BANYUWANGI – Sebuah perjalanan hidup yang berangkat dari kesederhanaan dan penuh perjuangan kini diabadikan dalam sebuah karya literasi. Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Banyuwangi, H. Mujiono, S.H., menyerahkan buku berjudul Melampaui Batas Air Tajin: Catatan Perjalanan Anak Dusun Balak Kidul Setengah Abad Menuju Toga Advokat dan Khidmah Masjid kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Selasa (6/10/2026).
Buku tersebut diserahkan langsung oleh H. Mujiono, S.H. kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Dr. Alfian, S.Pd., M.Pd.
Melampaui Batas Air Tajin mengisahkan perjalanan panjang seorang anak dari Dusun Balak Kidul dalam menapaki kehidupan. Berbagai pengalaman, perjuangan, proses pendidikan, hingga perjalanan meraih gelar dan profesi sebagai advokat dituangkan dalam buku tersebut.
Tidak hanya berbicara tentang pencapaian pribadi, buku ini juga merekam perjalanan pengabdian melalui khidmah di masjid dan masyarakat. Penyerahan buku tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi sekaligus menghadirkan karya yang memiliki nilai edukasi dan inspirasi bagi masyarakat Banyuwangi.
Kisah perjalanan yang dituangkan dalam buku tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan latar belakang bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Sebaliknya, keterbatasan dapat menjadi pemantik semangat untuk terus belajar, berjuang, berkarya, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, buku tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu koleksi yang bisa diakses dan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Perjalanan dari sebuah dusun hingga meraih profesi sebagai advokat sekaligus menjalani pengabdian di masjid dan masyarakat menjadi pengalaman yang tidak hanya layak dikenang, tetapi juga dibagikan sebagai sumber inspirasi.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah upaya menumbuhkan budaya membaca dan menulis di kalangan generasi muda. Sebab, sebuah pengalaman hidup dapat menjadi lebih bermakna ketika diabadikan dalam tulisan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Semangat literasi, perjuangan, pendidikan, dan pengabdian menjadi benang merah dalam karya tersebut.
Dari sebuah dusun, lahir perjalanan panjang yang kemudian diabadikan dalam sebuah buku agar dapat dibaca, dikenang, sekaligus menjadi inspirasi bagi siapa pun yang sedang berjuang meraih cita-cita.
“Dari keterbatasan lahir perjuangan, dari perjuangan lahir pencapaian, dan dari pencapaian hendaknya kembali menjadi pengabdian.” (TeamInfokom)