Lentera Sastra Banyuwangi
20 April 2026

Sego Lemeng dan Kopi Uthek, Rasa yang Menyala dari Lereng Ijen dalam “Janda Reni”

BANYUWANGI (Lensa Banyuwangi) Malam di Desa Banjar, Kecamatan Licin, seakan menjelma tungku besar yang menyala pelan. Di bawah bayang lereng Gunung Ijen, asap tipis mengepul dari deretan bambu yang dipanggang, membawa aroma yang tak sekadar menggoda selera, tetapi juga memanggil ingatan tentang masa silam. Di sanalah Sego Lemeng dan Kopi Uthek hadir, bukan hanya sebagai hidangan, melainkan sebagai cerita yang bisa disantap.

Event “Janda Reni”, bagian dari Banyuwangi Festival 2026, menjadi panggung tempat tradisi berbicara dengan caranya sendiri. Sepanjang jalan desa, warga menyuguhkan warisan kuliner leluhur dengan tangan terbuka, seolah mengatakan bahwa rasa adalah bahasa paling jujur dari sebuah peradaban.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan bahwa kekuatan Banyuwangi tidak hanya terletak pada lanskap alam dan ragam seni, tetapi juga pada dapur-dapur sederhana yang menjaga ingatan kolektif tetap hidup. Tradisi, katanya, bukan untuk disimpan, melainkan untuk dirayakan dan diwariskan.

Sabtu malam (18/4/2026), Desa Banjar berubah menjadi lautan manusia. Langkah-langkah kaki menyatu dengan desir angin pegunungan, sementara bara api bekerja diam-diam mematangkan sego lemeng di dalam bambu. Setiap batang bambu menyimpan kesabaran: nasi berbumbu yang dipeluk daun pisang, diisi daging ayam atau tuna cincang, lalu dipanggang selama berjam-jam hingga matang sempurna. Bambu muda memberi aroma khas, seolah alam ikut membumbui hidangan itu.

Di balik nama “Janda Reni”, tersimpan filosofi yang berakar dari kehidupan agraris masyarakat Osing. Tokoh adat, Lukman Hakim, menjelaskan bahwa “Reni” merujuk pada bunga aren, sementara “Janda” atau “Rondo” adalah proses pemisahan. Sebuah istilah yang lahir dari kerja tangan petani, dari relasi manusia dengan alam yang penuh ketekunan dan pengertian.

Kepala Desa Banjar, Sunandi, menambahkan bahwa sego lemeng dan kopi uthek bukan sekadar santapan, melainkan refleksi kehidupan. Sego lemeng menjaga perut tetap kenyang, simbol keteguhan. Sementara kopi uthek, yang diseruput setelah menggigit gula aren hingga terdengar bunyi “uthek”, menjadi metafora tentang pahit dan manis yang selalu berjalan beriringan.

Dan benar, di antara keramaian itu, seorang wisatawan, Edy dari Sidoarjo, menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa. Ia menemukan pengalaman—ketika gurihnya nasi yang legit bertemu dengan pahit-manis kopi yang sederhana, lalu menyatu menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

“Janda Reni” bukan sekadar festival. Ia adalah cara sebuah desa menjaga jiwanya tetap hangat, seperti bara yang tak pernah benar-benar padam. Dari bambu yang terbakar perlahan, dari kopi yang diteguk dengan kesadaran, Banyuwangi kembali mengajarkan bahwa tradisi terbaik adalah yang bisa dirasakan—di lidah, di hati, dan di ingatan yang panjang.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *