Lentera Sastra Banyuwangi

Di Ambang 1 Suro, Keris-Keris Tua Kembali Bertutur di Banyuwangi

Para Tokoh Seni Budaya Banyuwangi Hadiri Jamasan

BANYUWANGI (Lentera Sastra) Menjelang datangnya malam 1 Suro, ketika pergantian tahun dalam penanggalan Jawa dipandang sebagai saat yang hening untuk menata batin, bilah-bilah keris tua kembali “berbicara”. Di Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, aroma bunga setaman, air jamasan, dan jejak sejarah menyatu dalam Gelar Budaya Keris 2026 yang digelar Paguyuban Panji Blambangan, Rabu (17/6/2026).

Suasana menjadi semakin hidup ketika sejumlah tokoh seni dan budaya Banyuwangi berkumpul dalam satu ruang yang sama. Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri, Punjul Ismu Wardoyo dari Padepokan Alang-Alang Kumitir, penyair Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, Aekanu Hariyono dari Kiling Osing Banyuwangi, penyanyi sekaligus pencipta lagu Osing Yons DD, hingga budayawan sepuh Ki Pramoe Karno Sakti hadir menyaksikan pusaka-pusaka leluhur kembali dimandikan sebagai bentuk penghormatan kepada perjalanan sejarah.

Di hadapan mereka, KRT Ilham Triadi Nagoro, kurator pusaka nasional sekaligus asesor keris bersertifikat BNSP, memimpin prosesi jamasan. Baginya, air yang mengalir di atas bilah keris bukan sekadar membersihkan karat yang melekat, melainkan juga menjadi perlambang ikhtiar manusia untuk membersihkan hati memasuki lembaran tahun yang baru.

“Bulan Suro dipilih karena merupakan momentum awal tahun baru yang baik untuk memulai segala sesuatu dengan energi yang bersih. Jamasan bukan hanya membersihkan fisik pusaka, tetapi juga menjadi pengingat agar manusia membersihkan batin dan memperkuat nilai-nilai kebajikan,” tuturnya.

Selama empat hari pelaksanaan Gelar Budaya Keris 2026, ruang Pelinggihan berubah menjadi semacam lorong waktu. Di sana berjajar keris-keris dari masa Singhasari, Majapahit hingga Blambangan. Setiap bilah seolah menyimpan kisah tentang para empu, kerajaan, peperangan, diplomasi, hingga peradaban yang pernah tumbuh di tanah Nusantara.

Namun Panji Blambangan tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Tradisi ini juga menjadi ruang belajar bagi masyarakat. Pengunjung dapat berkonsultasi mengenai tangguh atau perkiraan usia pusaka, mempelajari teknik perawatan yang benar, hingga mengikuti layanan sertifikasi pusaka dan tosan aji.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa pusaka adalah warisan sejarah yang harus dijaga. Tahun ini kami juga membuka layanan sertifikasi agar nilai historisnya semakin terdokumentasi dengan baik,” kata Ilham.

Ia menegaskan, keris tidak semestinya hanya dipandang dari sisi mistis. Lebih dari itu, keris merupakan karya seni adiluhung yang menyimpan pengetahuan metalurgi, estetika, filosofi, dan identitas kebudayaan bangsa.

“Generasi muda harus tahu bahwa keris bukan sekadar benda tajam, tetapi simbol jati diri dan kedaulatan budaya,” tegasnya.

Pesona tradisi tersebut bahkan melampaui batas negara. Seorang wisatawan asal Prancis, Zoe Couliard, yang kebetulan melintas, menghentikan langkahnya ketika melihat prosesi jamasan berlangsung.

Ia mengaku belum pernah menyaksikan tradisi serupa di negaranya. Kekagumannya tertuju pada bagaimana benda-benda berusia ratusan tahun masih dirawat dengan penuh hormat oleh generasi penerus.

Di Banyuwangi, malam 1 Suro memang bukan sekadar pergantian kalender. Ia adalah perjumpaan antara masa lalu dan masa kini; antara besi yang ditempa para empu dengan tangan-tangan yang hari ini masih setia merawatnya. Di setiap tetes air jamasan, tersimpan pesan bahwa sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung baru, tetapi juga oleh kesediaannya menjaga jejak-jejak lama yang membentuk jati dirinya.

Dan ketika prosesi usai, keris-keris itu kembali diam di warangkanya. Namun sesungguhnya, mereka tidak pernah benar-benar membisu. Mereka terus bertutur kepada siapa saja yang masih bersedia mendengar suara sejarah. (syaf)

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *