Lentera Sastra Banyuwangi

Merawat Kehidupan Sejak Sebelum Akad: Kemenag Banyuwangi dan Yayasan Project HOPE Bekali Calon Pengantin dengan Literasi Kesehatan

BANYUWANGI – Sebuah keluarga tidak hanya dibangun oleh ijab yang terucap dalam satu tarikan napas, tetapi juga oleh pengetahuan yang menghidupi hari-hari setelahnya. Sebelum dua hati dipersatukan dalam ikatan suci, ada ikhtiar untuk menyiapkan tubuh, jiwa, dan harapan agar perjalanan rumah tangga bertumbuh dalam kesehatan dan keberkahan.

Semangat itulah yang mengalir dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Perempuan Dewasa yang diselenggarakan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melalui Seksi Bimbingan Masyarakat Islam di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Rabu (8/7/2026). Sebanyak 26 calon pengantin mengikuti pembinaan yang merupakan buah kolaborasi bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi dan Yayasan Project HOPE Indonesia.

Bagi Kementerian Agama, membimbing calon pengantin bukan sekadar menyiapkan sebuah prosesi pernikahan. Lebih dari itu, pembinaan merupakan ikhtiar menanam benih-benih keluarga yang kelak tumbuh menjadi tempat pertama lahirnya cinta, pendidikan, dan peradaban.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Mastur, mengatakan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kekuatan penting dalam menghadirkan layanan yang lebih utuh bagi masyarakat. Menurutnya, keluarga yang berkualitas tidak hanya dibangun melalui pemahaman agama, tetapi juga melalui kesadaran menjaga kesehatan sejak sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kerja sama Bimas Islam Kemenag Banyuwangi dengan Dinas Kesehatan dan Yayasan Project HOPE. Sebanyak 26 calon pengantin mengikuti pembinaan sebagai bekal membangun keluarga yang sehat dan berkualitas,” ujarnya.

Sementara itu, Project Coordinator Yayasan Project HOPE Indonesia, Flora Theodora Parapat, menjelaskan bahwa Program Her Way hadir untuk mengajak perempuan mengenali, merawat, dan melindungi kesehatan dirinya sejak masa pranikah. Edukasi kesehatan reproduksi, menurutnya, menjadi salah satu jalan untuk menekan risiko kematian ibu sekaligus mempersiapkan lahirnya generasi yang lebih sehat.

Di hadapan para calon pengantin, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., mengingatkan bahwa membangun keluarga adalah membangun masa depan bangsa. Rumah tangga yang kokoh tidak hanya bertumpu pada cinta, tetapi juga pada kesiapan mental, spiritual, dan kesehatan setiap anggotanya.

“Keluarga yang kuat lahir dari ibu yang sehat. Bangsa yang maju berawal dari keluarga yang berkualitas. Karena itu, membangun Indonesia harus dimulai dengan membangun keluarga,” tegasnya.

Ia juga menyinggung tingginya angka perceraian di Banyuwangi sebagai pengingat bahwa pernikahan memerlukan bekal yang lebih dari sekadar kesiapan seremoni. Ketahanan keluarga harus dipupuk melalui pengetahuan, komunikasi, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kesehatan fisik maupun mental.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta memperoleh pembekalan mengenai kesehatan reproduksi, kesehatan perempuan, perencanaan keluarga, serta kesehatan mental dari dr. Eva Damayanti, Sp.OG, psikolog Dhea Dana Mariska, Kepala KUA, dan para Penyuluh Agama Islam. Mereka juga mengikuti screening kesehatan yang difasilitasi Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi sebagai langkah deteksi dini kondisi kesehatan sebelum memasuki gerbang pernikahan.

Di penghujung kegiatan, tersirat sebuah pesan sederhana namun bermakna: pernikahan bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan cinta, melainkan awal dari tanggung jawab untuk saling menjaga. Menjaga kepercayaan, menjaga kesehatan, dan menjaga harapan yang kelak tumbuh dalam pelukan keluarga.

Melalui sinergi antara Kementerian Agama, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, dan Yayasan Project HOPE Indonesia, diharapkan lahir keluarga-keluarga yang tidak hanya sakinah, mawaddah, wa rahmah, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia. Sebab dari keluarga yang dirawat dengan ilmu dan kasih sayang, masa depan bangsa perlahan menemukan cahaya terbaiknya. (syaf)

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *