BANYUWANGI (Lentera Sastra) Ada kota yang menyambut tamunya dengan papan penunjuk arah, ada pula yang menerima kedatangan dengan keramahan yang terasa seperti pelukan lama. Banyuwangi memilih cara kedua: menyapa wisatawan dengan senyum, tari, dan secangkir kehangatan.
Di tengah libur panjang Iduladha, ketika langkah-langkah perjalanan membawa banyak orang menuju ujung timur Pulau Jawa, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menghadirkan sambutan istimewa bagi para wisatawan yang tiba di stasiun maupun bandara. Sebuah cara sederhana namun hangat untuk mengatakan: selamat datang, rumah kecil ini siap menerima lelah perjalananmu.
Di pintu keluar Stasiun Banyuwangi Kota, para pelancong disambut irama langkah penari Gandrung yang bergerak gemulai, seolah menjadi bahasa pertama Banyuwangi kepada tamunya. Senyum ramah para Jebeng Thulik menyapa, menghadirkan kesan bahwa perjalanan panjang telah sampai pada tempat yang tepat.
Dalam suasana yang terasa akrab itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Banyuwangi, Suratno, turut menyambut wisatawan secara langsung. Dengan tangan hangat penuh penghormatan, ia memasangkan udeng, penutup kepala khas Banyuwangi, kepada salah seorang wisatawan yang baru tiba—sebuah simbol kecil bahwa tamu bukan sekadar pendatang, melainkan bagian dari cerita yang sedang singgah.
Tak berhenti pada sambutan budaya, Pemkab Banyuwangi juga membagikan suvenir, minuman hangat, serta kudapan khas berupa bagiak, makanan tradisional yang seperti ingin berkata bahwa setiap daerah punya rasa yang tak bisa ditemukan di tempat lain.
“Di hari libur long weekend Iduladha ini, kami sengaja menyambut tamu wisatawan yang akan menikmati libur di Banyuwangi. Kami suguhkan minuman lokal untuk menambah experience mereka. Semoga betah dan selalu memilih Banyuwangi untuk menjadi tujuan berlibur,” ujar Suratno.
Kehangatan serupa juga terasa di Bandara Banyuwangi. Wisatawan yang baru menapakkan kaki di tanah Sunrise of Java turut disambut dengan kudapan lokal, sebuah penghormatan sederhana atas pilihan mereka menjadikan Banyuwangi sebagai tujuan perjalanan.
Pilihan itu tampaknya bukan tanpa alasan. Alam Banyuwangi telah lama menjadi semacam panggilan bagi para pencinta perjalanan. Gunung Ijen dengan kawahnya yang agung, rindang magis De Djawatan, beningnya Bangsring Underwater, hingga desir ombak Pulau Merah, seolah menyusun puisi panjang tentang lanskap yang tak selesai dipandangi.
Ramainya arus wisatawan juga tercermin dari tingginya mobilitas penumpang kereta api selama libur Iduladha. Pada Selasa (26/5/2026), Daop 9 Jember mencatat sebanyak 11.924 keberangkatan dan 12.869 kedatangan penumpang, menandai tingginya antusiasme masyarakat menggunakan moda transportasi kereta api.
Manager Hukum dan Humas Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, mengatakan kereta api masih menjadi pilihan masyarakat karena menawarkan perjalanan yang aman, nyaman, dan tepat waktu.
“Mobilitas penumpang pada hari H Iduladha relatif cukup ramai, baik untuk keberangkatan maupun kedatangan. Hal ini menunjukkan kereta api tetap menjadi moda transportasi andalan masyarakat untuk bersilaturahmi maupun berlibur,” kata Cahyo.
Bagi sebagian wisatawan, Banyuwangi bukan sekadar tujuan, melainkan tempat untuk kembali. Seperti yang dirasakan Wibowo Urip, wisatawan asal Yogyakarta, yang sengaja datang untuk menikmati libur panjang kali ini.
Selama berada di Banyuwangi, ia berencana mengunjungi sejumlah destinasi favorit seperti Gunung Ijen, De Djawatan, hingga Bangsring Underwater. Tak lupa, kuliner khas Banyuwangi juga masuk dalam daftar perjalanannya.
“Banyuwangi sangat menarik wisatanya, ini sudah kesekian kalinya saya berlibur di Banyuwangi,” ujarnya.
Dan mungkin benar, Banyuwangi memiliki cara sendiri untuk membuat orang ingin pulang—atau setidaknya, kembali. Sebab di kota yang menyebut dirinya Sunrise of Java ini, setiap kedatangan terasa seperti awal kisah baru, sementara setiap perpisahan diam-diam menyimpan janji untuk berjumpa lagi. (*)
