Saatnya Masjid Ramah
oleh : Mohamad Soleh Kurniawan, SE
Pengurus LPPEKIN DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi
Hari ini, Sabtu 14 Maret 2026, kita telah memasuki malam ke-25 Ramadhan. Dalam tradisi umat Islam, fase akhir Ramadhan selalu menjadi momentum memperkuat ibadah sekaligus memperluas kepedulian sosial. Di saat yang sama, masyarakat Indonesia juga tengah bersiap menghadapi sebuah peristiwa tahunan berskala besar: mudik. Pergerakan manusia dari kota menuju kampung halaman bukan sekadar perjalanan keluarga, melainkan fenomena sosial, budaya, sekaligus ekonomi yang sangat besar dampaknya.
Bagi daerah seperti Kabupaten Banyuwangi, mudik bukan hanya tentang warga pulang kampung. Mudik juga menjadi momentum kunjungan wisata yang membawa perputaran ekonomi daerah. Karena itu, sudah saatnya seluruh elemen masyarakat—terutama takmir masjid dan remaja masjid—mengambil peran aktif menjadikan masjid sebagai ruang yang ramah bagi para musafir.
Sejak dahulu, masjid bukan sekadar tempat ibadah ritual. Dalam sejarah Islam, masjid adalah tempat persinggahan, pusat solidaritas, bahkan ruang pelayanan sosial. Spirit inilah yang perlu dihidupkan kembali hari ini. Ketika ribuan bahkan jutaan orang melintas menuju Banyuwangi, masjid dapat menjadi oase bagi para pemudik: tempat beristirahat sejenak, menunaikan salat, atau sekadar melepas lelah setelah perjalanan panjang.
Keramahan takmir masjid kepada musafir bukan sekadar soal membuka pintu. Ia bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk sederhana namun bermakna: memastikan kebersihan tempat wudu, menyediakan air minum, menjaga kenyamanan lingkungan masjid, hingga menghadirkan sikap ramah kepada siapa pun yang singgah. Dalam hal ini, remaja masjid memiliki peran penting sebagai garda depan pelayanan sosial tersebut.
Momentum ini menjadi semakin relevan karena Banyuwangi telah lama dikenal sebagai daerah tujuan wisata unggulan. Kabupaten yang dijuluki The Sunrise of Java ini terus menunjukkan pertumbuhan kunjungan wisata yang signifikan. Sepanjang tahun 2025, tercatat 3,7 juta kunjungan wisatawan datang ke Banyuwangi. Dari jumlah itu, wisatawan domestik mencapai 3.504.204 orang, sementara wisatawan mancanegara sebanyak 166.993 orang. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sekitar 7,25 persen dibanding tahun sebelumnya.
Data ini menegaskan satu hal: Banyuwangi memiliki daya tarik yang kuat bagi para pelancong. Mudik yang terjadi menjelang Idul Fitri sering kali juga bertransformasi menjadi perjalanan wisata keluarga. Para pemudik tidak hanya pulang ke rumah, tetapi juga mengajak keluarga mengunjungi berbagai destinasi yang ada di daerah ini.
Potensi tersebut dapat dilihat dari banyaknya destinasi yang menjadi kebanggaan daerah. Di antaranya adalah Pulau Tabuhan yang menawarkan panorama laut yang memukau, lalu Taman Gandrung Terakota yang memadukan seni budaya dengan lanskap alam. Ada pula wisata edukasi seperti Gombengsari Coffee Plantation yang menghadirkan pengalaman memetik kopi langsung dari kebunnya.
Selain itu, wisata bahari seperti Bangsring Underwater juga menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan pecinta laut. Sementara kawasan Pelabuhan Boom Marina kini berkembang menjadi ruang publik yang ramai dikunjungi, terutama saat musim liburan.
Belum lagi potensi kuliner dan oleh-oleh khas Banyuwangi yang selalu menjadi incaran pemudik. Dari jajanan tradisional hingga produk UMKM, semuanya ikut bergerak dalam ekosistem ekonomi lokal. Inilah yang disebut sebagai multiplier effect: satu peristiwa sosial seperti mudik mampu menggerakkan banyak sektor sekaligus—transportasi, kuliner, pariwisata, hingga perdagangan kecil di desa dan kelurahan.
Karena itu, keterlibatan takmir dan remaja masjid dalam menyambut para musafir sebenarnya bukan hanya tindakan sosial keagamaan. Ia juga merupakan kontribusi nyata dalam mendukung penguatan ekonomi masyarakat daerah. Masjid yang ramah akan meninggalkan kesan positif bagi para pemudik maupun wisatawan. Dari kesan baik itulah citra Banyuwangi sebagai daerah yang terbuka, religius, dan bersahabat akan semakin kuat.
Ramadhan yang hampir sampai di penghujungnya ini seharusnya menjadi momentum untuk memperluas makna ibadah. Ibadah tidak hanya diukur dari panjangnya doa atau banyaknya rakaat, tetapi juga dari kepekaan terhadap sesama. Menyambut musafir dengan senyum, mempersilakan mereka beristirahat di masjid, atau membantu menunjukkan arah jalan adalah bagian dari ibadah sosial yang sangat bernilai.
Jika semangat ini benar-benar dihidupkan oleh para takmir dan remaja masjid di seluruh Banyuwangi, maka mudik tahun ini tidak hanya menjadi arus perjalanan manusia. Ia akan menjadi gerakan kolektif keramahtamahan masyarakat. Dan dari situlah, Banyuwangi tidak hanya dikenal sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai daerah yang menjadikan masjid sebagai rumah bagi siapa saja yang datang.
oleh : Mohamad Soleh Kurniawan, SE / Pengurus LPPEKIN DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi
