Lentera Sastra Banyuwangi
15 April 2026

Eskatologi dan Ruang Suci: Membaca Kedalaman “Doa-Doa di Angkasa”

Eskatologi dan Ruang Suci: Membaca Kedalaman “Doa-Doa di Angkasa”

Oleh : Syafaat

Saya mengenalnya ketika ia masih aktif sebagai aparatur Kementerian Agama, melalui tulisan-tulisan tamaddun yang ia rawat dengan tekun. Di sana terlihat seorang birokrat yang tidak mematikan rasa, seorang abdi negara yang tetap setia mendengar suara batin. Jejak itu terasa jelas dalam puisinya: religius, tetapi tidak administratif; spiritual, tetapi tidak kaku. Ia paham bahasa institusi, namun memilih bahasa hati. Pada masa akhir pengabdiannya, Mawardi menjabat sebagai penghulu, dengan tugas tambahan sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan. Jabatan itu menempatkannya di simpul-simpul paling manusiawi dalam kehidupan: ijab kabul yang menggetarkan, air mata yang jatuh diam-diam, doa-doa yang melayang di langit-langit masjid, sekaligus berkas-berkas administrasi yang menuntut ketertiban dan kepastian. Dari ruang itulah, puisinya mendapatkan denyut kehidupan. Ia tahu betul bahwa pernikahan bukan sekadar kata sah di hadapan saksi, melainkan ikrar panjang yang diuji oleh waktu.

Ia menulis doa-doanya bukan dari ketinggian menara langit, melainkan dari tanah yang setiap hari diinjak dengan letih dan pasrah. Doa-Doa di Angkasa karya A. Mawardi lahir sebagai catatan sunyi seorang hamba yang sedang berjalan, bukan berlari, menuju Tuhan. Langkahnya pelan, kadang tertatih, kadang ragu, namun selalu mengarah pulang. Buku ini tidak dibuka dengan gemuruh pujian, tetapi dengan kesadaran sederhana: bahwa iman adalah perjalanan panjang, penuh jeda, penuh tanya, dan nyaris selalu ditemani kegelisahan.

Sejak halaman pertama, terasa bahwa Mawardi tidak sedang menulis buku doa yang ingin mengajari siapa pun cara bersujud. Ia justru menulis dirinya sendiri, dengan kejujuran yang nyaris telanjang. Puisinya adalah bisikan seorang hamba yang belajar berdiri di hadapan Tuhan dengan lutut gemetar, dengan iman yang kadang retak, tetapi dengan harap yang tak pernah benar-benar padam. Di sini, kesalehan tidak tampil sebagai mahkota, melainkan sebagai proses yang terus diperjuangkan.

Bait-bait puisinya mengajak pembaca menelusuri jejak hidup yang konkret. Dari Cungking, Banyuwangi, tanah asal tempat kesadaran pertama kali tumbuh, hingga Makkah dan Madinah, pusat pusaran spiritual umat Islam. Namun ruang-ruang itu tidak hadir sebagai tujuan wisata rohani. Ia menjelma menjadi ruang batin: tempat kenangan, penyesalan, syukur, dan doa saling berdesakan. Setiap tempat adalah cermin. Setiap perjalanan adalah muhasabah.

Mawardi tidak pernah mengaku suci. Ia justru berani memperlihatkan retak di dadanya sendiri. Inilah ciri paling kuat dari puisinya: keberanian mengakui kerapuhan manusia. Ia tidak berdiri sebagai sosok saleh yang telah selesai, melainkan sebagai hamba yang terus bergulat dengan noda diri. Dalam Muhasabah Diri, ia menatap maut tanpa tabir:

“Dosa yang hitam pekat,

Diri sekarat,

Ketika nyawa lewat tenggorokan.”

Ini bukan metafora yang ingin terdengar indah. Ini adalah ketakutan eksistensial seorang manusia yang sadar bahwa kematian bukan cerita orang lain. Puisi di tangan Mawardi menjadi istighfar yang tampak, cara melebur khilaf lewat kata, bukan untuk memamerkan kesalehan, melainkan untuk menyelamatkan diri dari lupa.

