BANYUWANGI, (Lensa Banyuwangi) – Penyelenggara Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Purwowidodo, membuka ruang sunyi penuh makna dalam perhelatan sastra bertajuk “Rubaiyat Hormuz: Lantunan Puisi Kemanusiaan dari Bumi Blambangan” yang digelar di Langgar Art, Jalan Ikan Wijinongko, Perum Griya Wiyata B.50, Banyuwangi, Selasa (14/4/2026). Kegiatan yang diinisiasi komunitas sastra ini menjadi respons atas konflik di kawasan Selat Hormuz yang berdampak luas bagi dunia.
Kegiatan ini diprakarsai oleh MWC-NU Kecamatan Banyuwangi bersama Lentera Sastra Banyuwangi, Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi, IPNU-IPPNU Banyuwangi, Forum 28, serta komunitas Mocoan Wadon Lontar Yusuf. Kolaborasi lintas komunitas ini menghadirkan ruang refleksi bersama melalui puisi dan sastra sebagai medium suara kemanusiaan.
Sejumlah tokoh seni dan budaya Banyuwangi tampak hadir dan ambil bagian dalam pembacaan puisi. Di antaranya Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, Hasan Basri selaku Ketua DKB Banyuwangi, sastrawan Fatah Yasin Nor, Aekanu Hariyono dari Killing Osing Banyuwangi, serta Muttafaqurrohmah dari Forum 28 yang juga dosen di Untag dan ISI Kampus B Banyuwangi bersama para mahasiswanya.
Kehadiran lintas elemen juga terlihat dari partisipasi pengurus Muslimat NU dan ISNU Banyuwangi. Purwowidodo pun turut membacakan puisi, menegaskan bahwa suara kemanusiaan melampaui sekat-sekat identitas.
Menariknya, Diah Fitriani, owner Klinik KDS Rogojampi, juga hadir dan menyampaikan harapannya melalui bahasa sastra. Ia menuturkan bahwa kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perdamaian adalah kebutuhan bersama, dan para pemimpin dunia diharapkan dijauhkan dari ambisi menguasai bangsa lain yang berdaulat. Sejumlah pengurus Muslimat NU dan ISNU Banyuwangi juga tampak hadir dalam kegiatan tersebut.
Konflik di Selat Hormuz sendiri dipandang sebagai ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global. Jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi minyak paling vital di dunia, dengan sekitar 20 juta barel minyak—setara 20 persen konsumsi global—melintasinya setiap hari. Ketegangan atau penutupan jalur ini berpotensi mengguncang perekonomian dunia secara luas.
Puisi-puisi yang dilantunkan dalam acara tersebut sebagian besar menggambarkan kondisi terkini di Selat Hormuz—tentang kecemasan, kehilangan, dan harapan yang terombang-ambing di tengah konflik. Dalam nuansa religius dan reflektif, beberapa pembacaan juga mengaitkan situasi tersebut dengan sejarah peperangan di masa awal Islam, seperti Perang Badar dan Perang Khandaq, di mana ketimpangan kekuatan tidak selalu menjadi penentu akhir.
Melalui lantunan kata dan makna, “Rubaiyat Hormuz” menjadi lebih dari sekadar acara sastra. Ia menjelma sebagai doa yang hidup, sebagai suara sunyi dari Banyuwangi untuk dunia, menggaungkan harapan akan damai di tengah riuh konflik global.
