Lentera Sastra Banyuwangi

Eskatologi dan Ruang Suci: Membaca Kedalaman “Doa-Doa di Angkasa”

Eskatologi dan Ruang Suci: Membaca Kedalaman “Doa-Doa di Angkasa”

Oleh : Syafaat

Saya mengenalnya ketika ia masih aktif sebagai aparatur Kementerian Agama, melalui tulisan-tulisan tamaddun yang ia rawat dengan tekun. Di sana terlihat seorang birokrat yang tidak mematikan rasa, seorang abdi negara yang tetap setia mendengar suara batin. Jejak itu terasa jelas dalam puisinya: religius, tetapi tidak administratif; spiritual, tetapi tidak kaku. Ia paham bahasa institusi, namun memilih bahasa hati. Pada masa akhir pengabdiannya, Mawardi menjabat sebagai penghulu, dengan tugas tambahan sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan. Jabatan itu menempatkannya di simpul-simpul paling manusiawi dalam kehidupan: ijab kabul yang menggetarkan, air mata yang jatuh diam-diam, doa-doa yang melayang di langit-langit masjid, sekaligus berkas-berkas administrasi yang menuntut ketertiban dan kepastian. Dari ruang itulah, puisinya mendapatkan denyut kehidupan. Ia tahu betul bahwa pernikahan bukan sekadar kata sah di hadapan saksi, melainkan ikrar panjang yang diuji oleh waktu.

Ia menulis doa-doanya bukan dari ketinggian menara langit, melainkan dari tanah yang setiap hari diinjak dengan letih dan pasrah. Doa-Doa di Angkasa karya A. Mawardi lahir sebagai catatan sunyi seorang hamba yang sedang berjalan, bukan berlari, menuju Tuhan. Langkahnya pelan, kadang tertatih, kadang ragu, namun selalu mengarah pulang. Buku ini tidak dibuka dengan gemuruh pujian, tetapi dengan kesadaran sederhana: bahwa iman adalah perjalanan panjang, penuh jeda, penuh tanya, dan nyaris selalu ditemani kegelisahan.

Sejak halaman pertama, terasa bahwa Mawardi tidak sedang menulis buku doa yang ingin mengajari siapa pun cara bersujud. Ia justru menulis dirinya sendiri, dengan kejujuran yang nyaris telanjang. Puisinya adalah bisikan seorang hamba yang belajar berdiri di hadapan Tuhan dengan lutut gemetar, dengan iman yang kadang retak, tetapi dengan harap yang tak pernah benar-benar padam. Di sini, kesalehan tidak tampil sebagai mahkota, melainkan sebagai proses yang terus diperjuangkan.

Bait-bait puisinya mengajak pembaca menelusuri jejak hidup yang konkret. Dari Cungking, Banyuwangi, tanah asal tempat kesadaran pertama kali tumbuh, hingga Makkah dan Madinah, pusat pusaran spiritual umat Islam. Namun ruang-ruang itu tidak hadir sebagai tujuan wisata rohani. Ia menjelma menjadi ruang batin: tempat kenangan, penyesalan, syukur, dan doa saling berdesakan. Setiap tempat adalah cermin. Setiap perjalanan adalah muhasabah.

Mawardi tidak pernah mengaku suci. Ia justru berani memperlihatkan retak di dadanya sendiri. Inilah ciri paling kuat dari puisinya: keberanian mengakui kerapuhan manusia. Ia tidak berdiri sebagai sosok saleh yang telah selesai, melainkan sebagai hamba yang terus bergulat dengan noda diri. Dalam Muhasabah Diri, ia menatap maut tanpa tabir:

“Dosa yang hitam pekat,

Diri sekarat,

Ketika nyawa lewat tenggorokan.”

Ini bukan metafora yang ingin terdengar indah. Ini adalah ketakutan eksistensial seorang manusia yang sadar bahwa kematian bukan cerita orang lain. Puisi di tangan Mawardi menjadi istighfar yang tampak, cara melebur khilaf lewat kata, bukan untuk memamerkan kesalehan, melainkan untuk menyelamatkan diri dari lupa.

Pengalaman itu terasa kian berlapis ketika A. Mawardi menulis tentang Makkah, khususnya Misfalah. Dalam Senja di Misfalah Mei Sembilan Belas Sembilan Enam, tempat itu tidak sekadar hadir sebagai latar geografis, melainkan menjelma saksi sunyi pertautan cinta dan ibadah. Misfalah menjadi ruang suci, tempat insan belajar menyerahkan rasa kepada Tuhan, bukan dengan gemuruh kata, melainkan dengan kepasrahan yang hening. Di sana, cinta manusia tidak berdiri berhadap-hadapan dengan cinta Ilahi, tetapi saling bertaut, saling menguatkan, lalu menyatu dalam doa yang panjang.

Dari Misfalah, langkah kaki jamaah haji mengalir menuju Masjidil Haram. Jarak yang tak lebih dari dua kilometer itu terasa singkat, bahkan ringan, seolah tanah Makkah sendiri ikut meringankan pijakan. Setiap langkah bukan sekadar gerak tubuh, melainkan zikir yang berjalan. Kaki melangkah, hati menyebut nama-Nya. Bagi jamaah, jalan itu adalah pengharapan; bagi petugas haji yang mengawal mereka, langkah itu adalah amanah. Dalam peluh dan lelah, ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan, bahwa melayani sesama di tanah suci adalah bentuk ibadah yang lain, ibadah yang diam-diam menguatkan iman.

Mawardi merekam suasana itu dengan kepekaan seorang penyair yang juga memahami tanggung jawab. Ia tahu bahwa haji bukan sekadar ritual individual, melainkan perjumpaan kolektif manusia dengan Tuhan. Di sepanjang jalan Misfalah menuju Masjidil Haram, doa-doa berhamburan tanpa suara, menyatu dengan langkah ribuan kaki yang menuju satu titik sujud. Tidak ada yang merasa sendiri, sebab setiap orang sedang digerakkan oleh panggilan yang sama.

Ritual haji yang berlangsung hanya beberapa hari itu meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang dari waktu. Ia menjadi kenangan spiritual yang tak mungkin terhapus. Tawaf, sa’i, wukuf, dan lontar jumrah tidak berhenti sebagai rangkaian gerak, tetapi berubah menjadi ingatan batin yang terus menyala. Dalam ingatan itu, manusia belajar tentang kesetaraan, tentang kepasrahan, tentang betapa kecilnya diri di hadapan kebesaran Ilahi.

Puisi “Arafah Buram Sepulang Kampung” dan “Jumrah Aqobah yang Dahsyat” bergerak sebagai satu tarikan napas panjang perjalanan ruhani seorang hamba. Keduanya tidak berdiri sebagai catatan ritual semata, melainkan sebagai pengakuan batin tentang betapa rapuhnya iman manusia ketika diuji oleh jarak, jarak antara Tanah Suci dan kampung halaman, antara cahaya makrifat dan bayang-bayang lupa. Di Arafah, penyair memulai dengan pengakuan yang telanjang. Arafah tidak digambarkan sebagai padang luas yang megah, melainkan sebagai ruang pengadilan diri, tempat segala khilaf datang bertubi-tubi tanpa bisa ditolak. Di sana, dosa tidak ditutupi, tetapi dihadapkan langsung kepada Tuhan. Air mata yang menetes bukan air mata sentimental, melainkan air mata makrifat, kesadaran bahwa hanya dengan berserah sepenuhnya, manusia dapat dilebur kembali menjadi cahaya. Arafah menjadi titik balik: tempat diri yang remuk disatukan kembali oleh Rahman dan Rahim-Nya.

Namun puisi ini tidak berhenti di Arafah. Ia bergerak pulang. Di sinilah keberanian penyair tampak paling jujur. “Sepulang kampung kerikil jumrah hilang” adalah metafora yang getir. Kerikil yang di Tanah Suci dilemparkan dengan penuh tekad untuk menumbangkan setan, di kampung halaman justru berganti lupa. Maksiat datang bukan dengan wajah kasar, tetapi menyelinap bersama sum’ah dan ujub—penyakit rohani yang kerap menyamar sebagai kesalehan. Peci putih dan kenangan mencium Ka’bah berubah menjadi simbol ambiguitas: antara kebanggaan spiritual dan godaan merasa suci.

Pada “Jumrah Aqobah yang Dahsyat”, puisi kembali membawa pembaca ke jantung perlawanan batin. Malam, kesendirian, tenda yang sepi, dan cahaya lampu yang menyerupai siang menciptakan suasana dramatik yang kuat. Lempar jumrah tidak sekadar digambarkan sebagai ritual fisik, melainkan pertempuran eksistensial antara manusia dan nafsu angkara. Talbiyah yang menggema di tengah desakan jamaah menjadi suara kolektif perlawanan: bahwa kemenangan atas setan harus diperjuangkan, meski dengan kaki yang lelah dan dada yang berdegup.

Ketika penyair berucap, “kali ini aku menang”, kemenangan itu terasa sementara, rapuh, dan sangat manusiawi. Ia tahu bahwa setan tidak benar-benar mati di Mina. Ia hanya terbelenggu. Karena itu, bait-bait selanjutnya menjadi peringatan: bahwa di hari-hari biasa, tangan-tangan setan kembali merayap, menyusur urat nadi, menggelembungkan khilaf dan dosa, menumbuhkan “titik hitam pada kaca bening”. Iman, seperti kaca, mudah buram oleh sentuhan kecil yang terus diulang. Di sinilah dua puisi ini mencapai puncak maknanya. Doa penutup, memanggil Rahan dan Rahim, bukan sekadar penegasan teologis, melainkan jeritan batin seorang hamba yang sadar bahwa tanpa kasih Tuhan, dunia dan akhirat akan runtuh sekaligus. Kesalehan tidak lagi dipahami sebagai status, melainkan sebagai perjuangan harian yang tak pernah selesai.

Dalam puisi Mawardi, Misfalah dan langkah menuju Masjidil Haram bukan sekadar fragmen perjalanan, melainkan simbol perjalanan hidup itu sendiri. Bahwa menuju Tuhan sering kali dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dijalani dengan niat lurus. Bahwa cinta, amanah, dan ibadah dapat bertemu di satu jalan yang sama. Dan bahwa kenangan spiritual, meski lahir dari hari-hari yang singkat, akan tinggal lama di relung jiwa, menjadi bekal ketika manusia kembali ke tanah asalnya, melanjutkan hidup dengan hati yang telah disentuh cahaya.

Melalui tiga puisi ini, penyair menghadirkan haji sebagai proses batin yang berlanjut jauh setelah ihram dilepas. Arafah dan jumrah bukan hanya peristiwa di Tanah Suci, tetapi pengalaman ruhani yang terus diuji sepulang kampung. Inilah sastra religi yang tidak meninabobokan, melainkan membangunkan: bahwa haji sejati bukan tentang apa yang telah dilakukan di sana, tetapi tentang bagaimana iman dijaga ketika manusia kembali menjadi manusia biasa, dengan segala lupa, godaan, dan harapan akan ampunan yang tak pernah putus.

Namun Mawardi tidak larut dalam langit. Ia turun menjejak bumi, memungut realitas sehari-hari yang sering luput dari puisi religi. Dalam Catatan Ketika Buka Bersama, ia menegur dirinya sendiri, dan kita semua, tentang puasa yang hanya berhenti pada lapar dan dahaga, tentang ibadah yang kehilangan jiwa karena terlalu sibuk dengan formalitas. Teguran itu lembut, tetapi mengena, seperti nasihat seorang sahabat yang tahu betul kelemahan kita karena ia pun mengalaminya.

Zaman yang bergerak cepat hadir dalam puisinya seperti denyut yang tak pernah benar-benar reda. Ia berlari di sela-sela waktu, menyusup ke telapak tangan, lalu diam-diam mengetuk ruang batin. A. Mawardi tidak menolak zaman itu, tidak pula mengutuknya sebagai lawan iman. Ia memilih sikap yang lebih bening: mengamati kegelisahan, lalu menuliskannya sebagai doa yang gelisah. Dalam Me-manage HP, gawai tidak hadir sebagai benda mati, melainkan sebagai kekuatan sunyi yang perlahan memindahkan pusat kesadaran manusia. Di tangan ia ringan, nyaris tak berbobot. Namun di hati, ia tumbuh menjadi beban yang tak segera disadari. Mawardi menuliskannya seperti sedang bercermin pada dirinya sendiri:

“Aku terkesima HP di tangan menggangguku.”

Kekaguman yang tampak sepele menjelma gangguan yang tak terasa. Bukan dosa besar yang datang menggelegar, melainkan kelalaian kecil yang berulang. Layar mengintip diam-diam, perhatian tercuri perlahan, waktu melesat tanpa berpamitan. Penyair tersipu, bukan karena maksiat yang telanjang, tetapi karena sadar: sesuatu yang kecil telah menggeser sesuatu yang agung.

HP menjadi jendela rindu, tempat manusia mencari kabar dan kehadiran. Namun pada saat yang sama, ia berubah menjadi dinding bening yang menyekat manusia dari dirinya sendiri. Ia dibawa ke mana-mana, tetapi justru menjauhkan dari kehadiran yang sejati. Dalam pengakuan lirihnya, aku terpaku, aku terpana, HP-ku menyelisihi diri, terdengar kesedihan yang halus: bahwa teknologi tidak selalu menipu dengan bising, tetapi sering memikat dengan kesenyapan semu. Manusia merasa hadir, padahal sedang pergi.

Di ruang batin yang terbelah itu, adzan pun menggema. Bertalu-talu. Datang sebagai panggilan purba yang tak pernah berubah sejak berabad-abad silam. Ia adalah suara langit yang setia memanggil bumi. Namun di zaman ini, panggilan itu kerap hanya menjadi latar. Ia berlalu, kalah cepat dari notifikasi yang berkedip dan getar yang lebih segera ditanggapi. Ketika iqamah menyeru, tegakkan sholat, suara itu terdengar tegas, tanpa ruang tawar-menawar. Dan di situlah puisi mencapai getirnya pengakuan: “Aku terlambat.” Sebuah kalimat pendek, tetapi sarat makna. Keterlambatan itu bukan sekadar soal menit dan detik, melainkan tentang kesadaran yang tertunda. Sholat tidak ditinggalkan, tetapi ditangguhkan. Iman tidak ditolak, hanya disisihkan.

Dalam keterlambatan itulah Mawardi meletakkan cermin. Ia menunjukkan bahwa manusia modern sering kalah bukan oleh dosa besar yang mencolok, melainkan oleh kelalaian kecil yang dibiarkan tumbuh, mengakar, lalu menjadi kebiasaan. Sastra religinya tidak menjelma khotbah yang menghakimi, melainkan pengakuan seorang hamba yang sedang belajar mengelola diri di tengah hiruk-pikuk zaman. Gawai, adzan, dan kekhusyukan dipertemukan dalam satu ruang batin. Di sana, iman diuji bukan oleh niat, tetapi oleh keberanian untuk berhenti sejenak, meletakkan layar, menenangkan jari, dan mendengarkan panggilan yang lebih tua dari segala teknologi.

Pada akhirnya, Me-manage HP bukan puisi tentang teknologi, melainkan tentang pilihan batin: siapa yang lebih dahulu kita dengarkan. Apakah jari akan terus patuh pada sentuhan layar, atau hati kembali tunduk pada panggilan Ilahi. Mawardi tidak memaksa jawaban. Ia hanya mengingatkan, dengan bahasa yang lembut namun menusuk, agar iman tidak tercecer di antara notifikasiagar adzan tidak sekadar terdengar, tetapi sungguh-sungguh memanggil pulang.

Di bagian akhir buku, suasana menjadi semakin he, ning. Anak-anaknya hadir sebagai cahaya yang menenangkan: Agustinah Muttafaqur Rohmah, Thoufanie Barikly, Mutiah Muyassaroh, dan Muhammad Thoriq Mujiddilhaq. Nama-nama itu disebut dengan penuh kasih, bukan sebagai kebanggaan duniawi, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga dengan doa. Sebagai penghulu dan Kepala KUA, Mawardi memahami bahwa keluarga adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah murid yang tak pernah lulus dari pelajaran sabar. Maka doa-doanya untuk anak-anak adalah juga doa agar dirinya sendiri tetap lurus.

Pada akhirnya, Doa-Doa di Angkasa adalah kisah tentang waktu. Tentang hidup yang bergerak perlahan menuju perjumpaan terakhir. Mawardi menulis dengan bahasa yang sederhana, nyaris tanpa hiasan, tetapi justru di situlah kekuatannya. Doa-doanya melayang pelan, tidak memaksa langit untuk segera menjawab. Ia percaya, setiap tarikan napas adalah catatan, setiap jejak langkah adalah saksi. Dan di antara bumi yang dipijak dan langit yang dituju, A. Mawardi memilih untuk terus berjalan, sebagai hamba yang sadar akan rapuhnya diri, tetapi tak pernah berhenti mengetuk pintu Tuhan dengan doa-doa yang setia.

Ketua Terminal Literasi Pegawai Kementerian Agama (Lentera) Sastra Banyuwangi

E-Book silahkan Klik https://ebookbanyuwangi.id/files/doa_di_angkasa/

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

news-1701

yakinjp

MAUJP

MAUJP

MAUJP

SATGASJITU

SLOT GACOR

SALAMJITU

SATGASJITU

SEMOGAJITU

SALAMJITU

Slot Gacor

MAUJP

Slot Gacor

SLOT GACOR

artikel 000000121

artikel 000000122

artikel 000000123

artikel 000000124

artikel 000000125

artikel 000000126

artikel 000000127

artikel 000000128

artikel 000000129

artikel 000000130

artikel 000000131

artikel 000000132

artikel 000000133

artikel 000000134

artikel 000000135

artikel 000000136

artikel 000000137

artikel 000000138

artikel 000000139

artikel 000000140

artikel 000000141

artikel 000000142

artikel 000000143

artikel 000000144

artikel 000000145

artikel 000000146

artikel 000000147

artikel 000000148

artikel 000000149

artikel 000000150

artikel 000000151

artikel 000000152

artikel 000000153

artikel 000000154

artikel 000000155

artikel 000000156

artikel 000000157

artikel 000000158

artikel 000000159

artikel 000000160

artikel 000000161

artikel 000000162

artikel 000000163

artikel 000000164

artikel 000000165

artikel 000000166

artikel 000000167

artikel 000000168

artikel 000000169

artikel 000000170

artikel 000000171

artikel 000000172

artikel 000000173

artikel 000000174

artikel 000000175

informasi terbaru kabupaten belu 00000056

informasi terbaru kabupaten belu 00000057

informasi terbaru kabupaten belu 00000058

informasi terbaru kabupaten belu 00000059

informasi terbaru kabupaten belu 00000060

informasi terbaru kabupaten belu 00000061

informasi terbaru kabupaten belu 00000062

informasi terbaru kabupaten belu 00000063

informasi terbaru kabupaten belu 00000064

informasi terbaru kabupaten belu 00000065

informasi terbaru kabupaten belu 00000066

informasi terbaru kabupaten belu 00000067

informasi terbaru kabupaten belu 00000068

informasi terbaru kabupaten belu 00000069

informasi terbaru kabupaten belu 00000070

informasi terbaru kabupaten belu 00000071

informasi terbaru kabupaten belu 00000072

informasi terbaru kabupaten belu 00000073

informasi terbaru kabupaten belu 00000074

informasi terbaru kabupaten belu 00000075

informasi terbaru kabupaten belu 00000076

informasi terbaru kabupaten belu 00000077

informasi terbaru kabupaten belu 00000078

informasi terbaru kabupaten belu 00000079

informasi terbaru kabupaten belu 00000080

informasi terbaru kabupaten belu 00000081

informasi terbaru kabupaten belu 00000082

informasi terbaru kabupaten belu 00000083

informasi terbaru kabupaten belu 00000084

informasi terbaru kabupaten belu 00000085

informasi terbaru kabupaten belu 00000086

informasi terbaru kabupaten belu 00000087

informasi terbaru kabupaten belu 00000088

informasi terbaru kabupaten belu 00000089

informasi terbaru kabupaten belu 00000090

informasi terbaru kabupaten belu 00000091

informasi terbaru kabupaten belu 00000092

informasi terbaru kabupaten belu 00000093

informasi terbaru kabupaten belu 00000094

informasi terbaru kabupaten belu 00000095

informasi terbaru kabupaten belu 00000096

informasi terbaru kabupaten belu 00000097

informasi terbaru kabupaten belu 00000098

informasi terbaru kabupaten belu 00000099

informasi terbaru kabupaten belu 00000100

informasi terbaru kabupaten belu 00000101

informasi terbaru kabupaten belu 00000102

informasi terbaru kabupaten belu 00000103

informasi terbaru kabupaten belu 00000104

informasi terbaru kabupaten belu 00000105

informasi terbaru kabupaten belu 00000106

informasi terbaru kabupaten belu 00000107

informasi terbaru kabupaten belu 00000108

informasi terbaru kabupaten belu 00000109

informasi terbaru kabupaten belu 00000110

informasi terbaru kabupaten belu 00000111

informasi terbaru kabupaten belu 00000112

informasi terbaru kabupaten belu 00000113

informasi terbaru kabupaten belu 00000114

informasi terbaru kabupaten belu 00000115

informasi terbaru kabupaten belu 00000116

informasi terbaru kabupaten belu 00000117

informasi terbaru kabupaten belu 00000118

informasi terbaru kabupaten belu 00000119

informasi terbaru kabupaten belu 00000120

informasi terbaru kabupaten belu 00000121

informasi terbaru kabupaten belu 00000122

informasi terbaru kabupaten belu 00000123

informasi terbaru kabupaten belu 00000124

informasi terbaru kabupaten belu 00000125

informasi terbaru kabupaten belu 00000126

informasi terbaru kabupaten belu 00000127

informasi terbaru kabupaten belu 00000128

informasi terbaru kabupaten belu 00000129

informasi terbaru kabupaten belu 00000130

article 48666670361

article 48666670362

article 48666670363

article 48666670364

article 48666670365

article 48666670366

article 48666670367

article 48666670368

article 48666670369

article 48666670370

article 48666670371

article 48666670372

article 48666670373

article 48666670374

article 48666670375

article 48666670376

article 48666670377

article 48666670378

article 48666670379

article 48666670380

article 48666670381

article 48666670382

article 48666670383

article 48666670384

article 48666670385

article 48666670386

article 48666670387

article 48666670388

article 48666670389

article 48666670390

article 48666670391

article 48666670392

article 48666670393

article 48666670394

article 48666670395

article 48666670396

article 48666670397

article 48666670398

article 48666670399

article 48666670400

article 48666670401

article 48666670402

article 48666670403

article 48666670404

article 48666670405

article 48666670406

article 48666670407

article 48666670408

article 48666670409

article 48666670410

article 58666670411

article 58666670412

article 58666670413

article 58666670414

article 58666670415

article 58666670416

article 58666670417

article 58666670418

article 58666670419

article 58666670420

article 58666670421

article 58666670422

article 58666670423

article 58666670424

article 58666670425

article 58666670426

article 58666670427

article 58666670428

article 58666670429

article 58666670430

article 58666670431

article 58666670432

article 58666670433

article 58666670434

article 58666670435

article 58666670436

article 58666670437

article 58666670438

article 58666670439

article 58666670440

article 58666670441

article 58666670442

article 58666670443

article 58666670444

article 58666670445

article 58666670446

article 58666670447

article 58666670448

article 58666670449

article 58666670450

article 58666670451

article 58666670452

article 58666670453

article 58666670454

article 58666670455

article 58666670456

article 58666670457

article 58666670458

article 58666670459

article 58666670460

article 58666670461

article 58666670462

article 58666670463

article 58666670464

article 58666670465

article 58666670466

article 58666670467

article 58666670468

article 58666670469

article 58666670470

article 58666670471

article 58666670472

article 58666670473

article 58666670474

article 58666670475

article 58666670476

article 58666670477

article 58666670478

article 58666670479

article 58666670480

article 58666670481

article 58666670482

article 58666670483

article 58666670484

article 58666670485

article 58666670486

article 58666670487

article 58666670488

article 58666670489

article 58666670490

article 58666670491

article 58666670492

article 58666670493

article 58666670494

article 58666670495

article 58666670496

article 58666670497

article 58666670498

article 58666670499

article 58666670500

article 58666670501

article 58666670502

article 58666670503

article 58666670504

article 58666670505

article 58666670506

article 58666670507

article 58666670508

article 58666670509

article 58666670510

news-1701