BANYUWANGI — Upaya merawat identitas dan jati diri Banyuwangi di tengah derasnya perubahan zaman menjadi perhatian berbagai kalangan. Hal itu salah satunya terlihat dalam Sarasehan Budaya bertajuk “Mencari Jati Diri Banyuwangi” yang digelar Komunitas Pemerhati Budaya Banyuwangi di Pelinggihan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (29/8/2026).
Ketua DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi, H. Mujiono, SH, turut hadir dalam forum yang mempertemukan para budayawan, pemerhati sosial, pegiat literasi, akademisi, pelajar, dan sejumlah komunitas tersebut. Bagi H. Mujiono, pembicaraan mengenai jati diri Banyuwangi menjadi penting karena budaya tidak hanya berbicara tentang kesenian dan tradisi, tetapi juga menyangkut karakter masyarakat, nilai-nilai kehidupan, sejarah, serta kearifan lokal yang membentuk identitas suatu daerah.
Keikutsertaan Ketua DPD BKPRMI Banyuwangi dalam sarasehan tersebut sekaligus menjadi bagian dari perhatian organisasi terhadap persoalan generasi muda dan kebudayaan. Sebagai organisasi kepemudaan dan dakwah, BKPRMI memiliki ruang strategis untuk ikut menanamkan nilai-nilai positif kepada generasi muda, termasuk kecintaan terhadap budaya dan kearifan lokal.
Lintas Perspektif Membahas Jati Diri Banyuwangi
Sarasehan menghadirkan empat narasumber utama dengan latar belakang dan perspektif yang berbeda. Mereka adalah KRT. H. Ilham Triadi Nagoro, M.Pd., budayawan; Amir Ma’ruf Khan, pengamat sosial; Budi Kartiyoko, filosof muda; serta Alex Budi Setiyawan, SH., MH., pegiat literasi. Diskusi dipandu Moh Husen, yang juga merupakan pengurus DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi.
Kehadiran para narasumber dari berbagai disiplin tersebut membuat pembahasan mengenai “Mencari Jati Diri Banyuwangi” tidak berhenti pada persoalan seni dan tradisi semata. Identitas Banyuwangi dikaji dari aspek budaya, sosial, filosofi, hingga literasi.
Forum tersebut menjadi ruang bertukar gagasan tentang bagaimana nilai-nilai lokal tetap dapat dipertahankan sekaligus dikembangkan agar mampu menjawab tantangan masyarakat Banyuwangi di masa kini.
Hadirkan Beragam Elemen Pemerhati Budaya
Sarasehan juga dihadiri sejumlah tokoh dan elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan Banyuwangi. Di antaranya perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi, Drs. Hasan Basri selaku Ketua DKB Banyuwangi, Aguk Wahyu Nuryadi selaku Ketua Komunitas Gotong Royong Banyuwangi, serta Eko Budi Setianto atau yang lebih dikenal dengan panggilan Budi Osing, sastrawan dan budayawan Banyuwangi.
Perwakilan dari SMAN 1 Banyuwangi dan MAN 1 Banyuwangi juga turut hadir bersama sejumlah penggiat dan pemerhati budaya Banyuwangi. Keterlibatan kalangan pelajar dalam forum tersebut menjadi penting. Sebab, keberlangsungan budaya tidak hanya ditentukan oleh generasi yang saat ini menjadi pelaku dan pemerhati budaya, tetapi juga oleh kemampuan mentransformasikan pengetahuan dan nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Budaya dan Generasi Muda
Dalam konteks tersebut, kehadiran BKPRMI menjadi relevan. Generasi muda merupakan salah satu kelompok yang berhadapan langsung dengan perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang begitu cepat. Kemajuan zaman tidak harus dimaknai sebagai alasan untuk meninggalkan akar budaya. Sebaliknya, nilai-nilai lokal dapat menjadi fondasi karakter generasi muda agar tetap memiliki identitas di tengah keterbukaan informasi dan pergaulan global.
Sarasehan “Mencari Jati Diri Banyuwangi” pada akhirnya bukan sekadar forum untuk mengenang masa lalu. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali nilai-nilai yang membentuk Banyuwangi sekaligus memikirkan bagaimana budaya tersebut dapat terus hidup dan berkembang.
Kehadiran H. Mujiono bersama berbagai elemen pemerhati budaya di forum tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun kesadaran bersama bahwa menjaga jati diri Banyuwangi merupakan tanggung jawab lintas generasi.
Dengan dialog dan kolaborasi antara budayawan, pemerintah, komunitas, organisasi kepemudaan, lembaga pendidikan, serta masyarakat, kekayaan budaya Banyuwangi diharapkan tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga menjadi kekuatan untuk membangun karakter masyarakat dan generasi muda Banyuwangi di masa depan.