Di era media sosial, banyak anak muda mengalami krisis yang tidak terlihat. Mereka sehat secara fisik, berpendidikan, memiliki pekerjaan, bahkan dikelilingi keluarga yang mendukung. Namun, di dalam dirinya tumbuh perasaan tertinggal, kurang berhasil, dan tidak cukup berharga.
Penyebabnya sering kali bukan karena mereka gagal, melainkan karena terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain.
Setiap hari kita disuguhi potongan-potongan kehidupan yang tampak sempurna. Ada teman yang baru diterima bekerja di perusahaan impian, ada yang baru membeli rumah, ada yang menikah, ada yang berlibur ke luar negeri, dan ada pula yang meraih penghargaan bergengsi. Semua tampil dalam bingkai foto yang indah dan video yang menarik.
Masalahnya, kita sering membandingkan keseluruhan hidup kita dengan cuplikan terbaik kehidupan orang lain.
Psikolog sosial Jonathan Haidt dalam bukunya The Anxious Generation menjelaskan bahwa media sosial telah menciptakan ruang yang memperbesar perilaku perbandingan sosial, terutama pada generasi muda. Menurut Haidt, paparan terus-menerus terhadap kehidupan orang lain melalui layar ponsel dapat memicu kecemasan, penurunan harga diri, hingga perasaan tidak puas terhadap diri sendiri. Ia menyebut fenomena ini sebagai bagian dari perubahan besar dari “masa kanak-kanak berbasis interaksi nyata” menjadi “masa kanak-kanak berbasis telepon pintar”.
Apa yang disampaikan Haidt sesungguhnya bukan hal baru. Jauh sebelum media sosial hadir, psikolog Leon Festinger melalui Teori Perbandingan Sosial menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk menilai dirinya dengan membandingkan diri kepada orang lain. Bedanya, dahulu pembanding kita hanya tetangga, teman sekolah, atau rekan kerja. Kini, pembanding itu berjumlah jutaan orang dan hadir selama 24 jam dalam genggaman.
Data terbaru dari Pew Research Center menunjukkan bahwa 45 persen remaja mengaku menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial. Sebanyak 27 persen menyatakan media sosial membuat mereka merasa hidup mereka lebih buruk dibanding orang lain, sementara 39 persen merasa kewalahan oleh berbagai drama dan tekanan yang muncul di platform digital.
Fenomena tersebut menjelaskan mengapa banyak anak muda merasa tertinggal padahal sebenarnya sedang bertumbuh. Mereka tidak mengukur kemajuan berdasarkan titik awal hidupnya sendiri, melainkan berdasarkan pencapaian orang lain yang memiliki latar belakang, kesempatan, dan perjalanan berbeda.
Dalam buku Mindset, psikolog Stanford Carol Dweck menjelaskan bahwa individu dengan pola pikir berkembang (growth mindset) lebih fokus pada proses belajar dan peningkatan diri daripada membuktikan diri lebih unggul dibanding orang lain. Mereka memahami bahwa keberhasilan adalah hasil dari proses panjang, bukan perlombaan yang harus dimenangkan setiap saat.
Sayangnya, algoritma media sosial tidak dirancang untuk memperlihatkan proses. Ia lebih menyukai hasil akhir. Yang muncul adalah foto wisuda, bukan malam-malam penuh perjuangan menyelesaikan skripsi. Yang tampil adalah mobil baru, bukan bertahun-tahun menabung. Yang terlihat adalah kesuksesan, bukan kegagalan yang mendahuluinya.
Akibatnya, banyak anak muda terjebak dalam ilusi bahwa orang lain selalu lebih bahagia, lebih sukses, dan lebih cepat mencapai tujuan hidup.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Penelitian dan berbagai survei menunjukkan bahwa media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi, platform digital mampu membuat remaja merasa lebih terhubung dengan teman-temannya dan menjadi ruang untuk mengekspresikan kreativitas. Namun di sisi lain, media sosial juga dapat meningkatkan tekanan sosial, rasa cemas, dan kecenderungan membandingkan diri secara berlebihan.
Karena itu, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukanlah kurangnya kesempatan, melainkan kemampuan menjaga kesehatan mental di tengah banjir informasi dan pencapaian orang lain.
Tidak ada yang salah dengan mengagumi keberhasilan orang lain. Yang berbahaya adalah ketika keberhasilan itu dijadikan alat untuk merendahkan diri sendiri.
Setiap orang memiliki garis start yang berbeda. Ada yang memulai dari keluarga berkecukupan, ada yang memulai dari keterbatasan. Ada yang menemukan jalannya di usia 20 tahun, ada yang baru menemukannya di usia 40 tahun. Hidup bukan lomba lari 100 meter yang ditentukan siapa paling cepat mencapai garis akhir.
Hidup lebih mirip perjalanan panjang yang menguji ketahanan, konsistensi, dan kemampuan untuk terus melangkah.
Maka ketika melihat orang lain melaju lebih cepat, tidak perlu panik. Fokuslah pada pertumbuhan diri sendiri. Bandingkan dirimu hari ini dengan dirimu kemarin, bukan dengan kehidupan orang lain yang hanya terlihat dari layar.
Sebab kebahagiaan sejati lahir ketika seseorang berhenti mengejar validasi dan mulai menghargai perjalanan hidupnya sendiri.
Oleh : Mohamad Soleh Kurniawan, SE / Sekretaris LPPEKIN pada PD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi