BANYUWANGI – Ada cahaya yang tak pernah padam ketika ayat-ayat suci dipelajari dengan hati. Cahaya itu pula yang memenuhi Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Minggu–Senin (21–22/6/2026), saat ratusan ustaz dan ustazah berkumpul dalam Training Al-Qur’an Metode Bil Qolam. Mereka datang bukan sekadar mengikuti pelatihan, melainkan membawa harapan agar setiap huruf Al-Qur’an kelak tumbuh menjadi akhlak dalam diri para santri.
Mereka berasal dari berbagai penjuru Banyuwangi; guru Madrasah Diniyah, pengasuh pondok pesantren, guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), pengajar privat Al-Qur’an, hingga masyarakat umum yang terpanggil untuk mengabdi melalui pendidikan Al-Qur’an. Langkah mereka berbeda, tetapi tujuan mereka sama: mengantarkan generasi muda mencintai Kalamullah dengan bacaan yang benar dan hati yang khusyuk.
Pelatihan menghadirkan Ustadz Abdul Qodir, Wakil Direktur Bil Qolam Pusat Singosari Malang, yang mengajak para peserta memahami bahwa mengajar Al-Qur’an bukan sekadar memindahkan ilmu dari lisan ke lisan, tetapi menanamkan adab, kesabaran, dan keteladanan dari hati ke hati.
Ketua Panitia, H. Moh. Reza Fahlevi Bauzir, S.H., M.M., mengatakan kegiatan tersebut merupakan ikhtiar bersama untuk memperkuat kualitas para guru Al-Qur’an agar memiliki standar pembelajaran yang baik sekaligus mampu melahirkan generasi Qurani.
“Metode Bil Qolam memberi ruang bagi guru untuk mengajar secara praktis, sistematis, dan tetap menyesuaikan kondisi santri. Harapan kami, para peserta mampu menjadi penggerak lahirnya generasi yang membaca Al-Qur’an dengan benar, tartil, dan penuh kecintaan,” ujarnya.
Metode Bil Qolam sendiri merupakan buah pemikiran KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo, pendiri Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang. Dari tangan seorang pendidik yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri kepada Al-Qur’an, lahirlah sebuah metode yang menuntun pembelajar sejak mengenal huruf demi huruf, hingga mampu melantunkan ayat-ayat Allah dengan tajwid yang benar, makhraj yang tepat, dan irama yang indah.
Selama dua hari pelatihan, para peserta mempelajari lima pilar Bil Qolam, pembelajaran jilid 1 hingga jilid 4, praktik Juz Amma dan Al-Qur’an, serta tata kelola administrasi pembelajaran. Semua disusun agar proses belajar tidak hanya berjalan tertib, tetapi juga menghadirkan suasana yang menyenangkan bagi para santri.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Abdul Qodir mengingatkan bahwa keberhasilan mengajar Al-Qur’an tidak hanya ditentukan oleh metode, tetapi juga oleh istiqamah seorang guru.
“Target Bil Qolam adalah dalam satu tahun santri mampu menyelesaikan empat jilid dan Juz Amma. Namun yang lebih penting adalah konsistensi guru menjalankan lima pilar Bil Qolam serta melakukan evaluasi secara berkelanjutan,” tuturnya.
Suasana pelatihan semakin hidup ketika para peserta berbagi pengalaman. Ustadzah Faridah dari TPQ Hidayatul Muttaqin Sragi, Songgon, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada kemampuan anak membaca Al-Qur’an, melainkan membangun kebiasaan mereka untuk terus murojaah di rumah.
Menanggapi hal tersebut, Ustadz Abdul Qodir mengajak para guru memahami dunia anak dengan penuh kasih.
“Anak-anak memang mencintai dunia bermain. Karena itu, guru harus menghadirkan pembelajaran yang kuat dan menyenangkan ketika mereka berada di kelas. Di situlah lima pilar Bil Qolam menemukan maknanya,” jelasnya.
Pengalaman serupa disampaikan Ustadz Maifuri, S.Pd., yang telah menerapkan metode Bil Qolam di beberapa lembaga pendidikan di Banyuwangi. Menurutnya, metode tersebut mampu menumbuhkan kepercayaan diri santri hingga sebagian di antaranya dapat membantu membimbing teman-temannya.
“Ketika seorang santri mulai mengajarkan temannya membaca Al-Qur’an, sesungguhnya ilmu itu sedang berkembang menjadi amal jariyah. Itulah kebahagiaan seorang guru,” ungkapnya.
Peserta lainnya, Ustadz Muhiburrohman, Lc., dari MI Darussalam Kalipuro dan Ustadz Syaifudin dari Pondok Pesantren Ahsanul Muhsinin Panderejo, juga menyampaikan apresiasi atas pelatihan tersebut. Mereka menilai Bil Qolam menghadirkan pembelajaran yang terarah, mudah dipahami, sekaligus mampu membangun semangat santri untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an.
Di balik setiap halaman Bil Qolam, tersimpan cita-cita besar agar Al-Qur’an tidak hanya fasih dibaca, tetapi juga hidup dalam perilaku. Sebab, keberhasilan seorang guru bukan hanya ketika santrinya mampu melafalkan ayat demi ayat, melainkan ketika ayat-ayat itu menjelma menjadi kejujuran, kesantunan, dan kasih sayang dalam kehidupan.
Dari Banyuwangi, ikhtiar itu kembali diteguhkan. Ratusan guru pulang membawa lebih dari sekadar modul pelatihan. Mereka membawa amanah untuk menyalakan cahaya Al-Qur’an di ruang-ruang belajar, di surau-surau kecil, di pesantren, dan di rumah-rumah. Sebab selama masih ada guru yang sabar mengeja huruf demi huruf, selama itu pula cahaya wahyu akan terus menyinari generasi, menerangi jalan umat menuju ridha Allah SWT.
