Londo Ireng Ndasmu
Oleh : Syafaat
Saya tidak sedang membahas upah pengupas bawang yang katanya upahnya Rp700.000 per kilogram, mungkin itu salah ucap atau salah data, saya sendiri sering menangis ketika mengupas bawang. Mata perih, air mata jatuh. Bukan karena patah hati. Bukan pula karena sedang menghitung berapa upah mengupas satu kilogram bawang. Kadang ada sesuatu yang membuat manusia menangis tanpa harus kehilangan siapa-siapa, sesuatu yang sederhana: tidak setiap air mata membutuhkan kisah. Tidak semua tangisan harus memiliki alasan yang penting. Kadang mata hanya perlu berair karena dipertontonkan dengan sesuatu yang pedih, dan kita tidak dapat berbuat apa-apa.
Dalam hamparan kehidupan media digital yang bergerak cepat, manusia kerap kali terjebak dalam riak prasangka dan kepedihan yang dangkal. Ketika jemari mengupas bawang, air mata meleleh bukan karena luka nurani atau patah hati, melainkan perih alami yang tak menuntut penjelasan teologis. Tidak setiap air mata membutuhkan kisah, dan tidak semua tangisan harus berlandaskan alasan. Betapa kontrasnya mata yang berair dalam sunyi itu dengan mulut manusia yang begitu ringkik: dengan gampang dan enteng ada yang melempar umpatan “Ndasmu!” . Lisan meluncurkan kata bagai batu yang dilempar dari jauh ke dalam kegelapan; kita jarang peduli di mana batu itu bersandar dan betapa dalam luka iman yang diukirnya. Dari sana, ingatan sejarah membawa kita pada metafora Londo Ireng. Mulut manusia sering kali berbeda dengan mata yang bisa menangis tanpa banyak bicara. Mulut justru kadang berbicara tanpa terlebih dahulu berpikir. Dengan enteng saja seseorang mengatakan, “Ndasmu!”. Kata-kata meluncur seperti batu yang dilempar dari kejauhan. Kita tidak selalu tahu di mana batu itu akan jatuh, siapa yang terkena, dan seberapa dalam lukanya.
Di era perambah digital, ingatan mesin seakan lebih panjang daripada ingatan manusia. Satu ketikan dapat membuka hamparan video, rekayasa kecerdasan buatan, dan beragam klarifikasi. Media sosial pun menjadi cermin yang memantulkan tabiat dan wajah batin pemiliknya. Inilah paradoks zaman: manusia mudah menenun citra, tetapi rapuh merobeknya sendiri karena emosi sesaat; amarah beberapa menit dapat menjadi jejak bertahun-tahun. Menghapus jejak godaan setan barangkali lebih mudah daripada menghapus jejak digital, sebab bisikan setan masih menyisakan pintu taubat dan ampunan Allah, sementara jejak dari jemari sendiri dapat disalin, diunduh, disebarkan, dan disimpan mesin tanpa mengenal lupa. Ruang yang kita kira pribadi di dalam gawai sesungguhnya hanyalah rahasia yang belum menemukan jalan menuju kerumunan. Karena itu, sebelum jemari menulis dan lidah menumpahkan amarah, hendaknya hati bertanya kepada Tuhan: apakah yang kita tinggalkan akan menjadi amal yang menerangi jalan, atau bayang-bayang dosa yang terus mengikuti langkah? Maka ketika seseorang berteriak, “Londo Ireng!”, saya justru ingin menjawab dengan bahasa yang lebih sederhana: “Londo Ireng ndasmu!”
Montir memperbaiki mesin dengan menghentikannya agar setiap bagian yang rusak dapat diperiksa, sedangkan dokter mengobati manusia ketika jantung masih berdetak dan napas masih berembus. Demikian pula kehidupan sosial dan dunia pendidikan: ketika muncul persoalan moral atau masalah dalam masyarakat dan lembaga pendidikan, tidak selamanya perbaikannya harus dengan menghentikan seluruh aktivitas. Justru di tengah denyut kehidupan itulah pembinaan dilakukan—dengan nasihat yang menyejukkan, keteladanan yang menghidupkan, ilmu yang menerangi, dan aturan yang menuntun tanpa mematikan. Sebab masyarakat bukan mesin yang cukup dimatikan lalu dibongkar, dan lembaga pendidikan bukan ruang yang harus sunyi untuk menemukan kesalahan; ia adalah kehidupan yang terus berjalan, tempat manusia belajar dari kekeliruan, tumbuh melalui nasihat, dan perlahan menemukan arah. Barangkali demikianlah cara hikmah Tuhan bekerja: tidak selalu menghentikan langkah ketika kita tersesat, tetapi menghadirkan cahaya agar di tengah perjalanan kita menemukan jalan pulang.
