Kegiatan ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan kepengurusan PCNU Banyuwangi sekaligus sarana menyatukan langkah seluruh unsur organisasi dalam menghadapi agenda-agenda berikutnya.
Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi, KH. Fahrudin Manan, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas berbagai tahapan kerja organisasi yang telah dilalui, mulai dari pelantikan pengurus, Musyawarah Kerja (Musyker), hingga turba melalui program NGERANDU NU ke seluruh MWC NU se-Kabupaten Banyuwangi.
Pembentukan lembaga-lembaga di lingkungan PCNU juga menjadi bagian dari ikhtiar membangun perangkat organisasi yang lebih kuat dan siap menjalankan amanah sesuai bidang masing-masing.
Menurutnya, silaturahmi seluruh unsur kepengurusan, mulai dari Mustasyar, A’wan, Syuriyah, Tanfidziyah, lembaga, hingga badan otonom (Banom), perlu terus dirawat. Pertemuan semacam ini penting untuk membangun kesamaan pandangan, memperkuat hubungan antarpengurus, dan memastikan seluruh unsur bergerak dalam semangat khidmah yang sama.
Kebersamaan tersebut juga diarahkan untuk mematangkan program organisasi, terutama dalam menyongsong peringatan Hari Santri Nasional 2026.
Ketua PCNU Dorong Kolaborasi dan Kesinambungan Program
Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, H. Achmad Turmudzi, dalam sambutannya menegaskan bahwa gagasan organisasi harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Pembentukan struktur dan lembaga harus disertai program yang berjalan, koordinasi yang efektif, serta hasil yang dapat dirasakan oleh warga NU dan masyarakat luas.
PCNU Banyuwangi telah menyiapkan 19 lembaga sebagai perangkat pelaksana khidmah di berbagai bidang. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap lembaga mampu menjalankan tugas secara optimal dan membangun kerja sama dengan unsur organisasi lainnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan lembaga eksternal. Menurutnya, keterbukaan untuk bekerja sama akan memperluas jangkauan program NU sekaligus memperkuat kontribusi organisasi dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Untuk menyambungkan berbagai potensi tersebut, PCNU Banyuwangi merencanakan konsolidasi akbar yang melibatkan unsur-unsur organisasi. Konsolidasi ini diharapkan menjadi sarana menyelaraskan program, memperkuat komunikasi, dan menjahit kesinambungan kerja dari tingkat cabang hingga MWC NU dan ranting.
Dengan demikian, organisasi tidak berjalan secara terpisah-pisah, melainkan memiliki arah gerak yang saling mendukung.
Kaderisasi dan Tata Kelola Menjadi Fondasi Kepemimpinan NU
Forum konsolidasi turut membahas penguatan tata kelola organisasi, termasuk mekanisme pemilihan kepemimpinan, persyaratan kaderisasi, dan penyelesaian persoalan internal.
Dalam penjelasan mengenai perubahan ketentuan Peraturan Perkumpulan (Perkum), mekanisme musyawarah untuk mencapai mufakat menjadi pilihan utama dalam pemilihan ketua. Apabila mufakat tidak tercapai, mekanisme pengusulan lima calon kepada Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dapat ditempuh sesuai ketentuan organisasi yang berlaku.
Kaderisasi juga ditekankan sebagai bagian penting dalam mempersiapkan kepemimpinan NU. Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PDPKPNU) di tingkat MWC NU dan ranting, serta Pendidikan Menengah Kader Nahdlatul Ulama (PMKNU) di tingkat PCNU dan jenjang berikutnya, menjadi bagian dari proses pembinaan kader sesuai persyaratan yang ditetapkan.
Sementara itu, penyelesaian persoalan internal perlu ditempuh melalui mekanisme organisasi, termasuk Majelis Tahkim sesuai kewenangannya. Pendekatan ini diharapkan menjaga ketertiban, mencegah persoalan berkembang menjadi konflik berkepanjangan, serta mempertahankan kehormatan jam’iyah.
Apel Kader NU, Agenda Besar Konsolidasi di Jawa Timur
Penguatan kader juga berkaitan dengan rencana Apel Kader Nahdlatul Ulama pada November 2026 yang diproyeksikan melibatkan sekitar 35 ribu kader NU se-Jawa Timur.
Agenda berskala regional ini diharapkan menjadi sarana memperkuat soliditas, meneguhkan komitmen berkhidmah, dan membangun kesamaan gerak kader dalam mengawal perjuangan Nahdlatul Ulama.
Bagi PCNU Banyuwangi, persiapan kegiatan tersebut membutuhkan koordinasi berjenjang, mulai dari PWNU dan PCNU hingga MWC NU dan ranting. Kesiapan kader, kesinambungan pendidikan kader, serta keterlibatan seluruh unsur organisasi menjadi bagian penting dalam menyukseskan agenda tersebut.
Apel kader diharapkan tidak berhenti sebagai pertemuan besar, tetapi menjadi penguat komitmen untuk menghadirkan kerja nyata di tengah masyarakat.

Mustasyar PCNU Ingatkan Tiga Prinsip: Tahu Diri, Tahu Situasi, dan Istikamah
Nasihat penting juga disampaikan Mustasyar PCNU Banyuwangi, KH. Fathullah Suyuti Toha. Ia mengingatkan pentingnya membangun karakter pengurus dan kader melalui tiga prinsip yang sarat pelajaran, yakni tahu diri, tahu situasi, dan istikamah.
Prinsip pertama, Rahimallahu imra’an ‘arafa qadrah nafsihi, yang bermakna semoga Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar dirinya. Pesan ini mengajarkan bahwa setiap orang perlu memahami kapasitas, kedudukan, dan tanggung jawabnya. Dalam organisasi, kesadaran tersebut menjadi dasar untuk menghindari sikap merasa paling benar serta menempatkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan pribadi.
Prinsip kedua, Anzilin nasa manazilahum, yakni menempatkan manusia sesuai kedudukannya. Pesan ini mengandung ajaran untuk menghormati orang lain secara proporsional, menghargai pengalaman, serta memahami peran setiap unsur dalam organisasi. Perbedaan usia, kemampuan, dan tanggung jawab semestinya menjadi kekuatan yang saling melengkapi.
Prinsip ketiga, Qul amantu billahi tsummastaqim, yang bermakna katakanlah, “Aku beriman kepada Allah,” kemudian beristikamahlah. Pesan ini menegaskan bahwa iman dan komitmen harus dibuktikan melalui konsistensi tindakan. Khidmah kepada NU menuntut kesungguhan menjalankan amanah, menjaga akhlak, dan terus berbuat untuk kemaslahatan umat.
Ketiga prinsip tersebut relevan bagi seluruh jajaran NU, mulai dari tingkat cabang hingga ranting. Kekuatan organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh kelengkapan struktur, tetapi juga oleh kedewasaan pengurus dalam bersikap, kemampuan menghargai sesama, dan keteguhan menjalankan tanggung jawab.
Khittah NU Harus Menjadi Kompas Perjuangan
Dalam konteks penguatan organisasi, penegasan Khittah Nahdlatul Ulama menjadi pesan yang tidak kalah penting. NU harus tetap berpegang pada jati dirinya sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang mengabdikan diri pada bidang keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan kemaslahatan masyarakat.
Khittah NU harus menjadi pedoman agar organisasi tidak kehilangan orientasi karena tarikan kepentingan politik praktis. Setiap warga NU memiliki hak politik sebagai warga negara, tetapi kepentingan politik pribadi maupun kelompok perlu dibedakan secara tegas dari kepentingan organisasi.
NU harus tetap mampu merangkul masyarakat dari berbagai latar belakang dan pilihan politik. Pada saat yang sama, NU tetap memiliki peran dalam kehidupan kebangsaan melalui pandangan moral, perjuangan keadilan, serta pembelaan terhadap kepentingan masyarakat.
Menjaga jarak dari politik praktis bukan berarti menjauh dari persoalan bangsa. Sebaliknya, NU perlu menjaga independensi agar dapat menjalankan fungsi keagamaan dan sosial secara luas tanpa terikat pada kepentingan politik sesaat.
Karena itu, jabatan dalam NU harus dipahami sebagai amanah untuk berkhidmah, bukan sebagai sarana membangun pengaruh politik pribadi. Kedewasaan dalam berorganisasi menuntut setiap pengurus untuk mendahulukan kepentingan jam’iyah, menjaga persatuan jamaah, dan menjadikan Khittah NU sebagai kompas dalam mengambil sikap.
Memperkuat Organisasi, Meneguhkan Khidmah
Tasyakuran, silaturahmi, dan konsolidasi PCNU Banyuwangi di Pondok Pesantren Minhajut Tullab, Muncar, menjadi ruang untuk mempertemukan rasa syukur, evaluasi, dan peneguhan komitmen bersama.
Berbagai agenda yang telah dilaksanakan menjadi pijakan untuk memperkuat kerja organisasi ke depan. Pembenahan tata kelola, penguatan kaderisasi, kolaborasi antarlembaga, dan pemeliharaan kebersamaan perlu berjalan secara beriringan.
Pesan tentang tahu diri, tahu situasi, dan istikamah sekaligus mengingatkan bahwa organisasi yang kuat membutuhkan pengurus yang matang secara sikap dan konsisten dalam pengabdian.
Struktur harus bergerak, kaderisasi harus berkelanjutan, kolaborasi harus diperluas, dan Khittah NU harus tetap dijaga. Dengan prinsip tersebut, PCNU Banyuwangi diharapkan semakin kokoh menjalankan amanah jam’iyah serta menghadirkan manfaat nyata bagi jamaah dan masyarakat luas.(HK)
