Perempuan, Ras Terkuat Di Bumi: Kekuatan yang Memberi, Kekuatan yang Menumbuhkan
Oleh : Syafaat
Tanggal 8 Maret selalu datang seperti embun yang jatuh perlahan di pagi hari. Ia tidak gaduh, tidak pula datang dengan teriakan yang memanggil manusia untuk berhenti sejenak dari kesibukannya. Namun dalam diamnya, hari itu menyentuh banyak hati. Dunia mengenalnya sebagai Hari Perempuan Internasional, sebuah peringatan yang bukan sekadar angka dalam kalender, tetapi sebuah pengingat tentang kekuatan besar yang sering bekerja tanpa sorotan: perempuan.
Tema yang diusung pada tahun ini adalah “Memberi untuk Mendapatkan.” Kalimat itu tampak sederhana, bahkan mungkin terdengar seperti nasihat yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi sebenarnya, kalimat itu menyimpan hukum kehidupan yang sangat tua. Dalam bahasa agama, memberi bukanlah kehilangan. Memberi adalah menanam. Setiap kebaikan yang ditanam dengan niat yang tulus akan tumbuh pada waktunya, meskipun sering kali tidak dalam bentuk yang kita duga.
Perempuan telah lama memahami hukum itu. Mereka memberi waktu tanpa menghitung jamnya. Mereka memberi tenaga tanpa mencatat letihnya. Mereka memberi kesabaran tanpa mengharap pujian. Bahkan mereka memberi doa-doa yang sering tidak terdengar oleh siapa pun selain Tuhan. Doa yang diucapkan dalam kesunyian malam, ketika anak-anak telah tertidur dan rumah menjadi tenang.
Sejarah mencatat bahwa Hari Perempuan Internasional tidak lahir dari ruang yang nyaman. Ia tidak lahir dari meja-meja diskusi yang hangat atau pertemuan-pertemuan resmi yang penuh tata krama. Ia lahir dari jalanan yang dipenuhi suara protes dan tuntutan keadilan. Pada awal abad ke-20, perempuan-perempuan buruh di Amerika dan Eropa mulai berdiri menuntut hak yang selama ini diabaikan.
Pada tahun 1908 di New York, perempuan buruh tekstil turun ke jalan. Mereka memprotes jam kerja yang terlalu panjang, upah yang tidak sepadan, serta kondisi kerja yang jauh dari kata manusiawi. Mereka tidak membawa kekuasaan, tetapi mereka membawa keberanian untuk mengatakan bahwa martabat manusia tidak boleh diperlakukan semurah itu.
Perjuangan itu tidak berhenti di sana. Pada tahun 1917, perempuan-perempuan Rusia kembali turun ke jalan menuntut roti dan perdamaian. Dunia saat itu dilanda kekacauan perang dan kelaparan. Dari suara perempuan-perempuan itulah sebuah gelombang perubahan besar lahir, yang kemudian dikenal sebagai bagian dari Revolusi Rusia. Sejak saat itu, suara perempuan tidak lagi dipandang sebagai suara kecil dari ruang dapur semata.
Pengakuan dunia kemudian datang secara resmi. Pada tahun 1975, Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai merayakan Hari Perempuan Internasional sebagai bagian dari upaya global untuk memperjuangkan kesetaraan. Dua tahun kemudian, pada 1977, peringatan ini ditetapkan sebagai momentum tahunan dunia. Sejak saat itu, tanggal 8 Maret menjadi hari ketika dunia mengingat perjuangan perempuan dalam perjalanan peradaban manusia.
Namun sebenarnya, jauh sebelum dunia modern memberi pengakuan, agama telah lebih dahulu menempatkan perempuan dalam posisi yang mulia. Dalam Islam, terdapat sebuah kisah sederhana namun penuh makna ketika seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang siapa yang paling berhak dihormati dalam hidup.
Nabi menjawab dengan satu kata yang diulang tiga kali: ibumu. Ketika pertanyaan itu kembali diajukan, Nabi tetap menjawab dengan kata yang sama: ibumu. Barulah pada jawaban keempat Nabi menyebut ayahmu. Pengulangan itu bukan sekadar gaya bahasa, melainkan penegasan bahwa perempuan—dalam wujud seorang ibu, adalah sumber dari banyak kebaikan yang tumbuh di bumi.
