Lentera Sastra Banyuwangi

NGERANDU NU: PCNU Banyuwangi Memilih Turun ke Bawah, Bukan Menunggu Tepuk Tangan dari Atas

Banyuwangi – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi memulai langkah yang berbeda. Di tengah berbagai dinamika organisasi yang berkembang, PCNU memilih tidak larut dalam perdebatan, tetapi turun langsung menemui warga. Melalui program NGERANDU NU, agenda TURBA (Turun ke Bawah) resmi dimulai pada Jumat (3/7/2026) dengan menyambangi MWCNU Kalipuro dan MWCNU Giri.

Pesan yang ingin dibangun sederhana namun tegas: kekuatan Nahdlatul Ulama tidak berada di ruang rapat, tetapi tumbuh dari ranting, jamaah, serta kebersamaan para pengurus di tingkat bawah.

Di Kalipuro, jajaran PCNU Banyuwangi hadir bukan untuk memberikan instruksi, melainkan mendengar, berdialog, memverifikasi kondisi organisasi, sekaligus menyatukan kembali semangat pengurus MWC, ranting, lembaga, dan badan otonom. Seluruh unsur NU, mulai Muslimat, GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, Banser, Pagar Nusa, hingga lembaga-lembaga NU, berkumpul dalam satu forum tanpa sekat.

Ketua MWCNU Kalipuro, H. Ahmad Musta’in, bahkan tidak mampu menyembunyikan rasa harunya. Kepengurusan yang baru berusia sekitar satu bulan ternyata mampu menghadirkan semangat kebersamaan yang luar biasa.

“Saya tidak kuat menahan air mata. Baru satu bulan pasca konferensi, tetapi dukungan warga NU begitu besar. Ini bukan sekadar acara, tetapi energi untuk membangun NU,” ungkapnya.

Ketua PCNU Banyuwangi, H. Achmad Turmudzi, menegaskan bahwa konsolidasi organisasi tidak boleh berhenti pada administrasi atau sekadar kelengkapan struktur. Organisasi hanya akan hidup apabila para pengurus saling bertemu, saling mengenal, dan saling menguatkan.

Menurutnya, terlalu lama organisasi disibukkan oleh dinamika yang menguras energi, sementara ruang silaturahim justru semakin jarang tercipta.

Usai dari Kalipuro, rombongan melanjutkan perjalanan menuju MWCNU Giri. Suasana yang sama kembali terlihat. Seluruh unsur organisasi hadir memenuhi kantor MWCNU Giri. Tidak ada kemewahan acara, tetapi ada semangat yang sulit dibuat-buat: semangat untuk kembali berkumpul sebagai keluarga besar Nahdlatul Ulama.

Melihat antusiasme tersebut, H. Achmad Turmudzi mengaku semakin yakin bahwa nama NGERANDU NU bukan sekadar slogan.

“Saya justru bertanya dalam hati, apakah selama ini kita terlalu lama tidak saling bertemu? Mengapa warga begitu antusias? Jawabannya sederhana, karena kita memang saling merindukan. NU tidak boleh hanya ramai ketika konferensi atau pemilihan. NU harus hidup dalam silaturahim dan kerja bersama.”

Ketua MWCNU Giri, Hapidi, mengakui bahwa organisasinya pernah mengalami berbagai dinamika yang tidak mudah. Namun kehadiran PCNU Banyuwangi membawa suasana baru.

“NGERANDU NU menjadi ruang untuk mencairkan kebuntuan, mempertemukan kembali semua unsur organisasi, dan mengingatkan bahwa yang lebih besar daripada perbedaan adalah tanggung jawab bersama untuk merawat NU,” ujarnya.

Melalui NGERANDU NU, PCNU Banyuwangi ingin mengembalikan orientasi organisasi kepada akar utamanya. NU dibangun bukan oleh gaduhnya elit, tetapi oleh kesetiaan para pengurus di ranting, para kiai di kampung-kampung, badan otonom yang terus bergerak, dan warga Nahdliyin yang tetap menjaga jam’iyah dengan penuh keikhlasan.

Karena itu, TURBA bukan sekadar agenda kunjungan. Ia merupakan ikhtiar mengembalikan denyut organisasi ke tempat asalnya: di tengah warga. Sebab ketika NU kuat di bawah, tidak ada dinamika apa pun di atas yang mampu menggoyahkan kekuatan jam’iyah.(KAF)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *