BANYUWANGI (Lentera Sastra) Langit Banyuwangi pada Jumat Pon, 5 Juni 2026, seolah menjadi saksi bagi ratusan doa yang melangit bersamaan. Di berbagai penjuru kota hingga pelosok desa, pintu-pintu rumah dibuka dengan harapan, masjid-masjid dipenuhi lantunan doa, dan para penghulu menunaikan amanah mulia menyatukan dua insan dalam ikatan yang diridhai Allah SWT.
Hari itu, tercatat 325 pasangan pengantin mengucapkan akad nikah secara serentak di Kabupaten Banyuwangi. Sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan kumpulan kisah cinta yang menemukan muaranya dalam kalimat suci: ijab dan qabul.
Bagi masyarakat Jawa, Jumat Pon dikenal sebagai waktu yang sarat makna. Ia dipercaya sebagai hari yang membawa keberkahan dan kebaikan bagi mereka yang hendak memulai perjalanan rumah tangga. Namun bagi umat Islam, kemuliaan hari itu memiliki dimensi yang lebih dalam. Jumat adalah Sayyidul Ayyam, rajanya hari, saat pintu-pintu rahmat dibuka lebih lebar dan doa-doa lebih mudah menemukan jalannya menuju langit.
Maka tidak mengherankan jika ratusan pasangan memilih hari tersebut untuk menapaki babak baru kehidupan. Mereka datang dengan pakaian terbaik, senyum yang tersimpan di balik rasa haru, dan harapan agar rumah tangga yang dibangun menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Kesibukan luar biasa tampak di berbagai Kantor Urusan Agama (KUA). Para penghulu, staf administrasi, dan petugas pencatat nikah bergerak sejak pagi, memastikan setiap prosesi berjalan dengan tertib dan penuh khidmat. Di antara seluruh wilayah, KUA Rogojampi menjadi yang tersibuk dengan 39 akad nikah dalam satu hari. Disusul KUA Srono yang melayani 28 pasangan, KUA Muncar sebanyak 25 pasangan, serta KUA Singojuruh dengan 23 pasangan.
Di balik angka-angka itu tersimpan wajah-wajah bahagia yang mengawali perjalanan panjang menuju kehidupan keluarga. Sebab pernikahan dalam Islam bukan hanya penyatuan dua insan, melainkan juga penyatuan dua keluarga, dua harapan, dan dua doa yang dipertemukan dalam takdir Allah.
Salah satu prosesi yang menjadi perhatian berlangsung di Kecamatan Srono. Seorang ASN di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melangsungkan akad nikah dalam suasana yang khusyuk dan penuh kehangatan. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, hadir menyampaikan khutbah nikah.
Dengan tutur yang menyejukkan, ia mengingatkan bahwa pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan cinta, melainkan awal dari ibadah yang panjang. Rumah tangga yang kokoh, menurutnya, dibangun bukan hanya oleh cinta, tetapi juga oleh kesabaran, keikhlasan, dan kesediaan untuk saling menguatkan dalam kebaikan.
Prosesi akad nikah tersebut diawasi oleh penghulu KUA Kecamatan Srono, Moh. Fauzan Anshori. Dai yang juga aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan itu menjalankan tugasnya dengan penuh ketelitian, memastikan setiap rukun dan syarat pernikahan terpenuhi sebagaimana tuntunan syariat.
Jumat Pon tahun ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar penanggalan. Ia menjelma menjadi hari ketika ratusan pasangan memilih mengikat janji di hadapan Allah, para saksi, dan keluarga tercinta. Hari ketika ribuan tangan terangkat memohon keberkahan, dan ratusan keluarga baru lahir dengan harapan yang sama: semoga cinta yang dipersatukan di bumi mendapatkan ridha dari langit.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, pemandangan 325 pasangan yang memilih jalan pernikahan menjadi kabar yang menenteramkan. Sebab masih banyak anak-anak bangsa yang percaya bahwa cinta menemukan kemuliaannya ketika diikrarkan dalam akad yang sah, dan kebahagiaan menemukan keberkahannya ketika dimulai dengan menyebut nama Allah.
Pada Jumat Pon itu, Banyuwangi tidak hanya mencatat ratusan pernikahan. Banyuwangi sedang menyaksikan ratusan keluarga baru lahir, membawa harapan agar dari rumah-rumah sederhana mereka kelak tumbuh generasi yang saleh, cinta yang dirawat dengan ibadah, dan keberkahan yang mengalir hingga akhir hayat. (dll)
