi kepala, melainkan menyalakan ingatan, agar anak-anak tumbuh sebagai insan yang cerdas pikirannya, teduh hatinya, dan teguh identitasnya.
Di zaman ketika banyak anak lebih hafal tarian yang lahir dari cahaya layar gawai daripada gerak warisan yang tumbuh dari debu tanah kelahirannya, sesungguhnya kita sedang menyaksikan tubuh yang lincah tetapi akar yang mulai renggang. Padahal tarian kita bukan sekadar lengkung tangan dan hentak kaki, melainkan doa yang diberi bentuk, nasihat yang diberi irama, serta jejak para leluhur yang disulam dengan nilai-nilai langit. Di sanalah Kuntulan Ewon hadir sebagai perlawanan yang anggun, tidak mencaci modernitas dan tidak memerangi zaman, tetapi menegur kelalaian manusia yang terlalu sibuk menatap layar hingga lupa menatap asal-usulnya. Ia mengingatkan bahwa kecepatan teknologi tanpa jati diri hanya akan melahirkan generasi yang gesit berlari namun hampa arah, cepat bergerak namun miskin makna. Sedangkan budaya adalah ruh yang mengisi langkah itu, seperti iman yang menghidupkan jasad; tanpanya manusia hanya bergerak, tetapi tidak benar-benar berjalan menuju cahaya.
Lebih jauh lagi, Kuntulan menunjukkan bahwa Islam dan budaya lokal bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. Dalam tubuh Banyuwangi, keduanya justru saling menguatkan. Rebana berbunyi bersama kendang. Syair pujian mengalun bersama bahasa Osing. Gerak silat bersanding dengan estetika panggung. Ini pelajaran penting di tengah dunia yang gemar membelah: bahwa peradaban tumbuh bukan dari pertengkaran identitas, melainkan dari kemampuan merangkul perbedaan.
Kita patut khawatir jika suatu hari anak-anak hanya mengenal Kuntulan sebagai arsip video, bukan pengalaman hidup. Sebab budaya yang hanya disimpan di museum perlahan akan menjadi jenazah yang dipoles rapi. Tradisi harus diberi napas melalui latihan, pentas, regenerasi, dan kebanggaan kolektif. Kuntulan Ewon adalah salah satu cara meniupkan napas itu. Maka Hari Pendidikan Nasional tidak cukup diperingati dengan seremonial pidato dan baliho bertema luhur. Pendidikan sejati adalah ketika sekolah menjadi jalan pulang menuju kebudayaan. Saat murid bukan hanya pandai menjawab soal, tetapi juga tahu dari mana ia berasal. Saat pelajaran bukan hanya angka rapor, tetapi juga denyut identitas.
Banyuwangi telah memberi contoh: ribuan anak menari bukan sekadar mengejar rekor, melainkan menjaga warisan. Dan di tengah debu zaman yang mudah melupakan, Kuntulan Ewon berdiri sebagai pengingat, bahwa bangsa yang besar bukan hanya yang mampu berlari ke masa depan, tetapi yang tahu cara menari bersama masa lalunya.
