
Semangat Tandang Bareng
Kesuksesan pertemuan para perantau di Banyuwangi hari ini pada Senin, 23 Maret 2026 bukan sekadar agenda seremonial yang dipenuhi nostalgia. Ia menjelma menjadi ruang temu yang hangat, tempat rindu bertaut dengan harapan. Dari Sumatera, Sulawesi, hingga Papua, bahkan lintas benua seperti Jerman dan Amerika Serikat, para perantau kembali dalam satu semangat: pulang bukan hanya untuk mengenang, tetapi untuk membangun.
Di tengah iringan musik kendang kempul dan suguhan kudapan khas daerah, suasana akrab terasa begitu hidup. Namun bagi penulis, yang paling menyentuh bukan hanya hangatnya kebersamaan, melainkan paparan capaian daerah yang disampaikan oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di tengah ratusan perantau yang hadir. Secara tegas perempuan nomor satu di Banyuwangi ini menyampaikan bahwa data bukan sekadar angka, melainkan refleksi kerja kolektif yang nyata. Pertumbuhan ekonomi Banyuwangi tahun 2025 mencapai 5,65 persen, melampaui rata-rata nasional (5,11 persen) dan provinsi (5,33 persen). Pendapatan per kapita menembus Rp67,08 juta, tertinggi di kawasan Sekarkijang (Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang). Angka kemiskinan turun menjadi 6,13 persen (turun 0,41 persen dari tahun sebelumnya), gini rasio berada di angka 0,29, dan tingkat pengangguran terbuka hanya 3,94 persen.
Capaian ini tentu bukan hasil kerja satu pihak. Ia adalah buah dari kolaborasi panjang antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh elemen daerah—termasuk para perantau yang tetap terhubung secara emosional maupun kontribusi nyata. Ajakan “tandang bareng” yang disampaikan Bupati Ipuk menjadi pesan kuat bahwa pembangunan tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan keterlibatan kolektif, rasa memiliki, dan komitmen bersama dari semua pihak.
Dalam konteks ini, penulis melihat termasuk di dalamnya tidak tertinggal pada peran strategis remaja masjid sebagai bagian penting dari ekosistem pembangunan daerah. Remaja masjid hari ini tidak lagi bisa dipandang sebagai pelengkap kegiatan keagamaan. Mereka telah bertransformasi menjadi agen perubahan sosial dan ekonomi. Dari pelatihan kewirausahaan, pengelolaan pasar rakyat, hingga pengembangan usaha produktif seperti peternakan dan budidaya, semuanya menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari komunitas kecil.
Masjid pun kembali menemukan ruhnya sebagai pusat peradaban. Ia bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang pemberdayaan. Ketika pemuda dilibatkan dalam aktivitas produktif, mereka tidak hanya membangun ekonomi, tetapi juga membangun karakter. Kenakalan remaja dapat ditekan, solidaritas sosial tumbuh, dan semangat gotong royong kembali hidup dalam denyut masyarakat.
Sebut saja gerak nyata dari pemuda remaja masjid di Lombok barat melaksanakan kegiatan pelepasan bibit ikan yang menjadi bagian dari gerakan bangun ekonomi masjid (Gerbang Emas) di bawah pilar utama ketahanan pangan berbasis masjid dengan pemanfaatan lahan kosong di sekitar masjid dan milik jamaah untuk kegiatan produktif seperti menanam, bertani dan berkebun. Yang hasilnya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan jamaah, tetapi juga dalam rangka mendukung program mandiri seperti dapur MBG (Makan Bergizi Gratis).
Waba’du konsep kolaborasi ini beriringan dengan penjelasan Hadari Nawawi dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia (2003), kolaborasi adalah usaha bersama antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang sama, dengan ciri adanya tujuan bersama, pembagian tugas, dan interaksi sosial. Apa yang terjadi di Banyuwangi hari ini adalah manifestasi nyata dari konsep tersebut—kolaborasi yang hidup, bergerak, dan menghasilkan dampak.
Dan Banyuwangi memberi pelajaran penting bagi semua pihak: kemajuan bukan hanya soal angka, tetapi tentang bagaimana kebersamaan dijaga dan dirawat.
Tandang Bareng, dalam konteks ini, adalah tentang mengambil peran. Dan ketika semua pihak bersedia “tandang bareng”, maka kemakmuran bersama bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan keniscayaan yang terus dibangun bersama.
Oleh : Mohamad Soleh Kurniawan SE, selaku Sekretaris Daerah LPPEKIN pada DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi 2026-2030