Banyuwangi – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) se-Kabupaten Banyuwangi menggelar Musyawarah Kerja (Musyker) I di Musholla Al-Ikhlas, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi, Minggu (5/7/2026). Mengusung tema “Meneguhkan Organisasi, Memperkuat Khidmah Dakwah dan Sosial”, forum ini menjadi momentum menyusun arah program kerja organisasi yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat di setiap wilayah.
Hadir mewakili PCNU Banyuwangi, Sekretaris PCNU Banyuwangi H. Bisri Musthofa didampingi dua Wakil Sekretaris, Haikal Kafili dan Reza Abdullah. Kehadiran jajaran sekretariat PCNU sekaligus memberikan penguatan terhadap arah kebijakan organisasi di tingkat MWC.
Dalam iftitahnya, Rais Syuriah MWCNU Banyuwangi, KH. Nurhapipi, mengingatkan seluruh pengurus agar mengelola organisasi dengan niat yang lurus dan semangat mengabdi kepada agama. Beliau mengutip firman Allah SWT, “In tansurullāha yanshurkum wa yutsabbit aqdāmakum” (QS. Muhammad: 7), yang berarti, “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Menurut beliau, ayat tersebut menjadi landasan moral bagi seluruh pengurus NU. Mengelola Nahdlatul Ulama bukan semata-mata menjalankan organisasi, tetapi merupakan ikhtiar menolong agama Allah melalui pelayanan kepada umat, penguatan jam’iyah, serta menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan keikhlasan, istiqamah, dan kerja kolektif, Allah akan memberikan pertolongan, kemudahan, serta keberkahan bagi perjalanan organisasi dan para pengurusnya.
Dalam forum tersebut disampaikan oleh sekretaris PCNU Banyuwangi H. Bisri Musthofa bahwa penyusunan program kerja tidak dapat diseragamkan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Perbedaan karakter masyarakat, pola interaksi, serta aktivitas ekonomi menjadi dasar penyusunan strategi dakwah, pelayanan sosial, dan pemberdayaan yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Masyarakat pedesaan dinilai masih memiliki ruang pertemuan yang kuat melalui yasinan, tahlil, majelis taklim, dan kegiatan sosial keagamaan lainnya. Sementara masyarakat perkotaan memiliki mobilitas tinggi sehingga pendekatan dakwah dan pelayanan perlu dikembangkan melalui komunitas, kegiatan yang lebih ringkas, dan pemanfaatan media digital.

Beliau menegaskan bahwa penguatan organisasi harus dibarengi dengan program yang tepat sasaran sesuai karakter wilayah. Menurutnya, organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu menghadirkan kemanfaatan nyata bagi masyarakat.
Selain menekankan pentingnya akurasi program berdasarkan karakter wilayah, H. Bisri Musthofa juga menyampaikan perlunya membangun kesejahteraan masyarakat melalui penguatan tata kelola LAZISNU. Ia menjelaskan bahwa pengelolaan zakat, infak, dan sedekah harus dilakukan secara terstruktur mulai dari tingkat cabang hingga anak ranting.
Menurutnya, pusat pengelolaan berada di PC LAZISNU, sedangkan di tingkat MWC dan ranting dibentuk UPZIS (Unit Pengumpul Zakat, Infak, dan Sedekah). Adapun di tingkat anak ranting, mushala, maupun masjid dikembangkan JPZIS (Jaringan Pengumpul Zakat, Infak, dan Sedekah).
“Dana zakat, infak, dan sedekah dihimpun secara terpusat di PC LAZISNU. Tujuannya agar aset yang dimiliki semakin besar dan kuat sehingga ketika ada kebutuhan pemberdayaan masyarakat di tingkat MWC maupun ranting, dapat disalurkan secara maksimal dan tepat sasaran,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pola tersebut bukan sekadar sentralisasi penghimpunan dana, melainkan membangun kekuatan ekonomi jamaah secara kolektif sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh warga Nahdliyin.
Pada kesempatan itu, H. Bisri Musthofa juga menekankan pentingnya memperkuat etos serta fanatisme organisasi di seluruh tingkatan kepengurusan. Salah satu langkah strategis yang didorong adalah memastikan seluruh pengurus mengikuti Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PDPKPNU) sebagai bekal ideologi, wawasan ke-NU-an, dan kepemimpinan organisasi.
Ia menyampaikan bahwa MWC NU Banyuwangi berkomitmen mengajukan pelaksanaan PDPKPNU pada bulan ini, sebagai bagian dari upaya mencetak kader-kader penggerak yang memiliki loyalitas, militansi, dan kapasitas dalam menjalankan khidmah Nahdlatul Ulama.
Musyker I MWC NU Banyuwangi dipimpin langsung oleh Ketua MWC NU Banyuwangi Barurrohim, diharapkan menjadi pijakan awal dalam memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan efektivitas pelayanan dakwah dan sosial, memperkokoh kemandirian ekonomi umat melalui LAZISNU, serta menyiapkan kader-kader yang siap menggerakkan organisasi hingga tingkat ranting, anak ranting, mushala, dan masjid. Dengan demikian, tema “Meneguhkan Organisasi, Memperkuat Khidmah Dakwah dan Sosial” benar-benar diwujudkan dalam langkah nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.(HK)