Perempuan dalam Al-Qur’an tidak hanya hadir sebagai bagian dari kisah, tetapi sebagai sumber pelajaran moral, spiritual, dan kemanusiaan. Kitab suci ini tidak menempatkan perempuan sekadar sebagai pelengkap sejarah, melainkan sebagai tokoh yang memiliki keteguhan iman, kecerdasan, keberanian, bahkan kepemimpinan. Dalam banyak ayat, perempuan tampil sebagai teladan yang mengajarkan manusia tentang kesabaran, kesucian hati, dan keteguhan dalam menghadapi ujian hidup.
Salah satu perempuan yang paling dimuliakan dalam Al-Qur’an adalah Maryam. Namanya bahkan dijadikan nama satu surah, yaitu Surah Maryam. Ia digambarkan sebagai perempuan yang menjaga kesucian dirinya dan dipilih oleh Tuhan untuk mengandung Nabi Isa tanpa seorang ayah. Kisah Maryam bukan hanya tentang mukjizat kelahiran, tetapi tentang keteguhan hati seorang perempuan yang menghadapi tuduhan, kesepian, dan penderitaan dengan keimanan yang luar biasa. Dalam kesunyian itu, Maryam menunjukkan bahwa kekuatan perempuan sering kali lahir dari hubungan batin yang sangat dekat dengan Tuhan.
Al-Qur’an juga menghadirkan sosok perempuan agung dalam keluarga para nabi. Salah satunya adalah Asiyah binti Muzahim, istri dari Firaun. Meski hidup di istana seorang penguasa zalim, Asiyah tetap memelihara iman kepada Tuhan dan melindungi bayi Musa yang kelak menjadi nabi. Dalam tradisi Islam, ia dipandang sebagai contoh perempuan yang mampu menjaga iman di tengah kekuasaan yang menindas. Kisahnya mengajarkan bahwa keimanan tidak selalu lahir dari lingkungan yang saleh, tetapi dari keberanian hati untuk memilih kebenaran.
Dalam kisah lain, Al-Qur’an juga menampilkan perempuan sebagai pemimpin yang bijaksana melalui tokoh Bilqis, ratu negeri Saba. Ceritanya terdapat dalam Surah An-Naml. Bilqis digambarkan sebagai penguasa yang cerdas dan mampu mempertimbangkan keputusan politik dengan matang. Ketika menerima surat dari Nabi Sulaiman, ia tidak tergesa-gesa mengambil keputusan perang. Ia justru bermusyawarah dengan para pembesarnya sebelum akhirnya memilih jalan kebijaksanaan. Dari kisah ini, Al-Qur’an menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan bukanlah sesuatu yang asing dalam sejarah peradaban. Selain itu, Al-Qur’an juga menyebut perempuan sebagai sumber keteguhan keluarga dan masyarakat. Dalam banyak ayat, perempuan digambarkan sebagai pasangan yang diciptakan untuk menumbuhkan sakinah, ketenangan hidup manusia. Pernikahan dalam Islam bukan hanya ikatan sosial, tetapi ruang spiritual di mana laki-laki dan perempuan saling melengkapi dalam perjalanan menuju kebaikan.
Ada pula kisah perempuan yang menjadi peringatan moral bagi manusia. Misalnya istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai contoh bahwa kedekatan dengan orang saleh tidak otomatis menjamin keselamatan jika seseorang sendiri tidak menjaga imannya. Kisah ini menegaskan bahwa dalam pandangan Al-Qur’an, tanggung jawab spiritual bersifat personal—laki-laki dan perempuan sama-sama memikulnya.
Di Indonesia, ada sebuah ungkapan yang sering muncul di media sosial dengan nada bercanda: “emak-emak adalah ras terkuat di bumi.” Banyak orang menertawakannya, menjadikannya bahan humor dan meme yang beredar luas. Namun di balik candaan itu, tersimpan pengakuan sosial yang sangat jujur tentang ketangguhan perempuan. Seorang ibu sering menjalani berbagai peran sekaligus dalam satu waktu. Ia bisa memasak sambil mengawasi anak belajar. Ia bisa mengurus rumah tangga sambil mengatur keuangan keluarga. Ia bahkan dapat bekerja di luar rumah, tetapi tetap menjadi pusat kehangatan ketika semua anggota keluarga pulang. Dalam banyak situasi kecil sehari-hari, ibu-ibu juga sering menjadi orang yang berani menegur ketika melihat ketidakadilan. Di pasar, di jalan raya, atau di tempat umum, tidak jarang kita melihat ibu-ibu yang berani mengingatkan orang yang menyerobot antrean atau melanggar aturan. Keberanian itu lahir bukan dari kekuasaan, tetapi dari rasa tanggung jawab untuk menjaga keteraturan hidup.
Dalam kisah-kisah besar peradaban manusia, perempuan juga sering menjadi titik api yang memicu perubahan besar. Dalam epos Mahabharata misalnya, terdapat sosok perempuan bernama Drupadi. Ia bukan sekadar istri dari lima Pandawa, tetapi simbol dari martabat perempuan yang tidak mau diinjak-injak. Ketika ia dipermalukan di istana Hastinapura oleh Dursasana, Drupadi mengucapkan sumpah yang mengguncang sejarah. Ia bersumpah tidak akan mengikat rambutnya sebelum rambut itu dikeramas dengan darah orang yang telah menghina dirinya. Sumpah itu bukan sekadar amarah pribadi, melainkan sebuah pernyataan bahwa kehormatan manusia tidak boleh direndahkan. Peristiwa itu kemudian menjadi api moral yang membakar semangat Pandawa untuk melawan ketidakadilan. Dalam banyak tafsir budaya, perang besar Baratayudha tidak hanya dipicu oleh perebutan kekuasaan, tetapi juga oleh martabat seorang perempuan yang dipermalukan.
Drupadi hidup bersama lima Pandawa yang masing-masing melambangkan karakter manusia. Yudhistira melambangkan kebijaksanaan dan kesabaran. Bima melambangkan keberanian dan ketegasan. Arjuna melambangkan kecerdasan dan ketekunan. Nakula melambangkan kesetiaan dan keindahan budi. Sadewa melambangkan pengetahuan dan kemampuan diplomasi. Namun semua karakter itu menemukan arah ketika mereka memiliki tujuan moral yang jelas. Dan sering kali tujuan moral itu lahir dari suara perempuan yang menuntut keadilan. Dalam kehidupan sehari-hari pun hal yang sama sering terjadi. Di banyak rumah tangga, perempuan menjadi kompas moral yang menjaga arah kehidupan keluarga.
Tema “Memberi untuk Mendapatkan” sebenarnya adalah pelajaran spiritual yang sangat dalam. Dalam agama, memberi adalah rahasia keberkahan. Sedekah tidak membuat harta manusia berkurang. Sebaliknya, ia membuka pintu-pintu rezeki yang sering tidak terlihat oleh mata manusia. Perempuan telah lama menjalankan prinsip itu dalam kehidupan sehari-hari. Seorang ibu memberi makan anaknya tanpa menghitung. Seorang istri memberi dukungan kepada suaminya tanpa menuntut pujian. Seorang perempuan bekerja keras untuk keluarganya tanpa selalu mendapatkan pengakuan dari dunia. Dari tangan-tangan yang memberi itulah generasi baru lahir. Dari kesabaran mereka tumbuh karakter manusia. Dari doa-doa mereka lahir harapan bagi masa depan. Karena itu perempuan bukan sekadar bagian dari sejarah. Mereka adalah penanam masa depan.
Hari Perempuan Internasional seharusnya tidak berhenti pada ucapan di media sosial. Ia harus menjadi pengingat bahwa dunia masih membutuhkan keadilan yang lebih luas bagi perempuan. Perlindungan terhadap pekerja rumah tangga, kesempatan pendidikan yang setara, ruang kerja yang adil, serta penghormatan terhadap martabat perempuan adalah bagian dari tanggung jawab bersama. Lebih dari itu, hari ini juga mengingatkan manusia untuk menghargai perempuan yang hidup di sekitar mereka. Ibu yang mungkin tidak pernah meminta hadiah. Istri yang tetap tersenyum meskipun kelelahan. Saudara perempuan yang diam-diam menjaga keharmonisan keluarga. Guru perempuan yang menanamkan ilmu kepada generasi muda. Mereka mungkin tidak selalu berdiri di panggung sejarah. Nama mereka tidak selalu tercatat dalam buku-buku besar peradaban. Tetapi tanpa mereka, sejarah tidak akan pernah bergerak.
Pada akhirnya, dunia akan selalu maju karena ada perempuan yang terus memberi. Mereka memberi cinta, memberi keberanian, memberi kesabaran, dan memberi kehidupan. Seperti hukum Tuhan yang selalu bekerja dalam sunyi, setiap pemberian itu suatu hari akan kembali dalam bentuk yang lebih besar. Ia kembali dalam keluarga yang kuat, masyarakat yang beradab, dan dunia yang lebih manusiawi. Karena itu mungkin benar apa yang sering dikatakan masyarakat dengan nada bercanda: emak-emak adalah ras terkuat di bumi. Bukan karena mereka paling keras. Bukan karena mereka paling berkuasa. Tetapi karena mereka adalah manusia yang mampu memberi tanpa pernah berhenti mencintai.
