Lentera Sastra Banyuwangi
17 April 2026

Dari Suguhan Sastra ke Panggung Budaya: Jejak Seni Reyhan di Langgar Art Banyuwangi

Sore itu di Langgar Art Banyuwangi, cahaya matahari turun perlahan, menimpa dinding-dinding yang seolah menyimpan gema suara masa lalu. Di tempat yang kerap menjadi simpul pertemuan para pegiat sastra Sore itu di Langgar Art Banyuwangi, cahaya matahari turun perlahan, menimpa dinding-dinding yang seolah menyimpan gema suara masa lalu. Di tempat yang kerap menjadi simpul pertemuan para pegiat budaya itu, pembacaan rubaiyah Hormuz digelar, mengalir bersama napas kata, menyatu dengan detak jiwa para pecinta sastra. Lentera Sastra Banyuwangi hadir, berdampingan dengan beberapa komunitas lain, membentuk lingkar sunyi yang hangat: ruang di mana kata bukan sekadar dibaca, tetapi dihidupi.

Di antara mereka, ada satu perjalanan yang diam-diam ikut dibacakan oleh waktu, perjalanan Reyhan Iftitan Ramadhanu. Jejaknya tidak dimulai dari panggung, melainkan dari halaman-halaman sederhana masa kecil. Pada usia tiga tahun, ketika anak-anak lain masih belajar mengeja dunia, Reyhan telah hafal lagu-lagu campursari karya Manthous dan Didi Kempot. Suaranya kerap diminta oleh tetangga, lalu dibalas dengan suguhan kue, sebuah panggung kecil yang mengajarinya bahwa seni selalu menemukan jalannya sendiri untuk tumbuh.

Kecintaannya pada wayang kulit pun bukan kebetulan. Ia seperti mewarisi ingatan panjang keluarganya. Nama-nama tokoh pewayangan, alur lakon, hingga karakter para ksatria telah akrab di kepalanya sejak belia. Pernah suatu ketika ia dibawa ke para pengrajin wayang di Solo dan Yogyakarta; saat ditanya tentang tokoh-tokoh pewayangan, jawabannya mengalir begitu saja—tepat dan meyakinkan—membuat para pengrajin tertegun. Barangkali di sanalah terlihat bahwa kecintaan itu bukan sekadar hobi, melainkan garis yang ditarik dari ibunya, dari kakeknya yang bergiat dalam kesenian Topeng Dalang Pamekasan.

Memasuki bangku sekolah dasar di SD Muhammadiyah 9, bakatnya menemukan bentuk lain. Ia menjuarai lomba Pildacil dua tahun berturut-turut di tingkat kabupaten. Lalu di SMP Muhammadiyah 1 Genteng, langkahnya semakin luas. Ia mengikuti berbagai lomba—dari perjuangan rakyat Banyuwangi hingga lomba bercerita—dan kembali menorehkan prestasi. Namun yang lebih penting dari piala-piala itu adalah pilihannya untuk selalu membawa Banyuwangi dalam setiap cerita. Ia menghidupkan Tari Gandrung, menuturkan legenda Kalelawar Merah di Pulau Merah, hingga merangkai kisah Alas Purwo—semuanya dipadukan dengan alat musik tradisional yang ia mainkan sendiri, seakan ia sedang merawat tanah kelahirannya melalui bunyi dan kata.

Darah seni itu juga mengalir dari garis yang lebih jauh—dari buyutnya, R. P. Moh. Nur, seorang tokoh besar yang pernah memperkenalkan Indonesia hingga ke mancanegara. Dari sana, mungkin Reyhan belajar bahwa berkesenian bukan hanya tentang tampil, tetapi tentang membawa identitas dan kebanggaan.

Langkahnya kemudian mempertemukannya dengan banyak tokoh. Ia pernah bermimpi bertemu Bupati Banyuwangi, dan semesta mengabulkannya. Ia berjumpa dengan Ipuk Fiestiandani dalam sebuah acara kesenian, diperkenalkan oleh Kepala Dinas Pendidikan, dan sejak itu mulai sering terlibat dalam berbagai kegiatan budaya daerah. Ia juga bersua dengan para seniman dan budayawan, dari nama-nama lokal hingga sosok seperti Sujiwo Tejo, dalam forum-forum seperti Jagong Budaya yang memperkaya pandangannya tentang seni dan kehidupan.

Jejak itu kian lengkap dengan latar keluarga yang juga hidup dalam dunia seni—ibunya yang lama bergiat di teater, berpuisi, berdeklamasi, hingga bersentuhan dengan lingkaran seniman seperti D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib, dan W. S. Rendra. Maka tidak mengherankan jika Reyhan tumbuh bukan hanya sebagai pelaku seni, tetapi sebagai anak yang hidup di dalamnya.

Kini, sore di Langgar Art itu seperti sebuah simpul. Ketika rubaiyah dibacakan, sesungguhnya yang hadir bukan hanya puisi-puisi dari jauh, tetapi juga perjalanan-perjalanan sunyi yang telah ditempuh. Reyhan, bersama Lentera Sastra dan komunitas lainnya, tidak sekadar hadir sebagai peserta. Ia adalah bagian dari cerita itu sendiri—sebuah kisah tentang bagaimana seni menemukan rumahnya dalam diri seseorang, lalu perlahan menuntunnya kembali ke panggung yang lebih luas.

Dan mungkin, di antara bait-bait yang dibacakan sore itu, ada satu yang diam-diam ditulis oleh waktu: bahwa setiap perjalanan seni selalu berawal dari hal kecil—dari suara anak kecil yang bernyanyi demi sepotong kue—lalu tumbuh menjadi gema yang tak lagi bisa dibendung.
daya itu, pembacaan rubaiyah Hormuz digelar—mengalir bersama napas kata, menyatu dengan detak jiwa para pecinta sastra. Lentera Sastra Banyuwangi hadir, berdampingan dengan beberapa komunitas lain, membentuk lingkar sunyi yang hangat: ruang di mana kata bukan sekadar dibaca, tetapi dihidupi.

Di antara mereka, ada satu perjalanan yang diam-diam ikut dibacakan oleh waktu—perjalanan Reyhan Iftitan Ramadhanu. Jejaknya tidak dimulai dari panggung, melainkan dari halaman-halaman sederhana masa kecil. Pada usia tiga tahun, ketika anak-anak lain masih belajar mengeja dunia, Reyhan telah hafal lagu-lagu campursari karya Manthous dan Didi Kempot. Suaranya kerap diminta oleh tetangga, lalu dibalas dengan suguhan kue—sebuah panggung kecil yang mengajarinya bahwa seni selalu menemukan jalannya sendiri untuk tumbuh.

Kecintaannya pada wayang kulit pun bukan kebetulan. Ia seperti mewarisi ingatan panjang keluarganya. Nama-nama tokoh pewayangan, alur lakon, hingga karakter para ksatria telah akrab di kepalanya sejak belia. Pernah suatu ketika ia dibawa ke para pengrajin wayang di Solo dan Yogyakarta; saat ditanya tentang tokoh-tokoh pewayangan, jawabannya mengalir begitu saja—tepat dan meyakinkan—membuat para pengrajin tertegun. Barangkali di sanalah terlihat bahwa kecintaan itu bukan sekadar hobi, melainkan garis yang ditarik dari ibunya, dari kakeknya yang bergiat dalam kesenian Topeng Dalang Pamekasan.

Memasuki bangku sekolah dasar di SD Muhammadiyah 9, bakatnya menemukan bentuk lain. Ia menjuarai lomba Pildacil dua tahun berturut-turut di tingkat kabupaten. Lalu di SMP Muhammadiyah 1 Genteng, langkahnya semakin luas. Ia mengikuti berbagai lomba—dari perjuangan rakyat Banyuwangi hingga lomba bercerita—dan kembali menorehkan prestasi. Namun yang lebih penting dari piala-piala itu adalah pilihannya untuk selalu membawa Banyuwangi dalam setiap cerita. Ia menghidupkan Tari Gandrung, menuturkan legenda Kalelawar Merah di Pulau Merah, hingga merangkai kisah Alas Purwo—semuanya dipadukan dengan alat musik tradisional yang ia mainkan sendiri, seakan ia sedang merawat tanah kelahirannya melalui bunyi dan kata.

Darah seni itu juga mengalir dari garis yang lebih jauh—dari buyutnya, R. P. Moh. Nur, seorang tokoh besar yang pernah memperkenalkan Indonesia hingga ke mancanegara. Dari sana, mungkin Reyhan belajar bahwa berkesenian bukan hanya tentang tampil, tetapi tentang membawa identitas dan kebanggaan.

Langkahnya kemudian mempertemukannya dengan banyak tokoh. Ia pernah bermimpi bertemu Bupati Banyuwangi, dan semesta mengabulkannya. Ia berjumpa dengan Ipuk Fiestiandani dalam sebuah acara kesenian, diperkenalkan oleh Kepala Dinas Pendidikan, dan sejak itu mulai sering terlibat dalam berbagai kegiatan budaya daerah. Ia juga bersua dengan para seniman dan budayawan, dari nama-nama lokal hingga sosok seperti Sujiwo Tejo, dalam forum-forum seperti Jagong Budaya yang memperkaya pandangannya tentang seni dan kehidupan.

Jejak itu kian lengkap dengan latar keluarga yang juga hidup dalam dunia seni—ibunya yang lama bergiat di teater, berpuisi, berdeklamasi, hingga bersentuhan dengan lingkaran seniman seperti D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib, dan W. S. Rendra. Maka tidak mengherankan jika Reyhan tumbuh bukan hanya sebagai pelaku seni, tetapi sebagai anak yang hidup di dalamnya.

Kini, sore di Langgar Art itu seperti sebuah simpul. Ketika rubaiyah dibacakan, sesungguhnya yang hadir bukan hanya puisi-puisi dari jauh, tetapi juga perjalanan-perjalanan sunyi yang telah ditempuh. Reyhan, bersama Lentera Sastra dan komunitas lainnya, tidak sekadar hadir sebagai peserta. Ia adalah bagian dari cerita itu sendiri—sebuah kisah tentang bagaimana seni menemukan rumahnya dalam diri seseorang, lalu perlahan menuntunnya kembali ke panggung yang lebih luas.

Dan mungkin, di antara bait-bait yang dibacakan sore itu, ada satu yang diam-diam ditulis oleh waktu: bahwa setiap perjalanan seni selalu berawal dari hal kecil—dari suara anak kecil yang bernyanyi demi sepotong kue—lalu tumbuh menjadi gema yang tak lagi bisa dibendung.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *