Lentera Sastra Banyuwangi
4 Juni 2026

Ketika Nada Menyulam Jejak Perang Bayu, DKB Matangkan Musik Pengiring BEC 2026

BANYUWANGI (Lentera Sastra) Nada-nada perjuangan mulai dirangkai jauh sebelum panggung Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 digelar. Di antara semilir angin sore dan riuh kreativitas para seniman, sejarah panjang tanah Blambangan perlahan diterjemahkan ke dalam komposisi musik yang kelak akan mengiringi langkah para peserta karnaval budaya terbesar di Banyuwangi.

Persiapan pelaksanaan BEC 2026 terus dimatangkan. Salah satu tahapan penting dilakukan melalui presentasi tim musik yang akan mengiringi pertunjukan BEC tahun depan yang mengusung tema “The Great War of Blambangan (Perang Bayu)”. Kegiatan tersebut berlangsung di halaman belakang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Selasa (2/6/2026).

Presentasi itu dihadiri secara lengkap oleh jajaran pengurus Dewan Kesenian Blambangan (DKB). Kehadiran para budayawan dan pegiat seni tersebut bertujuan memberikan masukan, evaluasi, serta penyempurnaan terhadap komposisi musik yang akan menjadi elemen penting dalam pertunjukan BEC 2026.

Budayawan DKB, Aekanu Haryono, menegaskan bahwa pengangkatan tema Perang Bayu harus dibangun di atas pemahaman sejarah yang kuat. Menurutnya, perang rakyat Blambangan melawan VOC merupakan bagian penting dari identitas sejarah Banyuwangi yang tidak dapat dipisahkan dari narasi budaya daerah.

“Kita tidak bisa lepas dari sejarah. Karena itu, pertunjukan yang mengangkat Perang Bayu harus benar-benar menyentuh makna yang sebenarnya, sehingga pesan perjuangan yang terkandung di dalamnya dapat tersampaikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai, musik yang menjadi pengiring pertunjukan tidak sekadar berfungsi sebagai pelengkap artistik, melainkan juga harus mampu menghadirkan suasana perjuangan, ketegangan, dan semangat perlawanan yang menjadi ruh dari Perang Bayu.

Pandangan serupa disampaikan Samsudin Adlawi. Menurutnya, Banyuwangi Ethno Carnival telah berkembang menjadi ikon budaya yang tidak hanya dikenal secara nasional, tetapi juga menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan masyarakat setiap tahunnya.

“BEC merupakan etalase budaya Banyuwangi. Berbagai kekayaan budaya daerah ditampilkan melalui ajang ini. Ketika tema yang diangkat adalah Perang Bayu, maka yang ditampilkan bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga narasi tentang perjuangan rakyat Banyuwangi melawan VOC. Semangat perjuangan itulah yang perlu terus diingatkan kepada generasi sekarang,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, menekankan pentingnya inovasi dan penyempurnaan dalam setiap penyelenggaraan BEC. Menurutnya, festival budaya tersebut harus terus berkembang agar tetap relevan dan mampu mempertahankan daya tariknya di tengah dinamika perkembangan seni pertunjukan.

“Perkembangan BEC harus semakin baik setiap tahunnya. Perubahan-perubahan yang dilakukan harus membawa kemajuan yang bisa dirasakan dan dilihat masyarakat. Jika tidak ada perkembangan, bukan tidak mungkin suatu saat festival ini akan ditinggalkan,” ujarnya.

Presentasi musik tersebut menjadi bagian strategis dalam rangkaian persiapan BEC 2026. Selain kostum dan koreografi, musik memiliki peran penting dalam membangun atmosfer pertunjukan sekaligus memperkuat pesan yang ingin disampaikan melalui tema yang diangkat.

Komposisi musik yang dipresentasikan nantinya juga akan menjadi materi latihan bagi para peserta, sehingga antara proses latihan dan penampilan di panggung utama memiliki keselarasan yang utuh. Oleh karena itu, sebelum digunakan secara resmi, materi musik terlebih dahulu dikaji dan dievaluasi oleh para pengurus DKB guna memperoleh berbagai masukan konstruktif.

Secara umum, komposisi yang dipresentasikan dinilai telah menunjukkan kualitas yang baik dan mendekati sempurna. Meski demikian, sejumlah catatan dan saran tetap diberikan sebagai bagian dari upaya penyempurnaan agar kualitas artistik pertunjukan semakin kuat dan mampu memberikan pengalaman yang berkesan bagi penonton.

Mengangkat tema “The Great War of Blambangan (Perang Bayu)”, BEC 2026 diharapkan tidak hanya menjadi tontonan yang memukau mata, tetapi juga ruang edukasi sejarah yang menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap perjuangan para leluhur Blambangan. Melalui irama, gerak, dan visual yang berpadu di atas panggung, kisah perlawanan itu akan kembali bertutur kepada zaman, mengingatkan bahwa identitas Banyuwangi tumbuh dari keberanian, keteguhan, dan semangat menjaga tanah kelahiran dari segala bentuk penjajahan.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *