Banyuwangi – NU Online Banyuwangi menggelar rapat perdana sebagai langkah awal memperkuat media digital Nahdlatul Ulama yang profesional, inovatif, kolaboratif, dan berkelanjutan. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk penyamaan visi, pembagian tugas, penguatan sistem kerja, hingga penyusunan arah besar pengembangan media digital NU di Banyuwangi pada hari Minggu, 14 Juni 2026 bertempat di Rumah Direktur NU Online Habib Sirojul Munir, Genteng.
Direktur NU Online Banyuwangi, Habib Sirojul Munir, menegaskan bahwa keberadaan NU Online Banyuwangi diharapkan menjadi ruang informasi, dakwah, edukasi, dan literasi yang mampu memperkuat nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.
Menurutnya, media NU tidak cukup hanya menjadi kanal publikasi kegiatan organisasi, melainkan harus mampu menghadirkan narasi keislaman yang mencerahkan, menjaga tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama, serta menjawab kebutuhan masyarakat di ruang digital.
“NU Online Banyuwangi harus hadir sebagai media yang profesional, memiliki kualitas konten yang baik, menjangkau masyarakat luas, sekaligus tetap menjaga nilai-nilai tradisi dan keilmuan Nahdlatul Ulama. Media NU harus dikelola secara profesional dengan semangat kolaboratif agar menjadi pusat informasi yang kredibel, edukatif, dan memperkuat syiar Islam moderat,” ujar Habib Sirojul Munir dalam rapat perdana tersebut.
Dalam rapat tersebut, tim NU Online Banyuwangi membahas sejumlah agenda utama, mulai dari introduction dan penyamaan visi tim, penguatan struktur organisasi dan pembagian job desk, hingga penyusunan grand planning pengembangan NU Online Banyuwangi.
Pada sesi grand planning, pembahasan difokuskan pada tiga aspek utama, yakni manajemen sumber daya manusia (SDM) untuk meningkatkan kapasitas tim dan membangun budaya kerja profesional, manajemen konten dan sosial media guna memperkuat strategi editorial dan optimalisasi platform digital, serta manajemen peralatan sebagai upaya inventarisasi kebutuhan sarana produksi media yang semakin berkembang.
Selain itu, rapat juga membahas strategi branding dan pengembangan audience, termasuk penguatan identitas NU Online Banyuwangi, perluasan jangkauan pembaca, peningkatan pengikut media sosial, serta keterlibatan publik dalam ruang digital.
Sebagai arah pengembangan media, Habib Sirojul Munir juga memaparkan enam pilar konten utama NU Online Banyuwangi yang diselaraskan dengan program kerja organisasi.
Pilar pertama, Dakwah dan Edukasi Agama, diarahkan pada penyajian konten fiqih dan hukum Islam, serial Aswaja, program NU Menjawab (Q&A), hingga kontra narasi hoaks keagamaan. Konten akan dikemas melalui infografis, carousel, reels tausiyah, dan sesi interaktif digital dengan target publikasi rutin.
Pilar kedua, Berita dan Informasi NU Lokal, akan fokus pada peliputan kegiatan PCNU, MWCNU, badan otonom, dan lembaga NU di Banyuwangi, termasuk dokumentasi foto, videografi, hingga live streaming kegiatan strategis organisasi.
Selanjutnya, Tokoh dan Ulama Lokal menjadi pilar ketiga dengan menghadirkan wawancara tokoh, profil ulama, serta dokumentasi pesantren di Banyuwangi sebagai bagian dari penguatan literasi sanad keilmuan dan ketokohan NU.
Pilar keempat, Budaya Islam Nusantara, diarahkan pada publikasi tradisi keagamaan, budaya lokal, profil pesantren, serta kampanye digital berbasis nilai-nilai Islam Nusantara yang tumbuh di Banyuwangi.
Sementara itu, pilar kelima Sosial dan Kemasyarakatan akan memuat publikasi kegiatan sosial, kemanusiaan, dan sinergi lintas lembaga maupun badan otonom NU dalam pelayanan masyarakat.
Adapun pilar keenam, Interaktif dan Engagement, akan memperkuat partisipasi audiens melalui polling, kuis, program tanya jawab, kampanye digital, hingga kolaborasi dengan akun-akun lokal untuk memperluas jangkauan dakwah digital NU.
Habib Sirojul Munir menambahkan, seluruh grand design tersebut disusun sebagai roadmap pengembangan NU Online Banyuwangi dalam jangka pendek, menengah, hingga panjang. Ia menilai kerja media membutuhkan kolaborasi, kedisiplinan, dan kesamaan visi agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi ke-NU-an.
“Kerja media membutuhkan kolaborasi, kedisiplinan, dan visi bersama. Kita ingin membangun media NU yang tidak hanya aktif memberitakan kegiatan, tetapi juga menguatkan literasi, merawat tradisi, dan menghadirkan dakwah yang adaptif di era digital,” tegasnya.
Dengan mengusung motto “Bersama Merawat Tradisi, Menguatkan Literasi, dan Membangun Peradaban Digital”, NU Online Banyuwangi meneguhkan komitmennya menjadi media rujukan warga Nahdliyin sekaligus memperluas syiar Islam rahmatan lil ‘alamin di ruang digital Banyuwangi.
