Oleh Haikal Kafili
Enaknya menjadi orang NU itu barangkal begini: ibadah terasa lepas, tidak dibatasi oleh hiruk-pikuk perdebatan, tetapi tetap memiliki arah yang jelas—hanya kepada Allah SWT.
Di kampung-kampung, ketika warga berkumpul untuk doa dan selamatan, dari luar mungkin terlihat sederhana. Hanya duduk bersama, membaca doa, lalu makan nasi selamatan. Seolah-olah ritual biasa yang berulang dalam kehidupan masyarakat.
Namun, bagi warga NU, di dalamnya tersimpan makna yang jauh lebih dalam.
Ada kekeluargaan. Ada kebersamaan. Ada kesederhanaan. Ada penghormatan kepada tradisi. Dan yang paling penting, ada ketenangan hati dalam beribadah kepada Allah SWT.
Seperti suasana Rebo Wekasan, atau yang oleh sebagian masyarakat Osing disebut Bongkasan. Warga datang bukan karena dipaksa. Tidak ada yang memaksa harus begini atau harus begitu. Mereka datang karena merasa nyaman. Mereka berkumpul karena ingin berdoa.
Magrib berjamaah. Kemudian dilanjutkan dengan salat dan doa memohon perlindungan kepada Allah dari segala bala dan keburukan. Mereka melakukannya dengan tenang, bebas, dan khusyuk. Setelah itu ditutup dengan doa bersama, kemudian makan nasi selamatan.
Sederhana sekali.
Tetapi justru dalam kesederhanaan itulah terlihat wajah keberagamaan masyarakat NU.
Tidak banyak tuntutan. Tidak banyak suara. Tidak sibuk mencari pembenaran. Yang penting berdoa kepada Allah, memohon ridha-Nya, dan berharap keselamatan.
Sementara di luar sana mungkin masih ada orang yang sibuk hukum-menghukum, memperdebatkan boleh dan tidak boleh, bahkan terkadang sampai saling menyalahkan.
Warga kampung justru sudah merasa cukup dengan keyakinan sederhana:
“Allah Maha Mengetahui isi hati dan niat kita.”
Mereka tidak sedang merasa paling benar. Mereka hanya sedang menjalankan apa yang diyakini baik, diwarisi dari para kiai dan orang-orang tua, kemudian diisi dengan doa dan pengharapan kepada Allah SWT.
Di sinilah barangkali salah satu enaknya menjadi orang NU.
Tradisi tidak dipertentangkan dengan agama. Kebersamaan tidak dipisahkan dari ibadah. Selamatan tidak sekadar makan bersama. Doa tidak sekadar rangkaian kalimat.
Semuanya menjadi satu dalam kehidupan masyarakat.
Ngaji ada. Tahlil ada. Salat berjamaah ada. Doa ada. Selamatan ada. Guyub ada. Kekeluargaan juga tetap terjaga.
Karena bagi orang NU, keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana seseorang beribadah kepada Allah secara pribadi, tetapi juga bagaimana agama mampu menghadirkan ketenteraman, persaudaraan, dan kebaikan di tengah masyarakat.
Maka ketika malam Rebo Wekasan itu warga duduk bersama, membaca doa, mengangkat tangan, lalu menikmati nasi selamatan, jangan hanya melihat apa yang tampak.
Lihatlah suasana batinnya.
Ada hati yang sedang memohon perlindungan.
Ada hati yang sedang bersyukur.
Ada hati yang sedang berharap keselamatan.
Dan ada hati yang merasa nyaman karena bisa beribadah bersama saudara dan tetangganya.
Itulah keberagamaan yang hidup di tengah masyarakat.
Tidak perlu ramai mempertontonkan kesalehan.
Tidak perlu sibuk mempertentangkan sesama.
Wes pokoke, ibadah marang Gusti Allah, nyuwun ridho lan keselamatan.
Dan setelah doa selesai, nasi selamatan pun disantap bersama.
Sederhana, tetapi penuh makna.
Biasa, tetapi membekas.
Tradisi, tetapi di dalamnya ada doa.
Berkumpul, tetapi sesungguhnya sedang merawat persaudaraan.
Mungkin itulah salah satu wajah Islam NU yang tumbuh dari bawah: Islam yang tidak membuat orang kampung merasa asing dengan agamanya sendiri.