Pengalaman itu terasa kian berlapis ketika A. Mawardi menulis tentang Makkah, khususnya Misfalah. Dalam Senja di Misfalah Mei Sembilan Belas Sembilan Enam, tempat itu tidak sekadar hadir sebagai latar geografis, melainkan menjelma saksi sunyi pertautan cinta dan ibadah. Misfalah menjadi ruang suci, tempat insan belajar menyerahkan rasa kepada Tuhan, bukan dengan gemuruh kata, melainkan dengan kepasrahan yang hening. Di sana, cinta manusia tidak berdiri berhadap-hadapan dengan cinta Ilahi, tetapi saling bertaut, saling menguatkan, lalu menyatu dalam doa yang panjang.

Dari Misfalah, langkah kaki jamaah haji mengalir menuju Masjidil Haram. Jarak yang tak lebih dari dua kilometer itu terasa singkat, bahkan ringan, seolah tanah Makkah sendiri ikut meringankan pijakan. Setiap langkah bukan sekadar gerak tubuh, melainkan zikir yang berjalan. Kaki melangkah, hati menyebut nama-Nya. Bagi jamaah, jalan itu adalah pengharapan; bagi petugas haji yang mengawal mereka, langkah itu adalah amanah. Dalam peluh dan lelah, ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan, bahwa melayani sesama di tanah suci adalah bentuk ibadah yang lain, ibadah yang diam-diam menguatkan iman.

Mawardi merekam suasana itu dengan kepekaan seorang penyair yang juga memahami tanggung jawab. Ia tahu bahwa haji bukan sekadar ritual individual, melainkan perjumpaan kolektif manusia dengan Tuhan. Di sepanjang jalan Misfalah menuju Masjidil Haram, doa-doa berhamburan tanpa suara, menyatu dengan langkah ribuan kaki yang menuju satu titik sujud. Tidak ada yang merasa sendiri, sebab setiap orang sedang digerakkan oleh panggilan yang sama.

Ritual haji yang berlangsung hanya beberapa hari itu meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang dari waktu. Ia menjadi kenangan spiritual yang tak mungkin terhapus. Tawaf, sa’i, wukuf, dan lontar jumrah tidak berhenti sebagai rangkaian gerak, tetapi berubah menjadi ingatan batin yang terus menyala. Dalam ingatan itu, manusia belajar tentang kesetaraan, tentang kepasrahan, tentang betapa kecilnya diri di hadapan kebesaran Ilahi.

Puisi “Arafah Buram Sepulang Kampung” dan “Jumrah Aqobah yang Dahsyat” bergerak sebagai satu tarikan napas panjang perjalanan ruhani seorang hamba. Keduanya tidak berdiri sebagai catatan ritual semata, melainkan sebagai pengakuan batin tentang betapa rapuhnya iman manusia ketika diuji oleh jarak, jarak antara Tanah Suci dan kampung halaman, antara cahaya makrifat dan bayang-bayang lupa. Di Arafah, penyair memulai dengan pengakuan yang telanjang. Arafah tidak digambarkan sebagai padang luas yang megah, melainkan sebagai ruang pengadilan diri, tempat segala khilaf datang bertubi-tubi tanpa bisa ditolak. Di sana, dosa tidak ditutupi, tetapi dihadapkan langsung kepada Tuhan. Air mata yang menetes bukan air mata sentimental, melainkan air mata makrifat, kesadaran bahwa hanya dengan berserah sepenuhnya, manusia dapat dilebur kembali menjadi cahaya. Arafah menjadi titik balik: tempat diri yang remuk disatukan kembali oleh Rahman dan Rahim-Nya.

Namun puisi ini tidak berhenti di Arafah. Ia bergerak pulang. Di sinilah keberanian penyair tampak paling jujur. “Sepulang kampung kerikil jumrah hilang” adalah metafora yang getir. Kerikil yang di Tanah Suci dilemparkan dengan penuh tekad untuk menumbangkan setan, di kampung halaman justru berganti lupa. Maksiat datang bukan dengan wajah kasar, tetapi menyelinap bersama sum’ah dan ujub—penyakit rohani yang kerap menyamar sebagai kesalehan. Peci putih dan kenangan mencium Ka’bah berubah menjadi simbol ambiguitas: antara kebanggaan spiritual dan godaan merasa suci.

Pada “Jumrah Aqobah yang Dahsyat”, puisi kembali membawa pembaca ke jantung perlawanan batin. Malam, kesendirian, tenda yang sepi, dan cahaya lampu yang menyerupai siang menciptakan suasana dramatik yang kuat. Lempar jumrah tidak sekadar digambarkan sebagai ritual fisik, melainkan pertempuran eksistensial antara manusia dan nafsu angkara. Talbiyah yang menggema di tengah desakan jamaah menjadi suara kolektif perlawanan: bahwa kemenangan atas setan harus diperjuangkan, meski dengan kaki yang lelah dan dada yang berdegup.

Ketika penyair berucap, “kali ini aku menang”, kemenangan itu terasa sementara, rapuh, dan sangat manusiawi. Ia tahu bahwa setan tidak benar-benar mati di Mina. Ia hanya terbelenggu. Karena itu, bait-bait selanjutnya menjadi peringatan: bahwa di hari-hari biasa, tangan-tangan setan kembali merayap, menyusur urat nadi, menggelembungkan khilaf dan dosa, menumbuhkan “titik hitam pada kaca bening”. Iman, seperti kaca, mudah buram oleh sentuhan kecil yang terus diulang. Di sinilah dua puisi ini mencapai puncak maknanya. Doa penutup, memanggil Rahan dan Rahim, bukan sekadar penegasan teologis, melainkan jeritan batin seorang hamba yang sadar bahwa tanpa kasih Tuhan, dunia dan akhirat akan runtuh sekaligus. Kesalehan tidak lagi dipahami sebagai status, melainkan sebagai perjuangan harian yang tak pernah selesai.

Dalam puisi Mawardi, Misfalah dan langkah menuju Masjidil Haram bukan sekadar fragmen perjalanan, melainkan simbol perjalanan hidup itu sendiri. Bahwa menuju Tuhan sering kali dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dijalani dengan niat lurus. Bahwa cinta, amanah, dan ibadah dapat bertemu di satu jalan yang sama. Dan bahwa kenangan spiritual, meski lahir dari hari-hari yang singkat, akan tinggal lama di relung jiwa, menjadi bekal ketika manusia kembali ke tanah asalnya, melanjutkan hidup dengan hati yang telah disentuh cahaya.

Melalui tiga puisi ini, penyair menghadirkan haji sebagai proses batin yang berlanjut jauh setelah ihram dilepas. Arafah dan jumrah bukan hanya peristiwa di Tanah Suci, tetapi pengalaman ruhani yang terus diuji sepulang kampung. Inilah sastra religi yang tidak meninabobokan, melainkan membangunkan: bahwa haji sejati bukan tentang apa yang telah dilakukan di sana, tetapi tentang bagaimana iman dijaga ketika manusia kembali menjadi manusia biasa, dengan segala lupa, godaan, dan harapan akan ampunan yang tak pernah putus.

Namun Mawardi tidak larut dalam langit. Ia turun menjejak bumi, memungut realitas sehari-hari yang sering luput dari puisi religi. Dalam Catatan Ketika Buka Bersama, ia menegur dirinya sendiri, dan kita semua, tentang puasa yang hanya berhenti pada lapar dan dahaga, tentang ibadah yang kehilangan jiwa karena terlalu sibuk dengan formalitas. Teguran itu lembut, tetapi mengena, seperti nasihat seorang sahabat yang tahu betul kelemahan kita karena ia pun mengalaminya.

Zaman yang bergerak cepat hadir dalam puisinya seperti denyut yang tak pernah benar-benar reda. Ia berlari di sela-sela waktu, menyusup ke telapak tangan, lalu diam-diam mengetuk ruang batin. A. Mawardi tidak menolak zaman itu, tidak pula mengutuknya sebagai lawan iman. Ia memilih sikap yang lebih bening: mengamati kegelisahan, lalu menuliskannya sebagai doa yang gelisah. Dalam Me-manage HP, gawai tidak hadir sebagai benda mati, melainkan sebagai kekuatan sunyi yang perlahan memindahkan pusat kesadaran manusia. Di tangan ia ringan, nyaris tak berbobot. Namun di hati, ia tumbuh menjadi beban yang tak segera disadari. Mawardi menuliskannya seperti sedang bercermin pada dirinya sendiri:

“Aku terkesima HP di tangan menggangguku.”

Kekaguman yang tampak sepele menjelma gangguan yang tak terasa. Bukan dosa besar yang datang menggelegar, melainkan kelalaian kecil yang berulang. Layar mengintip diam-diam, perhatian tercuri perlahan, waktu melesat tanpa berpamitan. Penyair tersipu, bukan karena maksiat yang telanjang, tetapi karena sadar: sesuatu yang kecil telah menggeser sesuatu yang agung.