Kita hidup di zaman ketika dunia bergerak lebih cepat daripada kemampuan menerima gosip tetangga; cukup mengetik beberapa kata yang sedang viral seperti “yang uwes yang” di perambah, seketika ratusan bahkan ribuan video dan tulisan berhamburan: ada yang asli, dipotong, direkayasa dengan kecerdasan buatan, hingga lahir sebagai tanggapan dan klarifikasi. Satu peristiwa pun seolah memiliki banyak wajah dan tak pernah benar-benar selesai setelah diceritakan. Maka ketika Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) dianggap diam menghadapi persoalan moralitas sosial, saya tak perlu berteriak, “Londo Ireng ndasmu!” sebab umpatan tak menyelesaikan apa-apa. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk turun tangan. Mari siapa pun yang masih memiliki hati untuk peduli dan tangan untuk bekerja, bersama-sama melakukan sesuatu yang nyata. Persoalan kehidupan bukan sekadar untuk dijadikan teori, dibicarakan dalam diskusi, atau disesali setelah semuanya memburuk. Masalah harus dihadapi, luka diobati, kesalahan diperbaiki, dan kehidupan terus berjalan sembari kita membenahinya dengan ilmu, keteladanan, kasih sayang, dan doa. Sebab di hadapan Tuhan, barangkali yang paling bernilai bukan panjangnya kita menjelaskan kegelisahan, melainkan seberapa banyak kebaikan yang kita kerjakan ketika kegelisahan itu mengetuk pintu hati.
Perambah digital bekerja seperti seseorang yang memiliki ingatan sangat panjang. Ia menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya. Apa yang kita cari hari ini dapat bertemu kembali dengan kita beberapa hari kemudian. Apa yang kita tonton sebentar bisa mendatangkan tontonan serupa berkali-kali. Bahkan sesuatu yang sebenarnya sudah kita lupakan, tiba-tiba muncul kembali di hadapan mata karena mesin menganggap kita pernah tertarik kepadanya. Kita bukan hanya mencari informasi, tetapi pada saat yang sama informasi seolah-olah sedang mencari kita. Kita sering merasa telepon genggam adalah ruang paling pribadi yang kita miliki. Di dalamnya tersimpan foto keluarga, percakapan, dokumen, rekaman suara, dan berbagai kenangan yang tidak pernah kita niatkan untuk diketahui orang lain. Kita menyimpan sesuatu karena merasa aman. Kita menganggapnya hanya milik kita. Padahal, ruang digital tidak selalu sesunyi kamar yang pintunya terkunci.
Dalam dunia digital, ada kalanya orang mengetahui sebuah persoalan justru setelah kita menjelaskan bahwa persoalan itu tidak benar. Orang yang sebelumnya tidak pernah melihat videonya menjadi penasaran. Mereka kemudian mencarinya. Mereka menontonnya. Mereka membagikannya. Mereka memberikan komentar. Tanpa disadari, klarifikasi yang dimaksudkan untuk mengubur sebuah berita justru menggali kembali lubang tempat berita itu bersemayam. Tentu tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan diam. Ada keadaan tertentu ketika klarifikasi memang diperlukan, terutama ketika informasi yang beredar merupakan fitnah, informasi palsu, atau sesuatu yang dapat memberikan dampak serius terhadap seseorang maupun lembaga. Hanya saja, klarifikasi membutuhkan kebijaksanaan. Tidak semua api harus disiram dengan air sebanyak-banyaknya. Kadang yang lebih dibutuhkan adalah memutus sumber apinya.
Penulis : Ketua Lentera Sastra Banyuwangi