HP menjadi jendela rindu, tempat manusia mencari kabar dan kehadiran. Namun pada saat yang sama, ia berubah menjadi dinding bening yang menyekat manusia dari dirinya sendiri. Ia dibawa ke mana-mana, tetapi justru menjauhkan dari kehadiran yang sejati. Dalam pengakuan lirihnya, aku terpaku, aku terpana, HP-ku menyelisihi diri, terdengar kesedihan yang halus: bahwa teknologi tidak selalu menipu dengan bising, tetapi sering memikat dengan kesenyapan semu. Manusia merasa hadir, padahal sedang pergi.

Di ruang batin yang terbelah itu, adzan pun menggema. Bertalu-talu. Datang sebagai panggilan purba yang tak pernah berubah sejak berabad-abad silam. Ia adalah suara langit yang setia memanggil bumi. Namun di zaman ini, panggilan itu kerap hanya menjadi latar. Ia berlalu, kalah cepat dari notifikasi yang berkedip dan getar yang lebih segera ditanggapi. Ketika iqamah menyeru, tegakkan sholat, suara itu terdengar tegas, tanpa ruang tawar-menawar. Dan di situlah puisi mencapai getirnya pengakuan: “Aku terlambat.” Sebuah kalimat pendek, tetapi sarat makna. Keterlambatan itu bukan sekadar soal menit dan detik, melainkan tentang kesadaran yang tertunda. Sholat tidak ditinggalkan, tetapi ditangguhkan. Iman tidak ditolak, hanya disisihkan.

Dalam keterlambatan itulah Mawardi meletakkan cermin. Ia menunjukkan bahwa manusia modern sering kalah bukan oleh dosa besar yang mencolok, melainkan oleh kelalaian kecil yang dibiarkan tumbuh, mengakar, lalu menjadi kebiasaan. Sastra religinya tidak menjelma khotbah yang menghakimi, melainkan pengakuan seorang hamba yang sedang belajar mengelola diri di tengah hiruk-pikuk zaman. Gawai, adzan, dan kekhusyukan dipertemukan dalam satu ruang batin. Di sana, iman diuji bukan oleh niat, tetapi oleh keberanian untuk berhenti sejenak, meletakkan layar, menenangkan jari, dan mendengarkan panggilan yang lebih tua dari segala teknologi.

Pada akhirnya, Me-manage HP bukan puisi tentang teknologi, melainkan tentang pilihan batin: siapa yang lebih dahulu kita dengarkan. Apakah jari akan terus patuh pada sentuhan layar, atau hati kembali tunduk pada panggilan Ilahi. Mawardi tidak memaksa jawaban. Ia hanya mengingatkan, dengan bahasa yang lembut namun menusuk, agar iman tidak tercecer di antara notifikasiagar adzan tidak sekadar terdengar, tetapi sungguh-sungguh memanggil pulang.

Di bagian akhir buku, suasana menjadi semakin he, ning. Anak-anaknya hadir sebagai cahaya yang menenangkan: Agustinah Muttafaqur Rohmah, Thoufanie Barikly, Mutiah Muyassaroh, dan Muhammad Thoriq Mujiddilhaq. Nama-nama itu disebut dengan penuh kasih, bukan sebagai kebanggaan duniawi, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga dengan doa. Sebagai penghulu dan Kepala KUA, Mawardi memahami bahwa keluarga adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah murid yang tak pernah lulus dari pelajaran sabar. Maka doa-doanya untuk anak-anak adalah juga doa agar dirinya sendiri tetap lurus.

Pada akhirnya, Doa-Doa di Angkasa adalah kisah tentang waktu. Tentang hidup yang bergerak perlahan menuju perjumpaan terakhir. Mawardi menulis dengan bahasa yang sederhana, nyaris tanpa hiasan, tetapi justru di situlah kekuatannya. Doa-doanya melayang pelan, tidak memaksa langit untuk segera menjawab. Ia percaya, setiap tarikan napas adalah catatan, setiap jejak langkah adalah saksi. Dan di antara bumi yang dipijak dan langit yang dituju, A. Mawardi memilih untuk terus berjalan, sebagai hamba yang sadar akan rapuhnya diri, tetapi tak pernah berhenti mengetuk pintu Tuhan dengan doa-doa yang setia.

Ketua Terminal Literasi Pegawai Kementerian Agama (Lentera) Sastra Banyuwangi

E-Book silahkan Klik https://ebookbanyuwangi.id/files/doa_di_angkasa/

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *